
"Nai, kamu kenapa, Nak?" Tante Amora mengusap kepala gadisnya, merengkuh tubuh sang keponakan ke dalam pelukan hangatnya. "Tante disini, cerita sayang. Apa kamu keberatan dengan perjodohan? Jika itu masalahnya, Tante akan batalin."
Sesaat, ia egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Kenapa harus terpuruk? Semua sudah terjadi, memang benar bisa diperbaiki. Akan tetapi, tidak mungkin hanya demi satu orang, maka mengorbankan kebahagian banyak orang. Perbandingan tidak adil. Dia harus kembali sadar.
Naina membalas pelukan Tante Amora. Harum parfum yang bercampur keringat. Tidak membuatnya merasa risih karena ia sadar. Wanita dewasa itu terus berjuang untuk membiayai kehidupan agar tetap selalu berkecukupan, bahkan bisa memberikan fasilitas yang terbaik.
Bukan hanya itu saja. Sebuah harapan sang tante akan melanjutkan kehidupan dengan menikah, mungkin harapan itu akan berubah menjadi kenyataan. Jika ia sudah menikah. Sudah pasti, Tante Amora khawatir akan masa depannya, tetapi melupakan kehidupannya sendiri. Ironis bukan?
"Nai hanya terlalu khawatir. Setelah menikah harus pindah rumah. Ini bukan masalah serius, kok, Tan." Gumamnya mengakhiri rasa pemberontakan di dalam hatinya sendiri, bukan hanya demi sang Tante. Ia juga harus bertindak agar bisa menjauhkan Fatih dari keluarga Anderson.
Satu sisi, niat Naina yang akhirnya memutuskan untuk berjuang dengan hak dan kewajiban sebagai seorang sahabat yang sudah bulat. Gadis itu tak mengharapkan orang-orang disekitarnya mengalami penderitaan yang bisa menyebabkan trauma. Jangan sampai ada rasa takut yang membelenggu, hingga berakhir kehilangan kepercayaan diri.
Sementara di sisi lain. Shena tengah mencari cara untuk menyelesaikan masalah hidupnya. Tentu tanpa harus mengorbankan siapapun. Masalah yang pasti akan menyita tenaga dan pikiran. Bukan hanya tentang kehidupannya saja karena kini lingkaran nyata sudah mulai saling bersinggungan.
Keluarga dan persahabatan. Keduanya saling tarik menarik. Satu langkah salah, bisa jadi menggoyahkan ikatan yang selama ini menjadi sandaran dan tempatnya berbagi. Tidak pernah terbayangkan. Masa depannya menyatu bersama bayangan masa lalu dan masa kini.
Tatapan mata yang sibuk mengedarkan pandangan menatap langit malam untuk menghitung bintang yang tak seberapa. Ayunan yang ia temukan di balkon kamar suaminya. Kini enjadi tempat ternyaman setelah kolam renang di kediaman Anderson. Namun, fokusnya teralihkan oleh aroma harum coklat hangat yang menarik perhatiannya.
Ternyata Danish datang membawa dua cangkir yang mengepulkan asap putih. Satu cangkir pasti berisi coklat, tetapi satu lagi pasti kopi. Aromanya saja sudah cukup menjelaskan apa yang dibawa oleh pria itu. Langkah kakinya semakin mendekat, membuat Shena duduk menepi, agar sang suami bisa ikut duduk di ayunan yang sama.
Danish mengulurkan secangkir coklat hangat, "SheZa, untukmu dan ku harap, kamu suka coklat."
"Tidak begitu, tapi ini akan memperbaiki mood. Terima kasih, Mas." balas Shena tanpa malu, ia tengah belajar membiasakan diri menerima Danish sebagai temannya.
Sejenak keduanya hanya duduk berteman hembusan angin, menyeruput minuman yang masih harus ditiup berulang kali. Terkadang, hanya sekedar duduk bersama tanpa menjelaskan. Rasa itu mengalir tanpa diminta, seperti kehangatan secangkir kopi dan coklat hangat yang melewati kerongkongan.
