
Dan mengedarkan pandangan matanya, melihat beberapa senjata yang terpampang di dinding dekat pintu utama dan menjadi penyambutan pertama. Diambilnya satu pedang dengan sarung warna hitam berukir naga yang menyeramkan. Suara gesekan membuat bulu kuduk meremang. Ternyata pedang itu asli!
"Pedang Katana, bisa digunakan untuk berlatih meningkatkan kecepatan gerak. Setiap ketahanan diiringi ayunan akan selalu berusaha menyeimbangkan. Apa kamu pernah mencoba?" tanya Black setelah memberi sedikit penjelasan, sayangnya yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Yasudah, ayo kita lanjutkan perjalanan."
Malam yang panjang dengan penjelasan Black dari setiap ruangan yang bisa digunakan. Pria itu mendapatkan amanah sang adik tercinta agar membuat Danish siap mental dan fisik bahkan jadwal pelatihan tersimpan di dalam kepala. Selena berpikir untuk berjaga-jaga demi keamanan.
Sesi diskusi selama dua hari menyadarkan wanita itu bahwa Dan sangat jarang berlatih bela diri, apalagi memiliki daya tahan tubuh yang prima. Maka untuk menyukseskan rencana mereka yang harus berhadapan dengan anak-anak berandal terlatih. Black memiliki tugas melatih Dan sebagai guru.
Sinar mentari menyembunyikan sinarnya di balik awan nan mendung bersambut suara yang bergema di sebuah ruangan kaca. Deru napas saling memburu menyatu bersama peluh. Pertarungan sudah usai, tetapi kedua pria itu berbaring di atas ring seraya mengepalkan tangan bertos ala pria.
"Tenagamu sudah ok hanya saja butuh terus diasah kemampuannya. By the way, ku dengar istrimu pandai bela diri. Apakah itu benar?" Black beranjak dari pembaringan, lalu mengalihkan perhatiannya menatap Dan yang sibuk memperhatikan atap.
Seulas senyum tersungging menghiasi wajahnya, "Benar, SheZa gadis unik. Wanita pertama yang membawa seluruh warna ke dunia kecilku. Aku ingat senyum manis dengan tatapan ceria yang tanpa sungkan mengajak pria asing untuk menikah. Dia menggemaskan seperti putri salju."
"Sepertinya kisah kalian seru, bisa kali aku tahu selengkapnya." goda Black membuat Dan terkekeh pelan, "Hadeh, malah diketawain. Serius ini, eh dua rius maksudnya."
"Kisah kami? Tidak ada kata selain bersyukur menikah dengan SheZa. Gadis impian yang selama ini kucari. Cinta tumbuh seiring waktu, tapi dia mengajarkan banyak hal. Jangan salah paham karena kami berjuang bersama-sama saling menguatkan tanpa ada keraguan. Aku rindu kejahilan SheZa.
"Andai saja Aku mendengarkan ucapan Shena sejak awal tentang Fatih, mungkin semua ini tidak terjadi. Aku bodoh 'kan?" sambung Dan seketika merasa bersalah atas pengabaian yang pernah dia lakukan.
Andai? Satu kata sebagai bentuk angan tak tersampaikan. Dipikirkan, tetapi setelah semua terjadi dan tidak bisa diubah. Sakit tanpa rasa sesal yang akan tercurahkan. Begitulah kenyataan berbalut kepahitan. Selalu berakhir dalam kegelisahan.
Sekilas cerita Dan, membuat Black tersenyum tipis. Mencintai bukan untuk paksaan, semua terlihat begitu jelas termasuk cinta seorang suami untuk istri. Ia sadar kenapa adiknya mencintai pria seperti Dan. Pantaskah? Sangat pantas, tetapi tidak untuk dimiliki.
Pengorbanan yang biasanya sangat jarang dilakukan. Ternyata di dunia ini masih ada cinta pada pandangan pertama. Kisah Dan bersama Shena yang memiliki ikatan hati dengan jatuhnya pandangan mata jahat pihak ketiga. Semua hanya karena masa lalu yang masih belum usai.
"Aku ke kamar dulu," Dan beranjak dari tempat duduknya setelah menepuk pundak Black yang langsung menyentak kesadaran pria itu.
