
Dewa menatap polos plus bingung pada kedua wanita yang langsung berteriak setelah mendengar penjelasannya.
"Ya salam... kenapa gue punya Kakak yang ngeselin dan bikin emosi seperti Kak Dewa ini. Udah capek-capek emosi, tau-tau nya arghhh..." Dewi begitu geram dengan kakaknya itu apalagi melihat wajah polos Dewa yang seperti orang bego itu.
"Sumpah Papi makin lama makin nyebelin sih. Mami udah nangis-nangis, eh Papi malah nyebelin..." ketus Veli seraya bangkit dari pangkuan suaminya itu lalu menghapus airmata nya dengan kasar. Sudah menangis-nagis seperti ini, takut suaminya itu akan meninggalkan nya, eh tau-tau nya suaminya itu cuman mau pergi ke Bandung selama satu Minggu pula.
"Salah ku apa?" Tanya Dewa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung kenapa kedua wanita itu marah-marah padanya.
"Papi kalau ngomong itu yang jelas dong, biar tidak salah paham begini. Mami kira Papi mau ninggalin Mami beneran, taunya cuma ke Bandung..." Ujar Veli yang masih ketus.
"Ya emang bener kan, Papi mau ninggalin Mami dan baby kita. Salah Papi dimana?" jawa Dewa menetap heran istrinya itu.
"Salah Lo itu ngomongnya bertele-tele. Banyak drama, bikin orang naik darah saja."tutur Dewi menatap kesal kakaknya itu.
"Salahin terus... orang lagi sedih juga mau LDR an..." cicit Dewa seraya memeluk perut istrinya dan menyandarkan kepalanya di perut buncit istrinya itu.
"Ngeliat Mami nangis kayak tadi, rasanya Papi tidak sanggup untuk ninggalin Mami. Apa Papi tidak usah berangkat aja ya?" Dewa menghela nafasnya dengan berat. Pria itu berfikir istrinya itu menangis karena keberangkatannya ke Bandung.
Veli mendengus kesal. Rupanya suaminya itu tidak paham dengan penyebab dirinya tadi menangis. Dirinya tadi menangis karena salah paham, ia kira suaminya itu mau meninggalkan dirinya untuk selamanya, bukan pergi ke Bandung. Kalu saja suaminya itu tidak banyak drama dan langsung to the poin, mana mungkin ia akan menangis seperti itu.
"Papi sadar nggak sih. Ucap Papi yang ambigu tadi buat Mami sama Dewi salah paham. Lain kali kalau bicara itu yang jelas jangan banyak drama..." tutur Veli seraya mengusap kepala suaminya yang bersandar di perut buncitnya.
"Oh my God...Masih saja Tolol. Kita kira Kak Dewa itu mau ninggalin Kak Veli untuk selamanya. Dengan kata lain, amit-amit... Cerai gitu..."jelas Dewi dengan gemas.
"APA? Astaga... buruk sekali pikiran kalian. Mana mungkin Papi seperti itu. Jadi Mami tadi menangis bukan karena Papi mau ke Bandung? Tapi Mami menagis karena menganggap Papi mau 'tittttttt'...Mami gitu?" Omel Dewa dengan menatap tajam Veli dan Dewi.
"Tittttttt...itu apa?" Tanya Veli yang justru gagal fokus sama ucapan Dewa yang tidak dimengerti oleh pemikirannya.
"Tittttttt itu kata 'cerai' yang diucapkan Dewi tadi. Papi tidak mau menyebutnya jadi Papi sensor saja, takut jadi doa nantinya..."
"Astaga ada-ada aja kelakuan random suamiku ini... sangat langka," gumam Veli dalam hati.
"Ya salam..." gerutu Dewi yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sekarang kita mandi bersama. Papi harus cuci kepala Mami biar pikiran Mami itu bersih. Sekalin Papi mau jenguk baby kita, sebelum Papi tinggal selama seminggu ke Bandung..." ujar Dewa seraya mengendong tubuh Veli ala bridal style lalu membawanya masuk kedalam rumah. Ia ingin mandi bereng dengan istrinya dan meminta bekal sebelum pergi besok.
"Dasar sinting...yang seharusnya dicuci itu otak Lo Dewa...biar tidak mesum...!!!" Teriak Dewi dengan keras. Rasanya ia bisa darah tinggi menghadapi kelakuan kakaknya yang diluar nalar itu.
TBC.
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...