
Nasehat yang terdengar seperti perintah, membuatnya tidak tahan lagi. Dilepaskannya sendok secara kasar dengan sadar hingga menimbulkan suara dentingan yang langsung mengalihkan perhatian semua orang. Benar-benar tidak tahu sopan santun.
Di luar sana banyak orang kelaparan, tetapi wanita itu menyia-nyiakan makanan. Entah apa yang menjadikan mood wanita itu di luar batas, sedangkan sikap kurang ajarnya tidak bisa ditoleransi. Bukan karena tindakan barusan, tetapi selama beberapa hari selalu saja melakukan hal yang tidak bisa menyesuaikan usia.
"Pergilah! Jika kamu tidak peduli dengan dirimu sendiri. Bagaimana peduli dengan anakmu? Istriku mengingatkan karena kamu juga putrinya." Papa Anderson ikut meletakkan sendok, ia berhenti makan melihat situasi terus memanas. "Ma, Papa pergi ke kantor dulu."
"Pa, makan dulu," cegah Mama Quinara, sayangnya Papa Anderson menolak dan tetap memilih untuk meninggalkan meja makan. "Apa sekarang kamu puas? Sebenarnya ada yang salah. Shena tidak pernah bersikap kasar dan selama empat hari tingkahmu semakin di melewati batas."
"...,"
Mama Quinara mengangkat tangan kanan menghentikan Tiara yang hendak menjawabnya, "Siapa kamu? Jika kamu Shena, menantuku tahu cara bersikap. Istri putraku tahu tanggung jawab keluarga. Mama tahu, kamu mengalami tekanan setelah masa kehamilan, tapi bukan begini caranya."
*Andai kami tidak berpura-pura menjadi keluarga harmonis dengan menganggap dirimu sebagai istri Dan. Tamat sudah riwayatmu, aku menunggu Shena putriku kembali. Setelah itu, akan ku pastikan menendang wajah palsu hingga ke jalanan.~sambung Mama Quinara dengan emosinya yang harus ditahan*.
Ketika orang lebih suka menjadi diri sendiri agar bisa melakukan segala sesuatunya sesuai kata hati. Tiara justru melakukan hal sebaliknya meski alasan adalah obsesi cinta. Tetap saja wanita itu kehilangan akal sehat. Akan tetapi, keluarga Anderson tahu topeng dibalik wajah sang menantu gadungan.
Mereka hanya menunggu waktu yang akan membawa bukti, lalu menampar Tiara kenyataan yang memang bukan takdirnya. Shena untuk Danish, dan Danish untuk Shena. Tidak ada yang memungkiri itu karena keduanya memang pasangan.
Awalnya keluarga cemas akan suatu keraguan tentang bayi yang dilahirkan Tiara, tetapi Danish meyakinkan bahwa anak itu bukanlah pewaris keluarga Anderson. Selama setahun di masa setelah kecelakaan. Ia sebagai suami tidak sekalipun menyentuh istri gadungan itu.
Semua berjalan seperti biasa saja, tetapi setelah dirangkai barulah banyak pertanyaan yang muncul. Bagaimanapun bukti yang akan menyelesaikan semua masalah dan untuk mengumpulkan kenyataan di tengah manipulasi, maka Dan pergi dari rumah untuk menemukan Shena.
Namun takdir tidak bisa dipaksakan, apalagi diminta. Semua berjalan sebagai Tuhan ingin menguji keimanan para hamba-Nya. Sayangnya manusia terlalu cepat mengeluh hingga lupa bahwa semua hanya tentang ketetapan Sang Illahi. Apapun yang terjadi, pasti akan dilewati.
"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud untuk kasar. Permisi," Tiara pamit tanpa menyentuh makanannya, ia tak peduli dengan semuanya karena perasaan tengah tenggelam dalam satu kesalahan.
Langkah kaki yang menjauh, membuat Mama Quinara ikut beranjak dari tempat duduknya. Lalu bergegas menyusul kepergian sang suami yang pasti masih menunggu ia di dalam mobil. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, mereka hanya memerlukan waktu untuk duduk di sebuah tempat membicarakan segala sesuatunya.
