Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 44: Naina Pasrah, Shena dan Danish


Kebebasan itu, diperlukan. Namun, tetap pada ketetapan yang selalu menjadi pengikat hubungan suami istri. Shena dan Danish semakin mendekat meraih asa yang ingin mereka satukan, sedangkan di sisi lain. Pertengkaran hebat terdengar memecah kesunyian taman.


"Jadi, ini keputusan tetapmu?" Fatih bertanya pada Naina yang berdiri di hadapannya dengan tatapan serius.


Sementara Naina tersenyum. Penampilan gadis itu tak seperti biasanya. Tanpa kacamata dan dengan styles seperti anak perempuan yang tomboy. Walau begitu, tetap cantik meski make up tipis menutupi wajah pucatnya.


Naina meraih tangan Fatih. Pemuda yang menatapnya tajam dengan rahang mengeras. "Kamu yang minta, pertunangan berubah menjadi pernikahan. Ok, aku setuju, tapi sebagai seorang suami. Bukankah kamu memiliki kewajiban untuk mendengarkan istri?"


"Jadi, salahnya dimana? Aku hanya ingin, kita tinggal dirumah sendiri. Rumah tangga yang baru dan memiliki kehidupan yang baru pula." Sambung Naina tanpa menekankan keinginannya, gadis itu berusaha untuk meluluhkan hati Fatih.


Jangankan tahu tentang kehidupan Fatih. Sifat, sikap dan karakteristik calon suaminya masih dalam tahap belajar memahami. Meski ia sadar, pemuda itu membentengi diri untuk tidak membiarkan dirinya masuk sebagai teman. Apalagi sebagai seorang istri nantinya.


Tanpa perasaan, Fatih mengibaskan tangan Naina. "Tidak! Kita akan tinggal di kediaman Anderson. Suka, tidak suka. Kamu akan menurut."


Naina menghela nafas pelan. Ternyata tidak semudah bayangannya. Fatih bukan hanya keras kepala, tapi sangat teguh pendirian. Lalu, bagaimana caranya meluluhkan pemuda itu? Apakah harus pasrah? Jika tidak mencoba lagi, bukankah sama berarti penyerahan diri.


"Terserah maumu. Aku pergi, dan ya. Tidak perlu hubungi Aku selama kita belum menikah." Pasrah Naina, lalu berbalik membelakangi Fatih.


Baru saja, satu kakinya terangkat. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang, tarikan tangan yang mengejutkan dirinya. Mengubah haluan, pemuda itu melakukan sesuatu yang tidak pernah melintas ke dalam pikirannya.


Bibir yang selalu menjaga jarak aman dari sentuhan. Pemuda itu merenggutnya paksa. Pagutan kasar yang menyakitkan. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Fatih, namun tenaganya tidak sebanding dengan perlakuan emosi dari sang calon suami.


Rasanya, seperti menenggelamkan diri dalam kubangan lumpur. Bagaimana bisa, Fatih menikmati bibirnya tanpa permisi. Sikapnya begitu kasar dan rakus hingga meninggalkan jejak bengkak dengan rasa sakit yang tergores menyayat hati begitu dalam.


"Kamu bukan cintaku, tapi pelampiasan. Ingat itu, Naina." Fatih membisikkan intimidasi yang harus gadis itu pahami karena ia tidak suka mendapatkan penolakan, apalagi seorang pembangkang.


Sakit menusuk hingga ke nadi. Apakah benar, dia akan menikah dengan seorang monster kecil? Kehidupan ini, apakah karma dari kehidupan di masa lalu? Tidak mampu berkata-kata lagi. Rasanya sudah seperti peluru berada tepat di depan mata.


Satu saja langkahnya salah, maka bukan hanya kehidupannya yang akan hancur. Akan tetapi, semua yang memiliki ikatan dengannya. Pasti ikut menderita. Mau, tak mau. Pasrah untuk sementara waktu, hingga nanti di saat takdir menunjukkan jalan untuknya bertindak


Pertemuan pasangan baru itu, memang disengaja. Awalnya Naina hanya ingin menyampaikan. Jika dia memiliki syarat untuk pernikahan yang akan mereka lakukan, tetapi syarat itu berbalik menyerangnya. Miris, namun dengan kejadian pagi ini. Nai sadar, Fatih adalah pemuda ambisius.


