Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 108: Obrolan, Teriakan


Dua menit kemudian ponsel diletakkan ke atas meja. Siti kembali menatap Selena yang menunggu penjelasannya, "Jujur saja, Aku lebih suka panas-panasan di lapangan basket. Perawatan? Jika bukan karena paksaan si abang, aku males banget."


"Perhatian sekali calonnya, kalian sudah pacaran lama atau perjodohan?" tanya Selena dengan santainya.


"Baru beberapa bulan pacaran, tapi kenal hampir setahun. Semua berkat Ka Dan, hubungan kami seperti musuh rasa cinta. Awal ketemu cakar-cakaran, hehehe. Pokoknya jodoh gak ada yang tahu," Rona bahagia di wajah Siti terlihat begitu jelas, membuat Selena ikut merasakan kebahagiaan sederhana.


Obrolan semakin seru, meski pelayan salon kembali membawa makanan ringan dan minuman dingin. Kedua wanita itu tetap menikmati waktu perawatan bicara panjang kali lebar dengan topik yang random. Sementara di kediaman Anderson hanya ada ketegangan.


Suara teriakan dari lantai atas mengalihkan perhatian semua orang yang duduk di ruang tamu. Papa Anderson, Mama Quinara, Xavier dan Rafael yang masih berdiskusi tentang bisnis langsung bergerak menuju lantai dua. Mereka khawatir akan apa yang terjadi di dalam kamar Danish.


"Pa, pintunya kebuka," Mama Quinara mendorong pintu ke depan tanpa mengetuk terlebih dahulu, tatapan mata terpana melihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah diterjang ombak.


Selimut teronggok di sudut ruangan, pecahan guci berserakan. Kamar yang selalu rapi berubah menjadi rumah hantu, "Dan, apa yang terjadi?"


Putranya yang berdiri di depan jendela menghadap ke luar dengan tangan bersedekap, tiba-tiba mengulurkan tangan kiri menunjukkan ke tepi ranjang. Dimana seorang wanita terbaring dengan wajahnya yang lelah. Tiara dengan wajah Shena tampak begitu frustasi, tapi kenapa?


Papa Anderson buru-buru memeriksa keadaan wanita itu demi kemanusiaan. Diangkatnya tubuh si Tiara, lalu merebahkan ke atas ranjang tanpa sprei. Tak lupa meminta istrinya menghubungi dokter keluarga. Bagaimanapun keadaan mereka tetap saja saat ini serumah yang memiliki kewajiban untuk saling menolong.


Entah apa yang terjadi ia hanya bisa menangani satu persatu masalah, sedangkan Dan dibawa pergi Rafael serta Xavier ke ruangan lain. Ketiga pria itu memasuki ruangan kerja karena tahu benar Dan membutuhkan ketenangan. Setidaknya mereka bisa berbincang ala pria dewasa.


"Dan, bisa jelasin apa yang terjadi?" tanya Rafael dengan hati-hati karena sadar saat ini emosi pria yang duduk di sofa single di depannya masih tersulut amarah.


Helaan napas tertahan bersambut kelopak mata terpejam. Lelah, penat dengan beban hati yang menghantam kehidupan. Jika diberikan kesempatan, ingin rasanya mengakhiri hubungan tanpa memikirkan masa depan. Semua hanya karena satu cinta obsesi yaitu Tiara.


Kendatipun demikian, ia mencoba untuk bersikap sewajarnya hingga mengambil kewarasan yang memang tidak dimiliki Tiara. Semua rasa bercampur menolak keberadaannya. Ketika sentuhan tangan mulai menjalar mencari kesenangan. Sentuhan itu sangat menjijikkan.


Wajah memang milik Shena, tetapi rasa milik Tiara. Sang istri palsu berusaha merenggut kehormatannya sebagai seorang pria. Ntah obat apa yang dicampurkan karena hawa panas menguasai tubuh dan rasa ingin mendapatkan kepuasan menguasai diri.


Semua itu berawal beberapa jam yang lalu, di saat ia baru saja memasuki kamar dan disambut hangat oleh Tiara. Tak ingin membuat wanita itu curiga sehingga menerima kopi buatannya. Sontak saja beberapa teguk mengisi perut, lalu merenggut kesadaran secara perlahan.