Bisa saja ngobrol di dalam kamar, tetapi melihat situasi yang ada. Justru tidak ada kenyamanan, walau bisa mengaktifkan peredam suara. Tetap saja lebih untuk mencari udara segar seraya menikmati kebersamaan dengan cara yang lebih tenang.
"Pa, bagaimana dengan orang-orang kita? Apa mereka sudah menemukan keberadaan, you know what i means, Pa." Mama Quinara mengalihkan pertanyaan menjadi bahasa asing, ia sengaja agar pak supir tidak memahami.
Kepercayaan mungkin sudah didapat, tetapi hati berkata untuk berhati-hati. Siapapun bisa menjadi sasaran untuk mendapatkan kebenaran. Yah, satu kenyataan dengan kenyataan lain cukup menjelaskan bahwa permainan drama yang terjadi di dalam keluarga sangat terencana.
Bagaimana jika salah bicara, justru ada yang terluka? Tentu tidak bisa dibiarkan, maka demi kebaikan bersama akan lebih baik bersikap misterius sebagaimana keputusan yang telah diambil Dan untuk ikut bermain ke dalam sandiwara cinta. Siapa dalang? Bisa saja berubah menjadi wayangnya.
Diambilnya ponsel dari tempat persemayaman, lalu menyerahkan pada wanita yang duduk disebelahnya. "Dokumen catatan pergantian nama beserta informasi yang lain sudah ada di kita. Langkah selanjutnya menunggu Danish kembali, tapi anak itu masih enggan pulang."
"Sabar, Pa. Putra kita pasti pulang, percayalah. Rafael ada bersamanya jadi kita bisa sedikit lega karena ada yang menjaga Dan. Benar 'kan?" Mama Quinara meminta persetujuan, tetapi tangannya sibuk mencari tempat ternyaman dengan menelusup bergelayut manja menggandeng tangan suaminya.
Seorang pria terbiasa untuk memendam perasaan agar bisa menjaga keluarga. Akan tetapi, terkadang juga membutuhkan ketenangan dari pasangannya. Seperti saat ini, di dalam mobil menikmati perjalanan keduanya duduk saling berpelukan.
Tujuan kali ini tidak ditentukan karena tidak ada arah yang bisa menjadi harapan. Mobil yang melaju melintasi bahu jalan yang cukup padat kendaraan. Melihat itu, Papa Anderson meminta sopir untuk mencari jalan alternatif sehingga tidak membuang waktu.
Sebuah gang tanpa nama menjadi pengalihan jalan yang dipilih Pak Supir. Sebenarnya hati ragu untuk memilih jalan yang tidak biasa dilewati, walau memang beberapa kendaraan ikut masuk. Nyatanya jalan itu seperti daerah mati. Banyak bangunan di kanan kiri jalan, tetapi sepi senyap.
Anehnya, pintu ataupun jendela tidak satupun ada yang terbuka. Apa itu wilayah isolasi? Sepertinya bukan, bagaimana jika warga sekitar mengungsi? Pertanyaan demi pertanyaan terus menumpuk, di saat bersamaan sebuah batu melesat menghantam kaca depan mobil, membuat pak sopir menginjakkan rem dadakan.
"Pak, ada apa?" tanya Mama Quinara yang tersentak dengan kebingungan, pasalnya ia baru saja terlelap bersandar di dada suaminya.
Papa Anderson langsung mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Pria itu menghela nafas panjang, ia baru sadar memasuki wilayah salah. Apa karena banyak memikirkan masalah hingga lupa betapa berbahayanya beberapa wilayah yang kini mode panas.
Tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya. Sontak saja bergegas mengambil ponsel, lalu mendial nomor yang bisa membantunya. "Cepat hubungkan aku dengan pemimpin Gang Knife!"
Pak supir yang mendengar nama kelompok barbar disebut, seketika gemetar merasa takut. Pria itu sudah membayangkan hal di luar nalar. Siapa yang tidak tahu kelompok Gang Knife? Wilayah dengan pengawasan ketat, hukum mutlak dari sang pemimpin untuk para pelancong.
"Tuaan ...," cicit Pak Supir seraya menunjuk ke arah depan dimana beberapa orang berseragam hitam dengan wajah bercat putih kemerahan sudah mengepung mobil yang mereka tumpangi.