"Bisa lepaskan tanganmu, dari pinggang ku?" Nai menundukkan pandangan matanya, biarlah terlihat lemah untuk sementara waktu. Setelah merasa bebas, "Aku pergi duku karena pagi ini ada jadwal kuliah pagi."


......


"SheZa, jam berapa kuliahmu selesai?" tanya Danish menghentikan istrinya yang siap membuka pintu mobil.


Sesaat Shena melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Aku kuliah pagi, tapi hari ini ada pertemuan para dewan senat. Jadi jadwal cukup padat, apalagi sebulan lagi akan ada acara pagelaran seni di kampus. Acara tahunan, mungkin sore sekitar pukul lima."


"Baiklah, jangan lupa makan dan jaga dirimu. Jika ada apapun, langsung hubungi aku. Ponselmu pastikan selalu standby, okay SheZa." balas Danish seraya mengusap kepala istrinya hingga membuat bibir gadis itu maju tiga senti.


Imut menggemaskan, tetapi tak mungkin untuk melakukan lagi. "Jangan cemberut, atau mau ku cium lagi? Sekarang sudah rapi. Tersenyumlah, SheZa istriku."


Shena terkekeh pelan. Perlakuan Danish begitu membuatnya nyaman hingga melayang ke udara. Ini bukan cinta, tetapi baru benih-benih yang mulai tersemai. Bagaimana pria itu menyentuh setiap ujung kulit dengan kasih sayang, dan tatapan mata yang selalu meneduhkan. Siapa yang tidak betah memiliki suami seperti itu?


Shena membuka pintu, lalu turun meninggalkan mobil. Kemudian menutup pintunya kembali, "Mas, ingat. Aku tidak ikut untuk bertemu Mbak Tiara, tapi bukan berarti sebagai kesempatan agar ada kedekatan di antara kalian. Rumahmu itu hanya Shena Az Zahra."


Danish mengangkat tangan, memberikan hormat pada istri sahnya. "Siap, Komandan. Have a nice day, SheZa."


Keduanya berpisah untuk melakukan rutinitas harian yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Shena akan fokus mendalami pelajaran yang menjadi tujuan masa depannya, sedangkan Danish memilih langsung ke cafe karena waktu sudah menunjukkan pukul tubuh lebih.


Sepanjang diperjalanan, banyak sekali hal yang mengusik pikirannya. Satu sisi, masalah proyek sang istri. Lalu tentang pertunangan Fatih dan Naina, kemudian soal Tiara. Ketiga hal itu menjadi garis besar yang tiba-tiba saja begitu menarik perhatiannya.


Cafe LEMONS. Cafe yang buka dari pukul enam pagi hingga pukul sepuluh malam. Dulu cafe itu tidak semewah sekarang, tetapi karena memang banyak jenis makanan yang selalu up-to-date. Orang-orang tetap betah dan berlangganan. Termasuk dirinya dan Tiara.


Selama ini, keduanya akan menghabiskan waktu bersama hanya untuk sekedar minum kopi atau menikmati lunch. Terkadang dinner romantis di cafe tersebut. Tidak ada yang tahu, jika takdir memisahkan keduanya dalam pengkhianatan.


Danish memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Seorang pelayan langsung menyambutnya, begitu melihat dia datang. Bukan hanya itu saja, walau banyak pelanggan. Meja khusus akan selalu disiapkan tanpa harus melakukan reservasi terlebih dahulu.


"Wah, tumben dateng sendiri, Mas Dan." sambut sang manager yang ternyata ikut terjun melayani pelanggan yang memang lagi ramai-ramainya, membuat Danish tersenyum tipis menyambut tangan yang terulur ke arahnya.


"Kebetulan saja sendiri." Danish menarik kursi, lalu duduk setelah melepaskan jabatan tangannya. "Pesan cappucino satu, tapi tanpa choco granula."


Sang manager langsung mencatat dan segera memberikan pesanan pada pelayan lainnya agar diproses lebih cepat. Baru ingin menanyakan keberadaan kekasih dari pelanggannya itu, rupanya si gadis sudah datang dengan penampilan yang mewah seperti biasa.


"Nona makin cantik aja." sanjung Sang manager selalu terpesona dengan penampilan Tiara yang bisa memadukan outfit kekinian, "Mau pesan apa, Non?"