Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 54: Kebenaran yang Menyakitkan


Ingin sekali memeluk tubuh kekar yang ada di depannya. Pria yang menatapnya dengan perasaan bersalah, binar mata sendu itu. Namun, hatinya tertahan mengingat langkah kaki yang meninggalkan dia satu minggu yang lalu. Kejujuran tidak memiliki arti, ketika yang mendengarkan hanya pasrah dalam rasuk amarah.


"Aku mau tidur. Permisi." Pamit Shena beranjak dari kursi belajarnya, ini bukan keegoisan, tetapi sisa rasa akan kekecewaan.


Apa kalian tahu, menjadi manusia yang menerapkan prinsip kejujuran diatas rasa sakit atas kebenaran? Meskipun, dunia saat ini hanya dihuni seribu per satu orang yang jujur. Bukan berarti nilai dari sebuah kejujuran adalah diabaikan. Memang benar, polisi saja membutuhkan bukti untuk menentukan tersangka bersalah di pengadilan.


Sementara dia? Tidak ada bukti ataupun saksi. Lalu, bagaimana berharap Dan akan percaya pada ucapannya? Seperti pungguk merindukan bulan. Tidak akan tersampaikan. Langkah Shena yang semakin menjauh, tapi mendekati ranjang, membuat Danish mengejar gadis itu. Memeluknya dengan erat dari belakang.


Keduanya terdiam menyatukan hembusan nafas dalam. "SheZa, dengarkan aku sekali saja. Setelah itu, kamu boleh memberikan hukuman padaku. Apapun hukuman darimu, aku siap menerima tanpa keluhan."


"Apa dayaku?" Shena melepaskan tangan kekar yang melingkar di perutnya. Tangan yang menahan pergerakannya, lalu berbalik menatap pria yang terdengar tengah mencoba untuk memperbaiki diri. "Katakan! Aku akan mendengarkan."


Tatapan mata yang saling beradu, tetapi Shena selalu melepaskan tangan Dan yang berusaha untuk terus menyentuhnya. Gadis itu, membuat suaminya sendiri harus menjaga jarak dengan kesadaran penuh. Beruntung pria itu sadar. Jika semua yang terjadi karena ulahnya sendiri.


"Apa kamu tahu nama dari pria yang melecehkan Naina?" Dan bertanya serius, membuat Shena mengernyit.


Tentu tak paham karena seminggu yang lalu. Disaat menceritakan kisah hidup Naina. Tidak sekalipun menyebutkan nama si pria brengsek yang telah menodai sahabatnya. Semua itu, ia lakukan agar tidak memperumit masalah. Namun, pertanyaan dari Dan. Kenapa hatinya berkata akan mendapatkan kejutan baru.


Kejutan yang pasti tidak pernah terbayangkan. Melihat kebingungan Shena yang memilih tetap bungkam. Danish mengeluarkan ponselnya, lalu sibuk mengetik sesuatu yang ternyata mencari nomer untuk melakukan panggilan. Suara salam dari seberang mengalihkan perhatian sang istri.


"Detective Wildan. Jelaskan sekali lagi tentang pria yang telah melecehkan Naina!" titah Danish tanpa basa basi.


[Tuan, seperti hasil penyelidikanku. Pelaku dari pelecehan itu adalah Suryo Anggoro. Ayah kandung dari Fatih. Pria yang memacari seorang pengusaha wanita, meski statusnya pada saat itu sebagai seorang suami. Bukan hanya itu karena bukti dari pelecehan yang menjadi kartu AS. Disimpan oleh putranya sendiri.]~jelas Detective Wildan, seketika membuat Shena terperanjat tak percaya.


Tatapan mata yang mencari kedamaian ditengah kebenaran pahit. Suryo Anggoro adalah ayah Fatih dan pemuda itu, berniat memanfaatkan Naina demi kepentingan pribadi. Lingkaran macam apa yang mengikat semua orang yang dikenalnya? Satu pihak menjadi keluarga tiri. Pihak lain menjadi sahabat, dan ikatan yang lain menjadi pasangan suami istri.


Rumit, tapi bukankan dengan kebenaran yang dibawa oleh Danish. Kini sudah jelas. Siapa musuh, dan siapa kawan. Satu yang mengusik pikirannya. Danish berada dipihak mana? Apakah pihak kebenaran atau akan mengusut ketidakadilan itu hingga ke meja hijau.


