Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 91


Pagi ini tidak seperti biasanya, meskipun mereka tetap sarapan satu meja seperti biasanya namun, Suasananya tampak suram dan hening. Biasanya setiap sarapan seperti ini ada saja perdebatan antara Dewi dan Dewa, yang mewarnai sarapan pagi bersama, namun kali ini semua orang diam. Dewi memasang wajah datar dan sembab, engan mengeluarkan suara sedikitpun, hilang sudah kecerewetannya. Dewi lebih fokus dengan sarapannya, ia ingin cepat-cepat pergi dari keadaan canggung ini.


Dewa jangan ditanya lagi, pria itu terus saja menempel pada istrinya. Wajahnya terlihat sembab, bagaimana tidak. Setelah pertengkaran itu, Dewa menangis sepanjang malam dipelukan istrinya karena merasa bersalah. Sementara Veli terus memeluk pria itu, seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Ditambah sekarang pria itu dalam mode sensitif, Dewa tidak melepaskan pelukan istrinya dan tidak bisa ditinggal barang sedikitpun, pria itu sungguh merasa bersalah pada istri dan adiknya. Dia menyesal sudah berbuat buruk pada istrinya selama ini, memaksanya untuk bersandiwara agar ia tidak terlihat buruk dimata keluarganya.


Dewa juga merasa bersalah pada Dewi karena ia tidak mengetahui jika selama ini adiknya itu dibeda-bedakan dengan dirinya, justru ia juga ikut-ikutan menekan adiknya untuk menjadi sempurna, tanpa tahu jika adiknya selama ini tertekan dan depresi. Sepertinya setelah ini Dewa akan bicara dengan keluarganya, perihal masalah Dewi. Dia tidak ingin lagi ada yang menyakiti adiknya itu meskipun itu keluarganya sendiri. Termasuk kedua orangtuanya, ia tidak menyangka orangtuanya bisa seperti itu pada adiknya.


Setelah sarapan selesai, Dewi pergi begitu saja untuk pergi ke Kampus tanpa berpamitan. Dewa dan Veli hanya bisa memandang sendu perempuan itu.


"Sayang, ini semua salah Papi. Papi tidak bisa menjadi Kakak yang baik buat Dewi, pasti Dewi benci punya Kakak seperti, Papi." Dewa membenamkan kepalanya di ceruk leher Veli, ia tidak berselera untuk meneruskan sarapannya yang baru dua suap masuk ke mulut nya.


Veli hanya bisa menghela nafasnya, suaminya dari sejak semalam terus menyalahkan dirinya. "Ini bukan salah Papi. Papi juga adalah Kakak yang baik dan juga suami terbaik buat aku, walaupun nyebelin..."ujar Veli menenangkan suaminya dengan sedikit bercanda.


"Papi tidak boleh seperti ini terus, dan Mami yakin jika Dewi tidak mungkin membenci Papi. Mungkin dia hanya kesal saja, setelah ini mari kita bicara baik-baik dengan semua keluarga, tentang masalah Dewi. Kalau Papi terus-terusan sedih, nanti Mami dan baby-nya juga ikut sedih, jadi jangan sedih lagi ya, Papi."


Dalam keadaan seperti ini, Dewa sangat bersyukur ada istrinya di sisinya. Pria itu sempat khawatir istrinya akan meninggalkannya karena terpengaruh dengan ucapan Dewi kemarin, tapi syukurlah istrinya itu benar-benar sudah memaafkannya dan berjanji untuk tidak meninggalkannya.


"Sekarang Papi Makan lagi, katanya pagi ini ada meeting penting, 'kan?" Sebenarnya Dewa tidak semangat sama sekali untuk pergi ke kantor, ia ingin dirumah saja. Namun karena ada meeting penting, mau tidak mau ia harus tetap berangkat ke kantor. Apalagi hari ini istrinya itu juga sudah mulai bekerja lagi, menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum cuti panjang.


"Tapi...Papi mau Mami yang suapin, boleh?"


Veli tentu saja tidak akan menolak, biasa dipastikan akan ada drama jika ia berani menolak keinginan suaminya yang super duper manja dan sensitif itu.


TBC.


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...