Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 76


"Iiisss...mengganggu saja sih. Orang mau mimi cucu gagal kan," gerutu Dewa kesal sambil memperbaiki kaos istrinya.


"Sabar Mas, nanti malamkan juga bisa, lagian ini masih sore..." ujar Veli mengelus kepala suaminya dengan lembut, mereka sudah seperti pasangan ibu dan anak kalau seperti itu.


"Iya baby..." Dewa kembali mendusel dan memeluk istrinya dengan manja, dan menatap sengit seseorang yang menghampiri mereka dengan berteriak tadi.


*


*


"KAK VELI...aku pulang...!!!" teriak seorang wanita cantik dengan heboh berlarian menghampiri Veli dan Dewa, di belakangnya terdapat seorang pria yang mengekor tampak mendumel karena kerepotan membawa koper wanita itu.


grep


"Kak Vel, selamat atas kehamilannya. Aku bahagia banget," ujar wanita itu dengan antusias, seraya memeluk erat tubuh Veli yang tengah duduk di sofa.


"Terima kasih..." jawab Veli sembari membalas pelukan wanita itu.


Dewa yang melihat itu, langsung berdiri dan melerai pelukan kedua wanita itu.


"Heh...! Jangan peluk istriku terlalu erat Dewi. Nanti bayiku sesak napas di dalam sana," ujar Dewa possesif, membuat wanita itu melepaskan pelukanya dan berdecak kesal dengan tingkah possesif kakaknya.


Ya, wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dewina si ratu cetar membahana. Seharusnya rencananya ia dan Bima baru pulang besok, namun saat saat mendengar kabar dari orangtuanya jika Veli hamil, Dewi dengan tidak sabar langsung mengajak Bima untuk pulang ke Jakarta. Tetapi sebelum kembali ke Jakarta. Dewi, terlebih dahulu memborong berbagai oleh-oleh khas Bandung yang nantinya akan ia berikan kepada teman-teman kampusnya. Dan juga untuk Veli dan Dewa tentunya, hingga membuat Dewi membutuhkan dua koper besar untuk menampung oleh-oleh tersebut.


"Cih... dasar possessive. Lebay," cibir Dewi sembari mendudukan tubuhnya di sofa dengan kesal.


"Biarin, aku tidak mau bayiku nanti penyet, garah-garah pelukan eratmu itu," seru Dewa menatap sengit adiknya. Sementara Dewi hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan kakanya yang di rasa sangat tidak masuk akal, bagaimana mau penyet perutnya aja masih kempes, pikir Dewi.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga bayinya sehat sampai lahiran nanti," ucap Bima dengan tulus sembari memeluk Dewa.


"Terimakasih Bima..." Dewa membalas pelukan sahabatnya itu dengan rasa gembira, dia sangat bangga sekali sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


"Apa aku juga boleh memeluk Veli, sebagai tanda selamat?" Canda Bima, setelah pelukanya terlepas.


"Tidak perlu, anggap saja tadi aku yang mewakilkan," jawab Dewa dingin dengan ekspresi jengkel. Mana mungkin dia membiarkan istri tercinta di peluk oleh pria lain, Dewa lekas duduk kembali di samping istrinya. Begitupun dengan Bima yang juga turut duduk di sebelah Dewi, berhadapan dengan kedua pasutri bucin tersebut.


"Ngomong-ngomong, bukankah kalian pulangnya besok? Apa ada masalah?"tanya Veli, bukan tidak senang mereka kembali dengan cepat namun dia sedikit khawatir takut mereka ada masalah atau apa.


"Di Bandung semua keluarga heboh membahas kehamilan kak Veli, terutama Mama dan Bunda kak Veli, mereka telefonan lama banget entah apa yang mereka rundingankan. Jadi aku langsung pulang mendengar kabar itu, aku seneng banget bentar lagi mau punya ponakan. Waktu beli oleh-oleh, aku juga ingin sekali beli baju bayi yang imut-imut di sana, eh malah di omeli sama Mama, katanya pamali apa pakramli gitu..." jelas Dewi. Mengingat bagaimana hebohnya semua keluarganya, pasalnya mereka semua tidak yakin dengan pernikahan ini, apalagi saat melihat raut muka Dewa yang sangat terlihat jelas tidak ada kebahagiaan sedikit pun saat pernikahannya.


