
"Ngapain sih, Papi peluk-peluk Mami? Pengap tauk...!!" Ketus Veli yang merasa sesak lantaran sang suami yang terus saja memeluknya dengan menampilkan wajah yang menyedihkan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Saat ini pasangan suami istri itu sudah dalam perjalanan pulang menuju kediaman mereka. Veli terus saja menolak untuk pulang bersama Dewa, meskipun pria itu sudah memaksanya. Akhirnya Dewa memilih mengalah dengan ikut pulang bersama supir yang biasanya mengantar jemput Veli, daripada pulang sendirian rasanya ia tidak memiliki semangat.
Setelah terbangun dari tidurnya Veli terus saja diam, meskipun Dewa sudah menjelaskan semua dan berkali-kali meminta maaf. Namun, entah mengapa Veli rasanya engan sekali menanggapinya, dan entah mengapa rasanya ia begitu jengkel dengan suaminya itu, ia sendiri juga tidak mengerti dengan perasaannya itu.
Pikirannya masih gamang siapa yang harus Veli percaya antara Jeenika atau Dewa. Pokoknya ini semua karena Otak Veli sudah terkontaminasi dengan perselingkuhan Pak Subroto dan Susan sehingga membuat Veli masih meragukan suaminya, apalagi dengan tidak adanya bukti yang membuktikan Dewa dan Jeenika tidak melakukan apa-apa di dalam ruangan Dewa.
Dewa sendiri perasaannya sudah campur aduk, antara ingin marah lantaran Veli terus saja mengabaikannya padahal ia sudah menjelaskan sejelas-jelasnya jika omongan Jeenika adalah kebohongan semua, namun Veli tetap diam tidak menanggapi penjelasannya itu. Dan juga rasanya ingin menangis saja, pria dengan perasaan yang sensitif itu berfikir istrinya itu sudah tidak sayang lagi padanya, oleh sebab itu Dewa terus saja menempel pada istrinya itu, meskipun sang istri berusaha menghindar. Salah Dewa sendiri yang tidak menunjukkan bukti yang kongkrit. Wanita yang sudah marah cenderung tidak mudah percaya hanya dengan kata-kata saja, apalagi dengan mata kepalanya sendiri Veli melihat Jeenika keluar dari ruangan Dewa.
"Kenapa Mami berubah begini? Mami udah nggak sayang sama Papi lagi, iya? Papi kan udah ngejelasin semua tentang kebohongan wanita itu," Tanya Dewa yang sedikit kesal dengan sikap istrinya yang sedari tadi ketus dan tidak ingin dekat-dekat dengannya.
"Pikir aja sendiri...!!" Ketus Veli seraya melipat tangan didada dan membuang pandangannya ke arah luar jendela. Keluarlah cirikhas wanita yang suka sekali memberi jawaban ambigu dan sulit dimengerti oleh para pria.
"Tuh kan... Memangnya salah Papi apa lagi? Kenapa Mami terus-menerus marah seperti ini? Jelasin dong, jangan buat Papi sedih seperti ini..." Tanya Dewa lagi dengan mata yang berkaca-kaca dan bibirnya yang melengkung kebawah.
Ia sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Rasanya dadanya begitu sesak sehingga sulit untuk sekedar bernafas ketika memikirkan sang Mami tercintanya itu sudah tidak sayang lagi padanya. Rupanya pikiran Dewa sudah berkelana jauh, memikirkan hal yang tidak-tidak, seperti yang pria itu lakukan setiap malamnya.
Keadaan saat ini seperti Dejavu. Bedanya jika dulu Dewa lah yang bersikap galak dan arogan, sementara Veli menjadi manusia paling menyedihkan yang selalu dimarahin dan diketusin oleh Dewa, maka sekarang Veli lah yang bersikap ketus dan Dewa yang terlihat menyedihkan. Sungguh roda memang berputar.
"Fix, Mami udah nggak sayang sama Papi. Padahal Papi tadi udah bicara jujur, tapi Mami diam saja saat Papi udah ngejelasin semuanya. Itu semua pasti kerena Mami memang udah nggak sayang dan nggak peduli lagi sama Papi, kan?"
Sopir yang berada di depan rasanya ingin tertawa saja mendengar perdebatan sepasang suami istri yang menurutnya sangat lucu itu.
"Nggak usah berasumsi yang tidak-tidak. Entar nangis, Mami juga yang disalahin..." Veli sering merasa jengkel dengan suaminya, yang tiba-tiba overtinking lalu menangis dan Veli lah yang menjadi tersangka, padahal Veli tidak berbuat apa-apa. Memang otak sang suami lah yang sering overtinking dan berlebihan. Pernah ada kejadi suaminya itu tiba-tiba menangis dan menuduhnya tidak cinta lagi padanya, itu semua membuat Veli merasa bingung dan frustasi dengan tuduhan suaminya yang tidak berdasar. Setelah Veli telusuri dari akar, batang hingga daun, ternyata suaminya itu bermimpi jika dirinya lebih memilih sang idol Korea dibanding dirinya. Sungguh di luar Nurul sekali dan Veli tidak habis Fikri dengan tingkah suaminya itu.
"Bisa jadikan Papi bohongin Mami. Mami cuma takut, Papi seperti Pak Subroto itu. Apalagi Papi dulu begitu mencintai Jeenika. Meskipun sekarang Papi sudah bilang Cinta dan menerima Mami, tetap saja hati tidak ada yang tahu..." ujar Veli dalam hati. Siapapun pasti akan berfikir seperti Veli jika mendapati mantan kekasih sang suami bertemu dengan sang suami. Apalagi ini adalah mantan terindah dan satu-satunya. Bahkan sampai membuat sang suami gamon dan tidak ingin menikah untuk selamanya, andai tidak dijodohkan dengannya. Itupun harus melalui perjuangan yang penuh dengan kesakitan dan air mata untuk mencapai di titik sekarang.
"Maka dari itu Mami jangan cuekin Papi kayak gini, Papi nggak bisa diginiin..." ujarnya dengan memeluk kembali tubuh sang istri. Namun, Veli masih saja tidak menganggapinya. Dan hal itu sukses membuat Dewa menagis pedih dalam diam, tanpa diketahui oleh sang Mami tercinta.
Mungkin ini terlalu sedikit banget, btw aku lagi sakit gigi dari kemarin huhuh...
TBC.Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...