
Kedatangan Papa Anderson bersama Danish. Seperti pengalihan perhatian yang tepat. Siti hanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang sahabat, tetapi tidak menemukan batang hidung Shena. Melihat itu, ia semakin cemas dan tanpa permisi melipir meninggalkan bu dokter.
Langkah kaki menjauh dari kerumunan. Wajah yang cemas dengan emosi yang tak menentu. Sudah sejak awal memberikan peringatan, tapi ketakutan yang dia rasakan hanya dianggap angin lalu. Ingin mengeluh pada siapa sekarang? Tidak ada seorangpun yang bisa membantunya.
Malam yang semakin gelap, justru menghantarkan rasa panas di dalam hatinya. Pikiran yang terbagi antara kondisi Naina dan hilangnya Shena. Apa tidak ada yang menyadari semua itu? Atau memang semua orang melupakan menantu pertama keluarga Anderson?
Di tengah kesibukannya berjalan mondar mandir di pinggir kolam, tiba-tiba seseorang datang menyentuh pundaknya. Sontak saja tubuhnya terhuyung hampir jatuh ke dalam kolam renang. "Tante Melati, ngagetin aja."
"Kamu kenapa Siti? Dari tadi tante panggil loh, tapi kamunya gak nyaut." ujar Mama Melati seraya memeriksa kening gadis yang berdiri di depannya, tidak panas berarti tidak demam.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan, diraihnya tangan sang mama sahabatnya itu. Senyuman lebar ia perlihatkan tanpa ada keraguan. "Maaf, Tante. Siti cuma nunggu telpon dari pacar aja."
Pacar? Seperti tidak ada alasan lainnya saja. Yah, memang tidak ada karena pacar untuk para gadis seumuran dirinya sudah wajar saja. Benar saja pernyataan sepintas tanpa kebenaran itu mampu mengalihkan fokus yang mungkin akan berubah menjadi serius. Apalagi Papa William berjalan menghampiri mereka.
"Ma, acara untuk resepsi di undur karena insiden yang terjadi. Ayo, kita kumpul bersama yang lain. Para tamu sudah mulai membubarkan diri." jelas Papa William, membuat Mama Melati bertanya-tanya dalam dirinya sendiri.
Jika jodoh bisa ditukar begitu mudah. Bagaimana kehidupan Shena selanjutnya? Apalagi sejak masuk ke kediaman Anderson. Netranya masih belum menemukan keberadaan sang putri. Rasa rindu yang menggebu ingin mendapatkan rengkuhan penawar obat. Namun, apa dayanya?
"Tante, Om, masuk saja dulu. Siti masih mau disini." Siti mempersilahkan kedua orang tua Shena untuk kembali ke tempat seharusnya karena kini semua akan jelas tanpa ada tabir pembatas.
Sayangnya, Mama Melati justru menggandeng tangannya. "Kita masuk bersama. Anak gadis tidak baik di luar sendirian. Ayo, Pa."
Sudahlah. Tidak bisa melakukan penolakan atau sekedar memberikan alibi. Mau, tidak mau harus ikut masuk ke dalam dan benar saja. Ternyata para tamu memang sudah meninggalkan kediaman Anderson. Tidak ada yang tersisa, meski itu hanya staff dari pihak wo.
Satu persatu anggota keluarga turun dari lantai atas, lalu berkumpul di ruang tamu. Semua memenuhi panggilan dari Tuan Anderson kecuali Naina dan suami gadis itu yang harus berdiam diri di dalam kamar untuk istirahat. Pandangan mata saling menanyakan apa yang akan terjadi, tapi sang tuan rumah masih diam tanpa kata hingga pintu utama kembali terbuka.
Kedatangan seorang wanita dengan pakaian bertudung yang menggandeng Shena memasuki kediaman Anderson mengalihkan perhatian semua orang. Langkah kaki yang terus berjalan maju tanpa memberikan jeda untuk berhenti walau hanya sesaat. Buru-buru Dan beranjak dari tempat duduknya, langkah yang berlari kecil. Kemudian merengkuh tubuh sang istri yang masih nampak begitu lemas meski sudah memiliki kesadarannya kembali.
''Nak, Shena kenapa?'' tanya Mama Melati dengan jantung berdebar, untuk pertama kalinya melihat Shena tidak berdaya.
