
Kini Dewa sudah berada di dalam meeting room, Dewa terlihat begitu serius membahas proyek dengan para kliennya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan meetingnya kali ini, tentu saja karena ia sangat tidak tenang meninggalkan istrinya.
Entah mengapa Dewa jadi seperti ini, dulu saja dia begitu muak melihat istrinya berkunjung, Dewa dengan sengaja berlama-lama di meeting room dan mengobrol dengan temannya yang kebetulan rekan bisnisnya juga. Dewa baru keluar dari meeting room saat istrinya sudah pergi, namun sekarang ia ingin cepat-cepat menemui istrinya itu.
Setelah berjam-jam, akhirnya meeting pun selesai, dengan cepat Dewa hendak beranjak keluar, namun di tahan oleh kedua temannya yang juga rekan kerjanya. Mereka adalah Firza dan Diki, dan ada satu lagi yang bernama Gery namun dia tidak ikut kerja sama dengan perusahaan Dewa. Mereka sudah berteman sejak SMA, dan mereka terpaksa berpisah karena perbedaan tempat berkuliah namun mereka masih berkomunikasi dengan baik.
"Wa...! tumben lo cepet-cepet pergi, biasanya juga ngajakin kita makan siang bareng dan ngobrol-ngobrol dulu...?" tanya Diki, dia sangat hafal betul biasanya Dewa selalu mengajaknya mengobrol panjang lebar saat ada meeting bareng, namun sekarang jangankan mengejaknya ngobrol nyapa pun tidak.
"Bener...sebenarnya ada suatu hal yang mau kita bicarakan, tapi sepertinya lo terlihat buru-buru banget, sampai gak sempet nyapa kita!" celetuk Firza.
"Sorry... sumpah gue bener-bener buru-buru banget. Memangnya apa yang mau kalian bicarakan...?"tanya Dewa, dengan posisi berdiri berbeda dengan kedua temanya yang tetap duduk di meja meeting. Sedangkan Bima sedah keluar mengantar klien lainya ke depan.
"Kalau sekarang lo sibuk, gimana kalau nanti malam saja kita ketemu di tempat biasa. Soalnya ini penting banget...!" jawab Firza.
Dewa terlihat terdiam sesaat, dan itu terlihat aneh di mata kedua temannya itu. Biasanya Dewa akan langsung setuju tanpa berfikir terlebih dahulu.
"Oke...!"jawab Dewa singkat, sambil beranjak dengan cepat dari meetingroom. Dan lagi-lagi membuat kedua temannya menatap heran Dewa.
"Dia kenap? aneh banget..."celetuk Diki.
Dewa berjalan dengan cepat menuju ruanganya, melangkah memasuki ruang pribadinya. Mendapati istrinya yang masih tertidur pulas, ia berjongko tepat di depan istrinya, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. di tatapnya wajah cantik itu, ia baru sadar ternyata istrinya itu sangat cantik, ada perasaan bersalah di hatinya, mengingat dulu dia begitu tega mengabaikan dan marah-marah kepad istrinya, saat istrinya berusaha memberikan perhatian kepadanya, sekarang justru dia sangat merindukan perhatian itu, yang sudah tidak di dapatkanya ahir-ahir ini, mungkinkah istrinya itu sudah muak, lantaran sudah sering ia abaikan?
"Maafkan aku...aku mohon jangan pernah berubah,"gumam Dewa lalu mengecup kening Veli.
Dewa memutuskan untuk pulang lebih cepat hari ini, istrinya itu tampak kelelahan, ia ingin Veli tidur dengan nyaman walaupun ruang pribadinya cukup nyaman, namun menurutnya akan lebih nyaman jika istrinya itu tidur di rumahnya. Untungnya pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, mau tidak mau Dewa harus membangunkan Veli walaupun sebenarnya ia tidak tega.
"Sayang bangun yuk, kita pulang," ucap Dewa dengan menepuk-nepuk lembut pipi istrinya.
Merasa pipinya ada yang menepuk-nepuk, membuat Veli membuka matanya dan mendapati suaminya tengah menatapnya dengan jarak yang dekat dengan wajahnya.