Derap langkah kaki mulai menjauh. Tatapan mata terus mengikuti punggung pria yang berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang. Pria itu semakin mendekati pintu kaca yang setengah terbuka, "Dan, apa kamu akan melenyapkan Fatih?"
Terkadang kesabaran bercampur dengan keyakinan hati. Sayangnya, manusia lebih mengutamakan logika. Dimana bertindak tanpa seenak jidat tanpa memikirkan perasaan orang lain. Meski tidak semua orang sibuk mengumbar ego yang tinggi.
Satu sisi Black mencoba menyeimbangkan pola pikirnya untuk memahami Dan karena pria satu itu terlalu pendiam. Sementara di belahan bumi lain terjadi perdebatan pelik yang langsung membuat darah naik hingga kaki tidak mampu menahan tubuh seseorang.
"Ma!" Selena berlari merengkuh tubuh Mama Quinara yang ambruk dengan tangan memegang dada, "Tenang, Ma. Ka Dan pasti kembali, percayalah pada putra mama."
Tatapan mata saling beradu, jelas sekali wanita dewasa yang selalu ia panggil Mama sejak pertemuan pertama tengah bersedih hati. Semua karena Dan pergi begitu saja tanpa ingin menjelaskan apa yang terjadi. Pria itu berpikir anggota keluarganya tidak boleh tertekan lagi. Akan tetapi hati seorang ibu tidak bisa dibohongi.
Sejak tidak menemukan keberadaan Dan, Mama Quinara langsung mendatanginya untuk meminta penjelasan. Awalnya ia menolak, tetapi dihadapkan seorang ibu? Hatinya luluh tanpa benteng pertahanan. Sedikit penjelasan alasan Dan pergi, justru mengubah rasa khawatir menjadi ketakutan.
Bagaimanapun cinta seorang ibu akan selalu menjadi perlindungan anak-anak mereka. Yah, semua anak yang bisa merasakan cinta kasih orang tua, maka harusnya bersyukur. Bayangkan berapa banyak anak yang hidup berjuang seorang diri tanpa bimbingan. Apalagi mendapatkan dukungan serta sandaran.
"Nak, kenapa kamu menolak menikah dengan Dan? Mama akan bujuk anak nakal ...,"
Tak ingin kurang ajar, tetapi tangannya terangkat membungkam mulut Mamanya. "Jangan pisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai, Ma. Shena kehidupan Danish, mereka sudah menjadi orang tua. Mama harus tahu bahwa cucu pertama keluarga Anderson sudah terlahir ke dunia."
Pernyataan yang menggetarkan dada. Cucu? Apakah itu benar? Tatapan mata berembun dengan rasa penasaran yang terus mendesak kegelisahan hati. Jantungnya berdetak lebih cepat bahkan merasa dunia kembali ke musim semi. Aroma bunga yang semerbak berembus menghantarkan ketidaksabaran.
"Ma, saat ini baik Shena ataupun putranya masih dalam perawatan intensif. Maaf, tapi kita tidak bisa melihat secara langsung selain melalui CCTV." jelas Selena tak ingin memberikan harapan palsu.
Sadar benar bahwa keluarga itu sudah cukup menderita selama setahun terakhir, maka akan lebih baik bicara apa adanya. "Ku harap Mama bisa merelakan kepergian Ka Dan karena doa seorang ibu selalu menyertai anaknya."
Mama Quinara mengangguk pelan, lalu memeluk tubuh Selena yang kini menjadi harapan untuk keluarganya. Padahal niat hati ingin menyatukan sang putra agar terbebas dari mahligai pernikahan yang penuh penderitaan, kini ia sadar akan kekeliruan yang berubah menjadi keegoisan.
Dimana penderitaan yang dialami seluruh anggota keluarga, juga diterima Shena dan cucunya. Tak bisa memungkiri semua terluka karena kebencian yang Fatih punya. Semua hanya tentang balas dendam tak bersyarat. Menusuk emosi yang semakin terdampar tanpa kebenaran nyata.
"Antarkan Aku keruang CCTV, Nak. Boleh 'kan?" lirih tanya Mama Quinara, membuat Selena menghela napas lega.