Putrinya dalam keadaan sadar, tetapi seperti tenggelam dalam lamunan yang begitu dalam. Kemana emosi yang biasanya meledak tanpa kendali? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi? Pertanyaan, demi pertanyaan semakin datang meminta jawaban.
Semua orang yang ada di ruangan tamu bingung dengan apa yang terjadi, bahkan semakin rumit tanpa ada penjelasan. Sedangkan Papa Anderson mengulurkan tangan mempersilahkan si wanita bertudung untuk memperkenalkan diri. Sekali gerakan tangan, tudung jatuh menunjukkan wajah aslinya.
Wajah yang terawat dengan garis oriental khas Indonesia. Sekilas pandang saja sudah bisa mengira siapa wanita itu, tapi apa alasannya datang dan berdiri di tengah keluarga besar? Ketika mereka sama-sama merasa asing dan tidak memerlukan bantuan satu sama lain.
''Eisha, ibu kandung dari Fatih.'' kata Eisha memperkenalkan diri, membuat Mama Quinara termenung menatap suaminya yang mengedipkan mata mengiyakan. ''Saya meminta maaf atas semua tindakan tak bertanggung jawab dari putraku. Aku tidak memiliki apapun lagi, selain mengharapkan maaf dari kalian semua."
Di antara semua orang yang berkumpul hanya Mama Melati dan Papa William yang tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Pasutri itu hanya mencemaskan keadaan Shena yang tampak tidak sehat. Apalagi tidak memiliki tenaga dan juga semangat, seperti mengalami anemia. Heran dengan keadaan yang ada, tetapi siapa yang akan menjelaskan?
Papa Anderson beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri Papa William yang berdiri di sebelah Mama Melati. Apa yang sudah terjadi, tidak akan bisa di ubah lagi. Kini yang akan menjelaskan situasi hanyalah orang yang bertanggung jawab. Meski untuk melakukan hal itu harus bertindak secara tidak adil.
"Wil, Aku tidak akan bicara panjang kali lebar. Cuma satu yang mau aku sampaikan. Shena harus bercerai dari Danish." ucap Papa Anderson seketika menyentak kesadaran sahabatnya.
Tubuh yang sudah dipenuhi penyakit bergetar tak mampu menahan rasa terkejutnya. Bagaimana bisa melakukan perceraian? Pernikahan saja baru hitungan minggu. Seakan janji suci menjadi permainan yang tak kasat mata. Tidak habis pikir dengan pernyataan sang besan yang cukup menguras emosinya.
Tidak terima dengan keputusan yang dibuat sang besan. Mama Melati berjalan mendekati Papa Anderson, lalu memegang kedua lengan pria itu seraya menatapnya dengan tajam. "Cerai? Apa Anda tahu akibatnya? Putriku akan menjadi janda, bahkan usianya masih sangatlah muda. Apa ini lelucon?!"
"Tidak. Perceraian harus dilakukan dan demi kebaikan Shena sendiri." jawab Papa Anderson menahan dirinya untuk tetap mengikuti keinginan yang makhluk yang tengah mencoba mengendalikannya dalam permainan.
Terkejut? Bukan hanya sakit di hati, tetapi lelah pikiran juga. Bagaimana akan memilih, ketika dihadapkan pada persimpangan jalan yang bisa menyakiti seluruh anggota keluarganya. Melepaskan Shena, bukanlah sebuah keinginan, melainkan paksaan bahkan ia dan Danish sudah berdebat hingga saling bermusuhan.
Tanpa kata, satu tarikan tangan bersambut tamparan keras dengan suara yang bergema membuat telinga berdengung. "Tidak ada perceraian! Siapa yang akan menikahi putriku? Jika di usia muda sudah menjanda. Apa kamu pikir masyarakat tidak akan mencemooh Shena. Sadar Anderson, kita ini keluarga."
Kemarahan seorang ayah yang wajar, tetapi keputusan telah dibuat dan tidak bisa di ganggu gugat. "Justru karena kita keluarga, maka aku melepaskan Shena menjadi menantuku."
Speechless dengan jawaban pasti sang sahabat. Seketika tak mampu lagi untuk berargumen. Apalagi melihat istrinya yang terduduk di lantai tak mampu menopang tubuhnya lagi. Perasaan hancur tak bisa disembunyikan lagi, memikirkan Shena akan menjanda. Sungguh kejam dunia menempatkan posisi itu untuk gadis yang masih begitu muda.
"Surat-surat akan diurus oleh pengacara kami ...,"