Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 64


"Maksud gue, gue nanya itu beneran istri lo atau simpena lo. Secara kan bukan jadi rahasia lagi di antara kita, jika seorang Dewangga tidak mencintai istrinya. Lo sendiri kan yang sering cerita sama kita-kita, tentang ketidak sukaan lo sama istri lo itu, jadi tidak ada salahnya dong gue nanya seperti itu..." ujar Samuel dengan tersenyum miring menatap Dewa, yang sudah menatapnya tajam dengan rahang yang mengeras.


Deg


Jantung Dewa berdetak kencang, sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi. Kenapa ia bisa sebodoh ini tidak memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi jika mengenalkan sang istri pada teman-temannya, ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri kini menjadi bumerang untuk rumah tangganya, hubungan yang baru bahagia ini akankah suram kembali akibat ulahnya sendiri. Kata demi kata yang pernah ia lontarkan untuk menghina istrinya, seolah berputar kembali di otaknya. Menyesal, itulah yang saat ini pria itu rasakan, mungkin setelah ini dia akan kehilangan muka di depan istrinya.


"Jaga bicara lo sialan...!!!"Desisi Dewa tajam, dengan kedua tangannya mencengkeram kerah baju Samuel dengan kuat. Suasana yang tadinya ceria kini mendadak tegang, para laki-laki sudah ancang-ancang supaya tidak terjadi perkelahian, untung mereka berdiri agak jauh dari tamu-tamu yang lainnya sehingga tidak menjadi pusat perhatian, walaupun ada sesekali yang memandang mereka heran.


Sedangkan Veli yang mendengar itu semua, dia hanya diam dengan mata memerah menahan tangis dan tangan yang mengepal kuat. Wanita itu tidak menyangka ternyata mulut suaminya itu sangat nyinyir, jadi selama ini bukan hanya menjelekkannya di hadapannya Bima, tetapi juga di depan teman-teman yang lainnya. Kecewa dan juga malu itulah yang wanita itu rasakan, seolah dia sedang di lempar kotoran di wajahnya saat ini, pantas sedari tadi dia terus di pandang dengan tatapan seolah menilai dari teman-teman suaminya.


Bima yang sudah menebak kejadian ini hanya bisa menghelai nafas dengan berat, tangan yang tadinya ia gunakan untuk memegang gaun sang kekasih, kini beralih profesi memegang lengan Dewa yang mencengkeram kerah baju Samuel.


Sementara Dewi, rasanya dia ingin merobek mulut busuk kakaknya itu, jika tidak mengingatkan dia berada di acara pesta, mungkin Dewi sudah menaboki bibir kakaknya yang kelewat lemes, sungguh dia sangat geram sekali saat ini.


"Santai bro...gue kan cuma nanya. Oh jangan lupa, lo juga pernah taruhan kan sama gue. Lo bilang, lo bakalan ngasih istri lo itu sama gue jika dalam waktu satu tahun pernikahan lo masih tidak mencintai dia. Tapi sepertinya harapan gue pupus, padahal istri lo itu sangat cantik dan lihat badannya itu sangat sexy. Huhh...atau gara-gara istri lo berubah makanya sekarang lo mau ngakuin dia, munafik lo Dewa..." Ujar Samuel panjang lebar dengan santai, seraya mengangkat kedu tangannya dan tersenyum mengejek menatap Dewa yang mencengkeram kerah bajunya.


Bugggh...


"Mas...Kak...Dewa...!!!"Pekik mereka semua.


Satu bogeman kuat Dewa layangkan ke wajah Samuel, hingga pria itu tersungkur. Bima dan Diki dengan sigap memegang kendali Dewa saat Dewa hendak meninju wajah Samuel lagi, sedangkan Samuel, pria itu sudah di seret menjauh dari Dewa. Mereka tidak ingin membuat keributan di pesta bahagia Aldi.


