Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 128: Hubungan Hati


Ingin hati tidak menyetujui jawaban Pak Dokter. Akan tetapi sebagai seorang perawat maka tugas utama adalah menjalankan perintah dari sang tuan. Meski untuk itu harus menekan pemikirannya sendiri. Yah apa boleh buat. Tak berharap banyak karena situasi memang tidak semudah berbicara.


Ketegangan antara Dokter dan Perawat, membuat Selena yang baru saja datang mengernyit curiga. Ia bukan dokter, tetapi bisa membaca ekspresi wajah orang lain. Termasuk kegelisahan, keraguan dan rasa takut yang menyatu dengan tatapan mata terarah pada pasien. Dimana Shena terbaring seperti mayat hidup.


Jika kemarin masih ada sedikit rona merah di wajahnya, hari ini benar-benar pucat. Apa istri kakaknya kekurangan darah? Sebenarnya kasus yang dialami Shena sudah ia pelajari hanya saja beberapa point tidak bisa dipahami secara akal yang sibuk memikirkan masalah bercampur menjadi satu.


"Ekhem! Apa yang kalian bicarakan? Apa semua baik?" tanya Selena tak ingin memberi penekanan yang semakin menambah rasa kekhawatiran bertambah tanpa alasan yang jelas.


Pria yang mengenakan kaos longgar dipadukan celana jeans pensil menoleh ke belakang disambut tatapan tanya yang menusuk, "Queen, Anda disini? Bukankah harus ada yang menemani baby ...,"


Tangan terangkat menghentikan pembelaan yang hendak dilakukan Dokter Veer, pemuda yang memiliki status sebagai lulusan terbaik kedokteran itu meringis karenanya. "Disini kalian bekerja. Kuharap tidak bermain-main denganku."


"Saat ini asien dalam keadaan kritis. Dimana selama dua puluh empat jam kedepan menjadi masa-masa paling penting. Pengobatan yang dilakukan terus ditolak oleh tubuhnya hingga terpaksa menggunakan obat lain yang kemungkinan keberhasilannya dua persen saja.


"Beberapa kasus memang bisa sembuh seperti sedia kala, tetapi ada satu atau dua kasus yang berakhir amnesia total. Semua ingatan terhapus secara otomatis karena regenerasi saraf di otak. Maka pasien akan menjadi seperti bayi lagi. Semua harus dipelajari." Dokter Veer menjelaskan secara singkat, jelas dan padat.


Tidak habis pikir dengan keputusan yang diambil tanpa persetujuannya. Bagaimana dokter itu bisa ceroboh? Ingin mengeluh, tapi sudah terjadi. Sekarang harus berusaha untuk menyelamatkan kehidupan Shena yang sangat dinanti oleh Danish.


Janjinya menjaga keluarga tidak bisa diabaikan meski untuk itu harus bekerja sangat keras. Ia percaya ketulusan mampu mengikat hubungan hati tanpa kehilangan arah tujuan. Sesak yang ia rasakan, justru lebih menyiksa pengaruh racun yang Shena konsumsi.


"Apa kamu sadar dengan perbuatanmu?" Selena menatap intens pria di depannya yang berjarak tiga meter, anggukan kepala si pria membuatnya menahan napas. "Pengobatan akan berhasil, jika mempercayai setiap usaha dalam bentuk ikhtiar. Jangan sembunyikan apapun lagi karena akulah yang bertanggung jawab atas pasien."


Setelah mengucapkan apa yang perlu disampaikan, Selena kembali meninggalkan kamar rawat Shena. Wanita itu mencoba mencari ketenangan dengan bersemedi di ruang olahraga. Tidak ada lagi yang ingin dilakukannya selain melampiaskan emosi yang bercampur dengan cara seperti biasa.


Suara pukulan yang menggema memenuhi seluruh ruangan kaca dengan luas sepuluh kali tujuh meter dilengkapi perlengkapan olahraga yang lengkap seperti arena gym yang biasa dijadikan sebagai tempat bisnis. Tanpa mengingat waktu yang ia habiskan karena peluh yang ia dapatkan.


Kedua tangan yang sibuk meninju samsak tidak membuat wanita itu lengah. Ia sadar akan langkah kaki yang berjalan dari arah belakang. Suara yang tidak begitu tegas dengan aroma parfum floral yang menyegarkan. "Apa kamu ingin bicara sesuatu, Nai?"


Dialah Naina. Selama beberapa hari di London, bumil itu hanya sibuk merenung mengingat semua kenangan masa lalu hingga langsung mengalami penurunan kekebalan tubuh. Wajahnya terlalu lelah untuk terus menerus berpura-pura tersenyum di depan keluarga.


Ia memang menikah dengan Xavier dan pria itu berusaha menjadi suami yang baik. Tidak memungkiri akan kebahagiaan yang didapatkan dari pernikahan tersebut hanya saja perasaan bersalah atas insiden yang menimpa Shena. Bagaimana caranya menjelaskan rasa pengap yang memenuhi rongga dada.


