Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 25: Satu Pertanyaan


Gadis itu, berusaha merendam tubuhnya hanya untuk meredam semua emosinya. Di dalam hati dan pikiran hanya ada berjuta tarian pertanyaan. Benarkah semua yang dia dengar? Apakah mungkin keluarga yang penuh cinta, memiliki rahasia sebesar itu? Masih banyak lagi pertanyaan, namun tak ingin mencari jawabannya.


Aku tidak tahu harus apa. Melihatmu terluka, hatiku terasa sesak. Ingin sekali menjadi sandaranmu, tapi kamu sendiri membangun benteng yang begitu tinggi.~ucap hati Danish yang berdiri di depan pintu menatap ke dalam bath up, dimana istrinya menenggelamkan diri.


Pria itu masih terdiam menyandarkan punggung ke pintu. Entah apa yang ditunggu padahal, Shena istrinya sudah berendam selama sepuluh menit lebih. Apakah, dia tidak tahu jika gadis itu seharusnya menjaga kesehatan.



Baru saja ingin beranjak untuk mendekati bath up. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah seluruh anggota keluarga. Terutama Mama Melati, Papa William dan Mama Quinara. Mereka bertiga terlihat tegang, yah memang suasana rumah seperti tengah berperang.



"Nak, Shena dimana?" tanya Mama Melati yang tak mendapati putrinya di kamar, membuat sang menantu melirik ke kamar mandi.



Sontak saja, wanita paruh baya itu berlari menuju kamar mandi, bahkan melewati Danish tanpa permisi. Ketika tatapan matanya terpatri pada bathup, hatinya terasa sakit. Dia tahu, gadis itu tengah berduka dan mencoba meredam amarah.



"Berikan kami waktu berdua." Ucap Mama Melati tanpa menoleh ke belakang, tapi Danish paham dan menggeser posisinya seraya menarik pintu untuk ditutupnya.



Papa William terlihat begitu gusar dengan wajah pucat, bahkan tubuh pria itu berguncang menahan tekanan yang pasti mengubah seluruh emosinya, sedangkan Mama Quinara memilih untuk duduk di sofa menunggu. Lagi pula, tidak ada yang bisa dilakukan selain mencoba untuk memahami keadaan.



Danish berjalan menghampiri papa mertuanya. Diusapnya bahu pria itu hanya untuk memberikan kekuatan dan semangat. "Pa, duduklah. Semua akan baik-baik saja."



"Tidak akan ada yang baik, Nak." Sergah Papa William menatap kosong pintu kamar mandi yang tertutup, "Dulu, kami pikir hal ini tidak akan terjadi. Kemarahan, kekecewaan dan keraguan yang terpancar dari mata putriku. Semua yang menjadi ketakutan ku ....,"



Curahan hati yang dilakukan Papa William, membuat Danish mencoba mendengarkan dengan baik. Tentu tanpa ingin mengabaikan satu kata yang tertinggal, sedangkan di dalam kamar mandi. Mama Melati membangunkan Shena agar mau keluar dari bath up.



Kedua wanita beda usia saling menatap satu sama lain. Jika mata bisa berbicara. Sudah pasti semua rahasia dari hati terungkap tanpa harus berkata panjang kali lebar. Beberapa pertanyaan, hanya menjadi angan, tetapi setiap insan yang bernyawa pasti ingin tahu, siapa diri mereka.



Mama Melati mengusap pipi putri tercintanya. Tatapan mata yang lembut memancarkan kehangatan. "Shena, Mama tidak memiliki banyak kata untuk menjelaskan, tapi orang tuamu adalah kami. Mama dan Papa mu yang selama ini memberikan kasih sayang dan perlindungan."




"Ma, sejak kecil hingga kemarin. Shena berusaha untuk menjadi putri yang baik dan penurut. Kalian adalah contoh orang tua yang hebat. Dimana kebebasan kalian berikan pada anak perempuan." Shena melepaskan tangan mamanya, lalu mengalihkan pandangan ke cermin.



"Lihat! Cermin digunakan untuk melihat seperti apa wajah kita." Gadis itu tersenyum, tetapi air mata jatuh membasahi kedua pipi. "Mudah sekali untuk memberikan tipuan emosi. Bukan begitu, Ma? Katakan satu hal padaku. Apakah aku anak kandung kalian?"



"Shena, pertanyaan macam apa itu?" Balas Mama Melati dengan nada tak suka, tetapi menyiratkan sesuatu yang begitu dalam.



Setiap kali pertanyaan. Dibalas dengan pertanyaan. Maka ada hal tidak beres. Shena mengusap kedua pipinya, mencoba menghentikan air matanya. Lalu, ia kembali menatap Mama Melati, tapi kali ini dengan tatapan berbeda. Ada ketegasan bercampur kepasrahan.



Diraihnya tangan wanita yang selama ini memberikan suapan kasih sayang. Tanpa kata, tangan itu terhenti di atas kepalanya. "Sekali saja. Jujurlah pada diri sendiri. Siapa aku sebenarnya?"



Berat rasanya untuk berkata jujur. Tindakan tak terduga Shena, membuat Mama Melati tercengang dengan keringat dingin bercucuran. Jelas sekali, bibir pucat itu bergetar. Namun, Shena masih berdiri tegak menunggu jawaban yang harus dia dapatkan.



Kenyataan memang tidak selalu manis, tetapi masih lebih baik. Daripada sejuta kebohongan. Ketika seseorang berbohong sekali. Maka, selanjutnya akan berbohong lagi dan itu demi menutupi kebohongan pertama. Siklus itu akan terus berlanjut hingga mencapai batasan.



"Baiklah. Aku sudah mendapatkan jawabannya. Mama tenang saja, seorang anak akan selalu berbakti pada orang tua." Shena melepaskan tangan Mama Melati, lalu memejamkan matanya. "Jika dia, ayah kandungku. Aku akan ikut bersamanya."



"Shena ....,"


Gadis itu mengangkat tangan kanannya menghentikan penolakan yang akan dilakukan Mama Melati. Kali ini, dia harus bersikap tegas sebagaimana mestinya. "No, Ma. Ini sudah menjadi keputusan ku. Aku ingin tahu, kemana takdir membawaku."


Setelah mengatakan apa yang menjadi keputusannya. Shena keluar dari kamar mandi, dan disusul Mama Melati. Namun gadis itu meneruskan langkah kakinya berjalan meninggalkan kamar, bahkan mengabaikan panggilan dari keluarganya sendiri. Sementara Mama Melati memohon pada Papa William agar segera menghentikan Shena.


Situasi yang semakin rumit, membuat Danish berlari mengejar istrinya. Langkah tegap dengan kaki panjang, membuat pria itu bisa menyusul Shena. Tanpa kata, ia merentangkan kedua tangannya menghalangi langkah sang istri yang sudah mencapai setengah perjalanan ditangga.


Tatapan mata hancur nan kosong, mengatakan saat ini kondisi Shena tengah tidak baik. Dan mencoba untuk merengkuh tubuh gadis itu, namun ada yang menghalangi. Disaat sang istri menggelengkan kepalanya.


"SheZa! Sadarlah." pinta Danish menatap penuh harap.