Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 78


Malam hari.


Setelah makan malam, Dewa langsung mengajak Veli masuk kedalam kamar. Pria itu ingin berduaan dengan istri tanpa ada gangguan dari Dewi yang selalu mengomentari dirinya saat sedang bermanja manja dengan istrinya.


Manja dan sensitif, itulah yang menjadi kepribadian baru seorang Dewangga. Namun, itu hanya berlaku saat sedang ada istrinya, jika tidak ada istrinya sikapnya akan seperti, biasa dingin dan arogan.


"Sayang, selonjorkan kakimu."


Veli tampak bingung dengan permintaan suaminya, namun meskipun begitu dia menurut, meluruskan kakinya yang tadinya ia tekuk. Veli saat ini tengah duduk dia atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang.


Melihat istrinya sudah meluruskan kakinya, langsung saja Dewa merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya.


"Sayang, soal pekerjaan kamu bagaimana? Aku tidak mau tau, pokoknya kamu tidak boleh jadi model lagi." Dewa menciumi perut istrinya yang masih datar itu, sangat terlihat jelas jika lelaki itu begitu menyayangi bayinya.


Veli menghembuskan nafasnya perlahan, dia mengelus lembut kepala Dewa, mencoba berbicara dengan perlahan agar suaminya itu tidak ngambek padanya.


"Mas! Aku masih ada tiga kali pemotret loh, sebelum masa kontrakku habis. Aku sebelumnya sudah melakukan tanda tangan kontrak, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukan pemotretan itu. Aku tidak bisa lepas tangan begitu saja dengan tanggung jawabku, boleh aku menyelesaikan tanggung jawabku itu? Setelah selesai aku janji akan berhenti dan fokus dengan kehamilanku," jelas Veli dengan lembut, agar suaminya itu mengerti.


"Tidak! Bagaimana jika kamu dan anak kita kenapa-napa, karena kamu kelelahan? Pokoknya aku tidak mau!" Dewa menggeleng menolak dengan tegas permintaan istrinya itu. Mana mungkin dia mengizinkan istrinya bekerja dalam keadaan hamil.


"Tapi Mas, ini itu tanggung jawabku loh. Lagian aku cuma di suruh pose-pose doang, tidak di suruh memandikan unta di Arab, terjun dari menara pisa, atau mendaki gunung himalaya. Jadi kamu tidak perlu berlebihan..." tutur Veli sedikit kesal dengan suaminya itu, yang semua kemauannya harus di turuti, jika tidak dia bakalan ngambek seprti bocah TK.


Dewa terdiam, menimbang-nimbang permintaan istrinya. Rasanya sangat berat sekali mengizinkan istrinya itu bekerja. Tapi mau bagaimana lagi, istrinya itu punya tanggung jawab dan tidak bisa di tinggal begitu saja.


"Baiklah, baiklah. Tapi, kamu harus berjanji untuk tetap baik-baik saja, dan menjaga anak kita dengan baik. Setelah itu kamu tidak usah bekerja lagi dan fokus dengan keluarga kita," ucap Dewa tegas.


"Iya sayang... terimakasih," jawab Veli dengan tersenyum bahagia. Dewa pun turut tersenyum melihat istrinya tersenyum, apalagi mendengar istrinya memanggilnya sayang.


Tanpa aba-aba Dewa bangkit dari rebahannya, dan langsung merebahkan tubuh istrinya untuk tidur, malam ini tidak ada olahraga panas karena Dewa tidak ingin bayinya kenapa-napa.


*


*


Pagi hari, Dewa sudah bersiap untuk berangkat ke kantor setelah menyelesaikan serapannya. Lelaki itu sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya, pagi tadi saat bangun istrinya itu sempat muntah-muntah sehingga membuatnya khawatir untuk meninggalkan sang istri. Namun, istrinya itu tetap memaksanya untuk berangkat ke kantor, lantaran dia merasa tidak papa, dan mual-mual adalah hal biasa yang pasti dialami oleh ibu hamil.


"Hari ini jangan dulu pergi pemotretan, awas aja kalau sampai nekad pergi!" Peringatan Dewa tegas, sebelum beranjak dari meja makan.


"Dewi! hari ini kamu ada jadwal kuliah tidak?" tanya Dewa, sembari menatap Dewi yang sedari tadi cengar cengir dengan menatap ponselnya, entah apa yang gadis itu lihat.


"Tidak kak, hari ini aku free. Kenapa?"


"Bagus... tolong kamu jaga Veli, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Tenang saja uang jajanmu kakak tambahin..."


Mendengar uang jajannya di tambahin, mata Dewi langsung ijo, dengan semangat dia akan menjalankan amanat kakaknya itu.


"Siap kak...!!"


Velisa hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan suaminya yang possessive.


"Aku berangkat sayang, ingat jangan melakukan apapun. Jaga baby kita ini...cup... cup..." Dewa memberikan kecupan di bibir dan perut istrinya sebelum beranjak pergi.


Velisa segera menghubungi manajer kantornya, untuk mengabarkan hari ini tidak bisa melakukan pemotretan dengan alasan sakit. Beruntung Veli mendapatkan izin, lantaran saat kejadian Veli pingsan kemarin semua orang tau, termasuk sang manajer.


*


*


Sementara di tempat lain, terlihat Jeenika tengah mematau tubuh polosnya di depan cermin dalam kamar mandinya.


Terdapat banyak sekali lebam-lebam, bekas gigitan dan juga kiss mark di tubuhnya, belum lagi di area sensitifnya yang terasa begitu sakit. Itu semua akibat ulah Fernando yang kerap kali melakukan kekerasan saat memadu kasih dengan Jeenika.


Sepertinya laki-laki Dewasa itu memiliki kelainan, awalnya Jeenika begitu kaget sampai menangis histeris saat bercinta dengan Fernando. Tetapi, Jeenika tidak peduli akan hal itu yang terpenting dia bisa hidup mewah, walaupun harus mengorbankan tubuhnya dijamah oleh Fernando dengan tidak manusiawi. Namun, sekarang wanita itu ingin terlepas dari jeratan pria tua itu.


"Huh...sakit sekali tubuhku ini, lama-lama aku bisa mati muda. Tua bangka itu memang sangat gila dia yang merasa enak, aku yang tersiksa, untung kaya..." Jeenika sedang mengoleskan salep di tubuhnya yang lebam-lebam itu.


"Secepatnya aku harus menemui Dewa dan meminta bantuannya untuk terlepas dari tua bangka itu..."


Entah apa yang akan di lakukan Jeenika, awas saja jika Fernando mengetahui niatmu itu, pria itu tidak akan segan-segan untuk menyiksamu Jeenika.


TBC.