Naina duduk di bantalan kursi yang tersedia di ruangan olahraga. Tatapan mata lesu, wajah sayu tanpa senyuman seraya menghela napas panjang, "Apakah Shena akan baik-baik saja? Bisakah kami seperti dulu lagi? Aku rindu sahabat terbaikku."


Suara isak tangis yang terdengar pecah begitu saja, membuat Selena menghentikan pukulan tangannya. Ia mengalihkan perhatiannya pada wanita yang tengah berbadan dua itu. Jelas bumil memiliki mood jumping yang semakin menambah kadar emosi tak menentu. Akan tetapi tidak mengubah alasan dibalik kesedihan yang ada.


Wajah yang tertutup kedua tangan dengan tangisan semakin kencang. Tetesan air mata jatuh membasahi pakaian bumil itu, benar-benar menjelaskan seberapa besar rasa bersalah yang menjadi beban hati selama setahun terakhir. Sepertinya selama ini hanya bisa bungkam tanpa pengaduan hati.


Entah apa yang merasukinya hingga tanpa permisi mengusap kepala Naina. Sayangnya si bumil semakin tersedu-sedu meratapi hal yang mungkin harus dijelaskan terlebih dahulu. Apalagi ia hanya sekedar tahu nama dan basically dari sahabat Shena. Perlahan keadaan mulai tenang ketika suara tangisan mulai mereda.


"Minumlah!" Selena mengulurkan segelas air putih yang tersedia di meja sebelah kanannya, lalu diterima Naina, kemudian diletakkan kembali ke atas meja. "Berdoalah agar Shena kembali pulih, tapi kenapa kamu begitu ketakutan? Bukankah kalian sahabat dan hubungan tidak sesingkat waktu yang bisa menjadi kenangan tak bermakna."


"Shena bukan hanya sahabat. Dia saudara terbaikku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk memisahkan dia dari keluarganya sendiri. Andai waktu itu ...," Nai tak sanggup melanjutkan kisah perjalanan hidup mereka yang dipenuhi lika-liku.


Rasa sesak di dada semakin menghantam tanpa kasihan. Bagaimana mengatakan jika secara tidak langsung ia dan Shena bertukar tempat. Satu sisi hanya tentang kebahagiaan dan sisi lain? Tak seorangpun tahu karena saat ini Shena masih tidak sadarkan diri. Selena memahami ikatan sahabat antara Nai, Shena dan Siti sudah melebihi ikatan darah.


"Kehidupan kalian pasti saling mengasihi dan memberikan support untuk satu sama lain, tapi takdir menguji hubungan kalian dengan perpisahan. Manusia terlalu sering menggunakan kata andai," Selena menghela napas, tatapan mata ke depan dimana hanya ada kaca tembus pandang.


"Nai, Aku bukan Shena atau seorang sahabat karena disini peranku sebagai adik angkat Ka Dan. Bantulah kami dengan doa mu karena itu yang Shena butuhkan saat ini, jika semua mengirimkan doa. InsyaAllah semua akan baik sebagaimana Allah menggariskan takdir.


"Kamu ingat ini baik-baik bahwa kita disini sebagai keluarga bukan orang asing. Jaga kondisimu karena ada harapan keluarga yang menjadi bagian dari jiwamu. Ibu hamil harus tahu cara melindungi anak mereka sampai terlahir kedunia." ucap Selena menyadarkan Naina yang langsung menghapus air mata, meski cairan bening berasa asin enggan untuk dihentikan.


Terkadang manusia sibuk merakit harapan tinggi hingga lupa bahwa jalan dari kehidupan telah digariskan. Terbiasa berandai-andai setinggi langit tanpa mengingat rasa sakit ketika jatuh tak sesuai ekspektasi. Apa yang bisa dilakukan manusia selain meneruskan kebiasaan buruk itu? Tidak ada nasehat yang tepat karena pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter dan sudut pandang masing-masing.


Seperti Nai yang tenggelam dalam rasa bersalah berpikir andai dulu ia tetap menikah dengan Fatih. Maka kemungkinan saat ini Shena bisa hidup damai bersama Danish. Kenyataan yang tidak bisa terwujud karena semua itu hanya andai. Tidak mungkin untuk diwujudkan ketika semua sudah menjadi masa lalu.


Selena berhasil membawa ketenangan yang menyusup menyadarkan Nai atas tanggung jawab seorang ibu yang baru saja menginjak usia beberapa bulan masa kehamilan. Kini kedua wanita itu saling berpelukan. Setidaknya satu masalah hati teratasi dan berakhir baik tanpa menimbulkan keraguan.


"Kalian disini? Mama mencari kalian berdua, cepatlah datang ke kamar!"