Pertanyaan Danish tak menimbulkan reaksi apapun di dalam hatinya. Secara kesadaran penuh, ia tahu dan paham dengan keputusan suaminya itu. Tidak ada yang salah, bahkan memang keputusan yang terbaik. Hanya saja, setelah ini, dia harus menghadapi komplain dari pihak kampus.
Tidak tahu, apa yang akan menjadi keputusan Pak Ibrahim. Setahunya, selama tidak tanda tangan kontrak, maka masih menjadi perjanjian nihil. Kertas bertinta yang ditinggalkan di meja ruang dewan. Kertas itu, tidak memiliki nilai apapun. Jadi aman.
"Mas, sebentar saja kita lupakan tentang masalah yang ada. Jika aku jujur tanpa berpikir segalanya, sudah pasti aku kecewa karena ini proyek impianku. Bukan tentang berapa banyak keuntungan yang akan aku dapatkan, tetapi di luar sana generasi muda bisa bersatu mewujudkan mimpi. Jadi, aku kecewa karena gagal sebelum memulai."
Shena beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri pagar pembatas balkon. Tatapan mata lurus ke depan. Jangan tanya tentang isi hati karena hatinya terus saja meminta ketenangan. Rasanya seluruh beban jatuh ke pundak, tapi lagi dan lagi. Ia tak ingin orang lain tau.
"Ketika satu jalan tertutup. Aku percaya ada jalan lain. Mas itu, suamiku dan aku seorang istri. Diatas keputusan ku, Mas juga berhak memberikan suara. Hubungan kita masih harus saling memahami, bukan begitu?" Sambung Shena setelah terdiam sesaat.
Tanpa sadar, setetes cairan bening jatuh membasahi pipi nya. Istri pilihan kedua orang tuanya mampu menyikapi aral rintang dengan pemikiran yang dewasa. Sungguh hatinya bersyukur, walau rasa sesak telah menjadi penyebab kegagalan impian sang istri semakin membalut kesadarannya.
"SheZa, boleh aku lihat proposal dari proyekmu? Aku akan mempelajari dan melihat bagaimana kita bisa mewujudkan itu." Danish beranjak, langkahnya berjalan menghampiri Shena. "Proyek mu adalah impianmu. Mari kita wujudkan bersama. Apakah istriku bersedia?"
Sungguh rasanya begitu damai mendengar setiap kata dari Danish. Bukan hanya dukungan, tetapi ia juga mendapatkan partner yang terbaik. Tentu, suaminya lebih paham akan dunia bisnis karena sudah bergelut sejak lama. Rasa syukur itu berakhir menjadi pelukan. Apalagi, ketika Dan menyebut kita.
Pria itu berusaha untuk menjadi tempatnya berpulang dan bersandar. Ia tak akan mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan kepadanya. Tidak ada janji lisan, tetapi perlahan ikatan itu semakin mengikat keduanya. Walau di dalam sudut hatinya ada rasa takut akan pengkhianatan.
Ia tidak amnesia tentang Tiara yang datang meminta waktu Danish. Apakah harus bertanya, tapi bagaimana cara menyampaikan dilema di hatinya? Wanita yang cantik, bahkan sangat terawat. Suaminya tidak salah pilih wanita. Bukan hanya itu saja, Tiara terlihat sudah cukup dewasa dibandingkan dia yang masih usia muda.
Keheningan yang mendalam membawa kehangatan. Tiba-tiba saja, Danish memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya. Lalu memejamkan mata, "SheZa, jangan tegang. Kita akan membiasakan diri dengan hal-hal kecil seperti berpelukan. Jika kamu ragu, cepat katakan padaku. Kepercayaan tidak memiliki tempat untuk pertanyaan tanpa dasar."
"Apalah arti kata? Manusia dituntut bukan hanya penyataan lisan, tetapi hanya bukti." Shena menghela nafas panjang, perlahan memejamkan mata menikmati hembusan angin yang bercampur aroma parfum maskulin suaminya.
Malam yang dingin, namun hati menghangat. Pasutri itu merajut hubungan dengan kebersamaan. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang bisa merusak untuk malam ini. Entah esok? Selama masih ada hati yang menyimpan niat jahat. Kehidupan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.