Panggilan diakhiri secara sepihak. Lalu, Dan membimbing Shena untuk duduk ditepi ranjang. Sudah jelas istrinya terkejut akan fakta yang tidak pernah terpikirkan. Malam ini, hanya berteman keheningan. Mencoba menerima kebenaran dalam kegelisahan.


Tak ada jawaban. Shena tak bisa berkata-kata lagi. Mengetahui kebenaran yang cukup menohok. Bagaimana caranya mengatakan pada Naina. Jika gadis itu akan menikahi putra dari sang pedofil. Tidak sanggup membayangkan perasaan sahabatnya itu. Akan tetapi, suatu saat nanti. Kebenaran pasti terungkap ke permukaan.


Malam berlalu menghempaskan angan. Dunia yang terus berputar mengubah waktu dalam pergantian. Rasa yang tak terlupakan mengalir dalam ingatan, membawa hasrat tanpa peraduan. Bintang malam yang tenggelam berarak meninggalkan kegelapan.


Keesokan harinya. Danish sudah bersiap untuk berangkat bekerja, tapi setelah melihat Shena yang masih terlelap bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya. Pria itu tak tega, jika tetap meninggalkan sang istri. Niat hati ingin membangunkan. Namun, ia terkejut ketika menyentuh tangan istrinya yang panas.


"SheZa!" Panggilnya seraya mengecek kening, lalu turun ke leher jenjang istrinya. Benar saja, Shena mengalami demam tinggi. "Astafirullah, Aku akan bawa kamu ke rumah sakit."


Kepanikan membuat suasana rumah menjadi tegang. Para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan pagi, tiba-tiba ikut sibuk setelah mendengar suara langkah kaki sang majikan yang berlari menuruni anak tangga seraya menggendong nona muda yang memejamkan mata.


Pria itu segera melarikan Shena ke rumah sakit terdekat. Alih-alih mengabari keluarga. Danish hanya ingin menunggu istrinya, seorang diri. Langkah mondar-mandir di depan salah satu ruang pemeriksaan selama lima belas menit, hingga seorang dokter wanita keluar menanyakan siapa keluarga pasien.


"Saya, Suami pasien, Dok." jawab Danish pasti berselimut rasa khawatir akan keadaan Shena. "Bagaimana keadaan istriku? Apakah semua baik-baik saja?"


Antusiasme seorang suami yang menghadirkan senyum di wajahnya. "Tuan, sebaiknya kita duduk. Mari."


Tidak sabar ingin tahu keadaan Shena. Namun, tidak mungkin menolak ajakan Sang Dokter. Lagi pula, ini rumah sakit. Tidak baik untuk emosi, apalagi melakukan tindakan gegabah. Sesaat menghela nafas panjang, lalu mengikuti arahan si dokter. Keduanya duduk bersebelahan di depan ruangan Shena dirawat.


"Tuan, apakah pasien mengalami banyak tekanan? Misal mendapatkan masalah yang bertubi-tubi." Sang dokter memulai percakapan dengan hati-hati.


Danish mengangguk pelan. Seketika ia mengingat waktu selama seminggu terakhir yang menari dipelupuk mata. Meski tidak mendengar satu keluhan dari perubahan sikapnya. Shena tetap melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Termasuk membuat sarapan pagi, dan malam. Jujur saja, penyesalan akan selalu datang terlambat.


"Melihat hasil pemeriksaan. Pasien mengalami tekanan mental. Banyak yang dipendam, tapi semua masalah terus datang dan membuat kontaminasi antara emosi dan jalan pemikiran. Kondisi ini, bisa menyebabkan kerusakan pada syaraf. Jika terus terjadi, kemungkinan pasien bisa mengalami gangguan mental."


Dokter mengusap bahu Danish, mencoba untuk membesarkan hati seorang suami. Berharap pria yang seumuran dengan putranya itu akan belajar memahami penderitaan seorang istri. "Saat ini, pasien masih dalam keadaan baik. Hanya saja, Aku menyarankan agar Tuan lebih memperhatikan istrinya, lagi."


"Dok, apakah kesehatannya juga baik-baik saja? Atau istriku perlu bertemu seorang psikiater?" Danish bertanya untuk memastikan agar bisa memberikan perawatan yang terbaik, ketika dokter menggelengkan kepala. Lega rasanya.