
Bima menghembuskan nafasnya sejenak, sebelum berbicara. Yang mungkin akan membuat pasangan suami istri itu kaget, terutama Dewa.
"Ekhmm...jadi dua bulan lagi aku dan Dewi akan menikah," ujar Bima dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Menikah...!!!" Pekik Dewa dan Veli kompak. Kedua orang itu tentu saja kaget mendengar penuturan Bima yang akan menikah dengan Dewi, bahkan sudah di tentukan kapan mereka akan menikah. Lantas mengapa mereka tidak memberitahunya? Seketika Dewa yang tadinya bergelayut di pelukan istrinya langsung duduk dengan tegap, dan menatap serius Bima dan Dewi di depannya.
"Menikah? Dua bulan lagi? Kok biasa?" tanya Dewa beruntun dengan serius.
"Iya. Sebenarnya aku datang ke Bandung bukan hanya berniat mengantarkan Dewi saja, tapi aku juga berniat untuk melamar Dewi secara langsung pada Om Wiguna dan Tante Arumi. Aku tidak mau berlama-lama pacaran, sedangkan umurku sudah tidak muda lagi, kamu aja sebentar lagi mau punya anak, masak aku masih aja pacaran." Bima memang sudah memikirkan hendak melamar Dewi dari jauh-jauh hari, apalagi sebentar lagi Dewi juga akan lulus kuliah. Sebelumnya dia sudah berencana akan berangkat sendiri ke Bandung untuk meminta restu. namun, tiba-tiba Dewi mengatakan akan pulang ke Bandung, kangen dengan kedua orangtuanya, jadilah Bima mengantarkan Dewi sekalian melamarnya secara langsung. Entah lamaranya itu bakal di terima atau tidak, yang terpenting ia sudah menyampaikan niat baiknya itu.
"Kamu kenapa tidak bilang padaku? Kamu sudah tidak menganggap ku sahabat lagi, hah...!!!" Sembur Dewa, lelaki itu merasa jengkel pada Bima. Dia merasa tidak di anggap sahabat lagi oleh Bima, lantaran Bima tidak pernah bercerita sedikitpun padanya jika dia akan melamar adik tercintrongnya itu.
"Bukan begitu Dewa, hanya saja aku kurang percaya diri menceritakan niatku ini padamu. Bagaimana jika lamaranku ditolak oleh Om Wiguna, mengingatkan aku ini tidak sederajat dengan kalian terlebih aku ini hanya sebatang kara. Dan beraninya aku ini melamar putri dari keluarga Raharja, jadi aku memilih untuk tidak cerita dulu padamu, aku akan bercerita padamu saat aku sudah mendapatkan jawaban pastinya. Jadi kamu jangan berfikir aku sudah tidak menganggapmu sahabat, aku hanya merasa tidak percaya diri dan takut di tolak...," jelas Bima panjang lebar, dia tidak ingin sahabatnya itu salah faham dengannya.
Bima memang sangat merasa ketakutan akan penolakan lamarannya terhadap Dewi, hidup sebatang kara membuat laki-laki itu merasa pesimis, jika lamaranya itu akan di terima, dia berfikir pasti keluarga Raharja juga mengutamakan bibit bebet bobot seperti keluarga konglomerat lainnya. Sebenarnya Bima masih memiliki beberapa sanak saudara, namun mereka pergi entah kemana dan tidak ada yang peduli sedikitpun padanya, jadilah Bima hidup sudah seperti sebatang kara. Beruntung Dewa mau berteman dengannya waktu kuliah dulu, dan sekarang ada teman-teman SMA Dewa yang juga berteman dengannya.
Dewi mengusap-usap punggung Bima, ketika melihat mata Bima berkaca kaca saat bercerita. Sementara Veli yang memang hatinya lembut pun, menitikkan air matanya, terlebih dia tengah mengandung jadi lebih mudah terbawa perasaan.
"Kamu jangan pernah berfikir seperti itu, keluarga kami tidak pernah membeda-bedakan orang. Asal dia baik, setia dan bertanggung jawab," tutur Dewa. Keluarga Raharja tidak pernah memandang status orang untung di jadikan menantu, yang penting dia baik, setia dan bertanggung jawab. Menurut mereka, orang yang bibit bebet bobotnya jelas belum tentu memiliki sifat tersebut.
"Terimakasih...kalian memang keluarga yang baik, mau menerima pria sepertiku. Bahkan keluargaku sendiri pergi entah kemana, seolah-olah mereka engan sekali aku menumpang hidup dengannya."
"Kak Bima hiks..." Dewi ikut menangis, melihat Bima yang menangis untuk pertama kalinya di hadapannya. Laki-laki itu terlihat begitu terluka saat menyebut keluarganya. Dewi lekas berhamburan memeluk calon suaminya itu.
Sementara Dewa yang memang lagi sensitif, mata pria itu turut berkaca-kaca. Dengan memeluk tubuh istrinya, yang sudah menangis terisak, Veli jadi merindukan keluarganya di Bandung.
Pada saat melamar Dewi, Bima sudah sangat ketar ketir ketika berhadapan langsung dengan Pak Wiguna yang notabennya Tuannya juga, karena beliau adalah orang tua dari atasannya sendiri.
Bima sudah sangat ikhlas jika lamarannya bakalan di tolak, lantara perbedaan kasta di atara mereka, walaupun Bima sekarang bisa di katakan kaya bahkan sangat kaya, akantetapi masih tidak sebanding dengan keluarga Raharja. Namun, dugaannya salah besar. Ternyata niatnya justru di sambut dengan antusias oleh Mama Arumi, wanita yang memang sudah mengenal Bima itu sangat terlihat menerima Bima dengan baik, begitupun dengan Pak Wiguna yang menyambutnya dengan hangat. Tidak ada adegan-adegan penghinaan, ataupun drama pengusiran dengan tragis seperti yang Bima bayangkan saat sebelum tidur setiap malamnya.
Mereka langsung merestui hubungan Bima dan Dewi, Mereka sangat mengenal siapa Bima. Bima adalah pria mandiri, pekerjaan keras dan bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri sejak SMA, tanpa ada sosok keluarga yang menyayanginya. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran pria itu, justru mereka sangat bersyukur anak perempuan yang susah di atur itu ada juga yang mau menjadikannya istri, apalagi pria itu adalah Bima. Mereka sempat khawatir jika Dewi akan salah dalam memilih pasangan, lantaran pergaulan perempuan itu yang begitu bebas.
Tanpa pikir dua kali, Pak Wiguna langsung menyuruh mereka menikah tanpa adanya acara tunangan. Setelah berunding dengan beberapa kerabat, pernikahan Bima dan Dewi akan di gelar dua bulan lagi dan pernikahan mereka akan di gelar di Jakarta, sesuai dengan permintaan Bima, karena semua teman-teman Bima ada di Jakarta semua. Untuk keluarganya, Bima sudah tidak peduli lagi, lagian Bima juga tidak tau di mana keberadaan keluarganya itu.
TBC.