"Bajingan...Sialan...Awas lo Samuel!!!" Umpat Dewa dengan nafas yang memburu, rasanya dia belum puas menghajar Samuel tadi. Untung mereka tidak jadi pusat perhatian saat ini, karena perhatian para tamu tertuju pada sepasang pengantin yang bersiap-siap hendak melempar buket bunga.


Sementara Veli kini wanita itu duduk mematung, sesekali menyeka air matanya. Dia sungguh sakit hati saat ini, tega sekali suaminya itu menjadikannya taruhan dengan memberikannya pada laki-laki lain, apakah dirinya tidak seberharga itu di mata suaminya.


Saat terjadi keributan tadi para wanita langsung menyingkir, Dewi langsung menarik Veli yang sudah menangis untuk menjauh dan mendudukanya di kursi, di dekat keramaian para wanita dan pria lajang yang sudah berkerumun untuk memperebutkan buket bunga yang akan di lempar oleh sang pengantin.


"Ini gimana sih, nggak tau orang lagi sedih malah sempet-sempetnya rebutan buket bunga," Kesal Veli, melihat adik iparnya yang sudah ikutan berkerumun dengan yang lainya.


"Awas kamu Mas, liat apa yang aku lakukan nanti untuk membalasmu..."Gumam Veli geram sembari memandang suaminya yang tengah di tenangkan oleh teman-temannya. Wanita itu sudah capek untuk menangis dan menangis, menghadapi hal ini harus menggunakan kelicikan suapaya suaminya itu jera.


"Satu, dua, tiga...."terdengar suara MC yang tengah menghitu untuk ancang-ancang melempar bunga, dalam hitungan ketiga pengantin melempar buket bunga hingga melayang di udara.


Para Wanita dan pria yang sudah berkerumun pun sontak langsung saling berebut, di sana tidak hanya para wanita saja yang berpartisipasi, tetapi juga para pria lajang turut heboh memperebutkan buket bunga. Namun, buket bungan yang sedang mereka perebutkan hingga dorong dorongan itu, justru melambung ke arah wanita yang sedang duduk dengan mengomel, dan salah satu pria di dekat wanita itu juga bergerak mengambil bunga itu.


Veli langsung melebarkan matanya saat tiba-tiba buket bunga jatuh tepat di hadapannya dan tangannyapun refleks menangkap bunga itu, namun yang membuatnya lebih kaget adalah sosok laki-laki tampan yang juga memegang buket bunga di tangannya, jadilah mereka berdua yang memegang buket bunga itu. Dewi yang melihat itu sontak membolakan matanya dengan mulut yang menganga lebar.


Mata Veli tak sengaja bertemu dengan kedua netrat laki-laki di hadapannya, yang juga tengan menatapnya. Para tamu yang melihat adegan itu langsung bersorak heboh, mereka tidak tau saja jika sang wanita sudah menikah.


"I-ini, ini buat kamu saja," ucap Veli dengan gugup, seraya menyerah buket bunga itu pada laki-laki di depannya.


"Eh-" laki-laki itu menerima bunga itu, namun tidak melepas tatapanya pada Veli. Dia seperti melihat sosok yang familiar, namun entah siapa itu.


Dewa yang melihat adegan itu dari kejauhan, seketika wajah pria itu memerah dengan mata yang membola lebar, dia melangkah dengan langkah lebar menghampiri istrinya, dan langsung meraih pergelanga tangan istrinya.


"Kita pulang!" Ucap Dewa dengan menatap tajam pada laki-laki di hadapan istrinya. Namun Veli justru menghempaskan tangan Dewa dan berlalu pergi begitu saja tanpa menatap kearahnya. Dewa hanya bisa menatap nanar istrinya, dia sungguh ketakutan saat ini, takut istrinya itu akan pergi meninggalkannya.


"Mam to the pus, MAMPUS...!!" ucap Dewi di depan wajah Dewa dengan tersenyum sinis, seraya berlalu mengikuti kakak iparnya.


TBC.