Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 89


Sementara di sisi lain, terlihat Bima sedang berdebat dengan Dewi. Saat sudah sampai di kediaman Dewa, Bima langsung masuk dengan wajah yang terlihat tidak bersahabat, seolah-olah ia sedang memendam sebuah kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun. Ditambah saat sudah bertemu dengan Dewi, kekasihnya itu bersikap biasa saja, seolah-olah ia sedang tidak merasakan punya salah sama sekali. Padahal jelas-jelas dia sedang memiliki masalah yang harus dijelaskan, namun saat Bima menyinggung masalah tadi siang, justru respon Dewi sangat membuat Bima marah dan kecewa. Sehingga tanpa tahu malu, Bima marah-marah di rumah bosnya sendiri.


"Kak Bima... akhirnya sampai juga. Aku sudah menunggu Kakak, loh..." Dewi langsung menyongsong dan memeluk Bima saat laki-laki itu sampai dan menghampirinya. Namun Bima tidak membalas pelukan sang kekasih seperti biasanya. Kali ini ia terlihat benar-benar marah. Namun sepertinya Dewi tidak menyadari hal itu.


"Kakak kemana saja, tidak menghubungiku dari tadi siang?" tanya Dewi dengan cemberut seraya duduk kembali di sofa ruang tengah.


"Kamu yang kemana saja? Bukankah aku tadi siang sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan padamu tapi kamu tidak meresponnya sama sekali. Memangnya apa yang kamu lakukan tadi siang sampai tidak sempat membalas pesanku, padahal jelas-jelas kamu sudah membacanya," cecar Bima dengan serius. Pria itu tidak seperti biasanya. Jika biasanya ia akan langsung menempel dengan Dewi, namun kali ini tidak. Pria itu memilih duduk bersebrangan dengan kekasihnya, dan tidak menggunakan panggilan manis yang biasanya ia sebutkan pada gadis yang akan menjadi istrinya.


"Oh, itu. Tadi siang aku menemani Kak Veli yang lagi ngidam mangga muda. Kita berdua mencari sampai keliling komplek karena memang belum musim sih, apalagi Kak Veli ingin dari pohonnya langsung, jadi aku tidak sempat mengangkat telepon dan tidak sempat membalas pesan Kak Bima. Setelah pulang aku juga langsung tidur," jelas Dewi tanpa sepenuhnya jujur. Perempuan itu sengaja tidak membahas soal Rendy karena menurutnya tidak penting untuk dibahas. Padahal kenyataannya, Bima sudah mengetahui hal itu, namun Dewi seperti tidak peduli dan tidak berniat untuk menjelaskan.


Bima hanya bisa menghela nafasnya mendengar ucapan Dewi yang tidak berniat menjelaskan siapa Rendy. Inilah sifat Dewi yang harus dibenahi oleh Bima sebelum menikah nanti. Dewi terkesan sering menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, ia terkesan tidak perduli. Padahal jelas-jelas Bima sangat terganggu dan membutuhkan penjelasan.


"Lalu siapa lelaki yang berfoto denganmu dan juga Veli? Kalian kelihatan sangat dekat," tanya Bima tanpa basa-basi, karena Dewi tidak bisa diajak basa-basi.


Dewi tampak terdiam, namun detik kemudian ia tersenyum manis dan berucap, "Itu adalah Kak Rendy, dia baru pindah di komplek ini. Dia ganteng banget, duda pula. Alamat jadi idola ibu-ibu komplek dia," jelas Dewi dengan gamblang tanpa sungkan memuji pria lain di hadapan kekasihnya.


"Lalu, kamu juga suka sama dia?" tanya Bima dengan menahan kegeramannya.


Bima yang sudah sejak tadi berusaha sabar, kali ini sudah tidak bisa lagi menahan diri. Kekasihnya ini sangat keterlaluan tidak memikirkan perasaannya sedikitpun.


"Dewi, kamu sadar tidak sih? Kamu sudah melukai hatiku. Kamu bercerita seolah-olah kamu masih single. Kamu memuji pria lain di hadapanku, tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. Sebenarnya kamu menganggap aku tidak ada, ya?!!!" pekik Bima dengan keras, tidak peduli jika suaranya terdengar oleh Dewa. Yang jelas, ia ingin melepaskan kemarahan yang selama ini terpendam di kepalanya.


Dewi yang tidak terima diteriaki seperti itu oleh Bima, langsung berdiri dan ikut berteriak pada kekasihnya.


"Kamu apa-apaan sih, teriak-teriak kayak gitu. Kamu kira aku budek? Nggak usah lebay deh, aku cuma berniat menjalin pertemanan dengan Kak Rendy. Apa itu salah? Lebay banget sih, sudah persis seperti Kak Dewa saja!" pekik Dewi tak kalah keras, namun Bima hanya bisa menatap kekasihnya. Alih-alih meminta maaf, Dewi malah menganggapnya lebay.


"Kalau aku lebay, apa masalahmu..." suara bariton datang dari arah belakang, mengalihkan perhatian kedua sejoli yang sedang bertengkar itu.


Seketika, Dewi menjadi tegang saat melihat Dewa menghampirinya dengan tatapan mematikan, diikuti oleh Veli yang menatap cemas ke arahnya.


"Ka-k Dewa..." cicit Dewi menatap ngeri pada kakaknya yang terlihat marah di depannya.