"Ayo pulang...kamu juga belum makan siang!"ajak pria itu, memang sekarang sudah waktunya jam makan siang. Dewa dengan penuh perhatian membuat Veli bangun.
Veli tidak menyahut dan hanya menurut, sambil mendekap selimut yang menutupi tubuh polosnya. Rupanya nyawanya belum terkumpul sempurna.
"Pakai ini... nanti bersih-bersihnya fi rumah saja. Disini belum ada baju ganti untuk kamu, aku belum sempat beli. Tidak pa-pa kan yang...?" Dewa menyerahkan pakaian Veli yang di ambilnya tadi, lengkap dengan dalamanya. Veli hanya mengangguk patuh.
"Kamu keluar dulu Mas...aku mau pakai baju,"pintanya tidak mungkinkan dia memakai baju di depan suaminya, lantaran ia masih sangat malu.
"Kenapa? aku sudah liat semuanya, jadi tidak ada alasan aku harus pergi!" ucap Dewa tegas, Veli yang engan berdepat lagi akhirnya dengan terpaksa menekan rasa malunya, memakai pakaian di depan suaminya yang tengah menatapnya dengan sorot yang hendak menerkamnya saja.
"Taha Dewa, tunggu sampai rumah..." ucap Dewa dalam hati, ia berusaha menahan hasratnya saat melihat dua gundukan favorit nya yang bentol-bentol merah, yang menantang di depanya.
"Kenapa sayang...?" tanya Dewa dengan panik, sambil memegang kaki Veli dia mengira kaki Veli yang sakit.
"I-tu aku sakit Mas..." jawab Veli lirih sambil menunduk malu, Dewa pun akhirnya mengerti setelah mendengar ucapan istrinya.
Tanpa aba-aba Dewa menggendong Veli untuk keluar dari ruanganya, Veli yang terkejut pun memekik kaget, dan mencoba untuk turun dari gendongan Dewa, lantaran ia masih sangat malu apalagi mengingat kegiatan panasnya tadi dengan Dewa.
"Aa-ku bisa jalan sendiri Mas..." ujar Veli sambil memberontak dari gendongan Dewa.
"Tidak sayang...! aku tidak ingin kamu kesakitan, jadi nurut ya...!" tegas Dewa.
Akhirnya Veli pun pasrah dan melingkarkan tangannya ke leher Dewa sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Dewa sama sekali tidak menurunkan istrinya itu, bahkan saat di dalam lift tadi. Dan sekarang mereka menjadi pusat perhatian oleh para karyawan, namun bukan Dewa namanya jika memeprdulikanya.
Dewa memadukan tubuh Veli ke dalam mobilnya, dan mendudukanya dengan lembut di kursi depan.
Blumm
Dewa menutup pintu mobilnya lalu mengitari mobil lewat depan untuk masuk ke dalam mobil dan mendudukan dirinya di kursi kemudi.
Dewa mengemudi mobilnya meninggalkan halaman perusahaan. Dewa menggenggam tangan istrinya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya ia gunakan untuk mengendalikan setir mobil, dan Veli pun tidak menolaknya malahan dia tampak nyaman saat tangan besar Dewa menggenggam tangan mungilnya.
"Sayang kita makan siangnya di rumah, atau mampir saja ke restauran...?" tanya Dewa dengan menoleh sekilas ke arah Veli.
"Di rumah saja Mas, badan aku lengket banget pengen cepet-cepet mandi dan berendam...!" jawab Veli.
"Baiklah sayang..." Dewa pun menurut apa yang di katakan istrinya.
"Mas kamu tidak sedang kerasukan kan...?" tanya Veli sambil memandang serius kearah suaminya.
"Kenapa bertanya seperti itu...?" Dewa tampak megkerutkan keningnya mendengar pertanyaan konyol istrinya.
"Ya habisnya tadi Mas Dewa marah-marah, sekarang manis banget. aku kan takut Mas Dewa kerasukan gitu..."
Dewa menghembuskan nafasnya dengan kesal" Sudah tidak usah berfikir macam-macam, aku tuh sedang berusaha jadi suami yang baik jadi kamu jangan cerewet."
Veli pun hanya mengangguk dengan bibir mengerucut di katai cerewet, padahal dia kan cuman nanyak.
TBC.