Namun selama setahun tak bisa melampiaskan hasratnya karena hamil anak orang lain. Ia pikir sekarang waktunya mengandung benih pria yang menjadi suami idaman. Sayangnya, Dan masih berusaha memberontak mengendalikan diri hingga melakukan pemberontakan.


Di sela pergulatan panas dan penolakan, sisa kopi yang ada di atas meja sengaja diminumkan secara paksa pada wanita itu. Sontak membuat Tiara kelimpungan dengan hawa panas ingin mendapatkan sentuhan. Akan tetapi, Dan tidak peduli dan berlari mengurung diri di dalam kamar mandi.


Kegilaan Tiara terdengar begitu mengerikan. Rasa yang menyiksa tubuh keduanya tak bisa disatukan. Dan memilih untuk bermain solo agar efek obat bisa hilang karena ia sadar bahwa sang istri palsu memberinya obat laknat. Sementara wanita itu melampiaskan hasrat dengan menghancurkan semua barang di dalam kamar.


Yah begitulah kenyataannya. Miris dengan kebenaran yang memuakkan. Walau mencoba untuk menghapus jejak ciuman semalam, tetap saja sentuhan buas masih terus terbayang di dalam angan. Jijik dengan tubuhnya yang kini ternoda. Bagaimana mengatakan pada Shena nantinya?


"Dan!" Rafael menepuk paha sang teman yang justru terdiam tanpa memberikan kejelasan apapun.


Xavier memberikan kode agar membiarkan Dan terlelap. Wajah yang pucat menegaskan pria itu kurang istirahat. Apapun yang terjadi di dalam kamar biarlah menjadi rahasia. Setidaknya harus percaya bahwa seorang Danish bisa menjaga diri tanpa harus menyakiti wanita.


Belum juga sepuluh menit menikmati ketenangan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi dari lantai atas hingga mengejutkan para pria yang langsung berlari meninggalkan ruangan kerja. Suara langkah kaki yang bersahutan mengalihkan perhatian para pelayan. Tentu mereka ikut mendengar teriakan itu, walau memilih untuk menyingkir ke belakang.


Semua pelayan sudah mendapatkan peringatan agar tetap menjaga jarak aman. Selain itu mereka tidak boleh ikut campur agar masalah yang ada tetap dalam pantauan, maka dari itu apapun yang terjadi hanya boleh diam. Jangan mencoba untuk untuk mengembangkan rasa penasaran.


Danish yang sampai di kamar pertama kali langsung mendorong pintu sepenuh tenaga tanpa berpikir dua kali. Tatapan mata beredar kesana kemari hingga menemukan keberadaan sang mama yang terduduk di sisi sofa dengan wajah tertutup kedua telapak tangan. Buru-buru ia berlari menghampiri, lalu merengkuh tubuh wanita yang telah melahirkannya.


"Ma, tenanglah." Tangan berusaha memberi ketenangan dengan mengusap punggung sang mama. "Dan disini, tenang Ma."


Kesibukan Dan yang fokus terhadap mamanya, membuat pria itu tak sadar akan bahaya yang mengintai. Dari arah belakang kilatan pisau dengan tetesan darah tergenggam dengan erat, wajah merah bermata bengis siap mengambil korbannya. Satu ayunan tangan melayang ke udara, tiba-tiba pemberontakan tertahan seseorang yang menarik sang pemangsa menjauh dari Dan.


"Raf, periksa Papa!" seru Xavier menyegel tubuh Tiara yang kalap, entah apa yang terjadi hingga kamar menjadi tempat berdarah.


Rafael mengikuti perintah Xavier karena itu penting dilakukan. Keadaan Papa Anderson cukup memprihatinkan. Bagaimana itu mungkin? Tak ingin terjadi sesuatu, membuatnya bergegas memanggil ambulance. Semua orang sibuk dengan tugas masing-masing, tanpa mereka sadari ada orang lain yang melihat semua itu. Seseorang yang mengawasi sejak satu jam lalu menggunakan teropong pembesar.


Nekad sekali kamu, rupanya tidak sayang nyawa sendiri. Apapun itu tugasku menyelematkan dari kekacauan. Dasar wanita obsesi.~batinnya memasukkan teropong kembali ke dalam tas ransel sedang yang terpasang di punggungnya.