"Pamali sayang," timpal Bima.


"Ya yaya... itu lah pokoknya," ucap Dewi.


Dewa dan Veli hanya mengangguk saja mendengar itu, memang tadi mereka mengabari keluarga di Bandung tentang kehamilan Veli, tentu saja mereka sangat bahagia mendengarnya. Veli mendapatkan banya sekali wejangan-wejangan dari sang Bunda dan juga mertua, begitu juga dengan Dewa, yang tak luput mendapatkan banyak sekali ceramahan dari mereka terutama dari sang Papa, yang terkenal tegas itu.


"Oh, iya. Kita juga punya kabar bahagia loh..."ucap Bima, sangat terlihat jelas pancaran kebahagiaan dari laki-laki itu. Sementara Dewi mendadak tersenyum malu malu, entah apa yang di pikirkan wanita itu.


"Kabar apa? Jangan bilang kalau kalian juga mau punya dedek bayi?!" tanya Dewa dengan tatapan mengintimindasi kedua sejoli itu, kedua matanya menyorot tajam penuh ancaman. Sontak kedua sejoli itu langsung kaget, dan dengan cepat menggeleng.


"Mas! Dengering dulu dong. Jangan asal bicara seperti itu," tegur Veli dengan memelototi suaminya itu.


"Iya sayang, maaf..." cicit Dewa menatap takut istrinya dengan bibir mengerucut. Melihat tingkah Dewa, membuat Dewi dan juga Bima ingin sekali gumoh. Dewangga yang arogan bahkan kepada istrinya sendiri kini mendadak menjadi tikus imut.


"Dih...dih... Najis bet sumpah," ucap Dewi menatap jijik kakaknya yang bertingkah mengemaskan. Sangat sinkron sekali dengan kepribadian laki-laki itu yang galak dan arogan.


Sedangkan Bima tertawa terbahak-bahak. Tidak bisa ia bayangkan andai saja Diki, Firza, dan Gery melihat ini, pasti bisa di pastikan Dewa bakalan menjadi bulan bulannan mereka.


"Sayang lihat mereka, mengejek ku," adu Dewa kepada Veli, Dewa sudah seperti seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.


"Sini, sini aku peluk. Dan kalian berhenti mengejek Mas Dewa, dia seperti ini semenjak aku hamil, dia menjadi lebih sensitif dan manja. Lebih baik cepat katakan kabar bahagia apa yang kalian bawa." Dari semenjak Veli hamil Dewa menjadi berubah, awalnya Veli tidak mengerti, namun saat dia tadi baca-baca seputar kehamilan di internet, dia jadi tahu tidak hanya wanita hamil saja yang bisa berubah tingkahnya ternyata sang suami juga bisa, semacam kehamilan simpatik.


Akhirnya kedua sejoli itu mengerti dan berhenti mengejek Dewa yang mendadak menjadi laki-laki hello kitty itu.


Sedangkan Dewa, ia menatap istrinya dengan penuh kekaguman. Dimatanya sekarang Veli adalah superheronya yang senantiasa membelanya jika ada yang mencoba untuk mengejeknya, seperti sekarang. Di pikirkannya sekarang, dia akan melaporkan siapa saja yang sudah berani mengejeknya pada istrinya, biar orang itu di marahi oleh Veli, seperti Bima dan Dewi sekarang.


Duh otak Dewa kok makin konslet sih, seharusnya kamu yang harus menjadi superhero istrimu bukan sebaliknya. Semua orang pasti akan tepuk jidat, jika mengerti apa yang ada dalam pikiranmu saat ini, Dewa.


TBC.