
Bugh bugh bugh
Terdengar suara kegaduhan yang berasal dari sebuah ruang keluarga, dimana seorang laki-laki tengah telentang di lantai dengan seorang wanita yang duduk di atas perutnya, sedang memukuli wajah laki-kaki itu secara brutal menggunakan tasnya. Ya, laki-laki itu tidak lain adalah Dewa sedangkan wanita yang tengah memukulinya adalah Dewi. Dewi sangat tahu betul bahwasanya kakak iparnya yang baik hati itu tidak akan berani untuk memukuli Dewa, jadi biar dialah yang mewakili untuk menghajar kakaknya itu. Dewa begitu kualah untuk menghadapi kebrutalan adiknya yang terus menghajar wajahnya, mulutnya pun turut menjadi sasaran Dewi, dia hanya bisa meronta-ronta di bawa kuningan adiknya yang berubah menjadi monster itu.
Bugh bugh
"DEWI STOP...!! Kamu mau membuat wajah dan bibirku ini rusak hah...!!" Pekik Dewa, dengan tangan yang melindungi wajahnya dari pukulan adiknya yang sangat bar-bar tiada tandingan. Istrinya saja tidak sampai memukulinya seperti ini.
"Mulutmu memang sudah rusak kak, kalau melutmu ini masih bagus tidak mungkin berbicara sembarangan dan menghina istrinya sendiri. Lebih baik kamu tidak usah punya mulut sekalian...!!"Hardik Dewi, dengan tangannya bergerak aktif memukuli wajah dan bibir Dewa.
"Bima bantuin, jangan diam saja...!!!" Teriak Dewa yang melihat Bima hanya terdiam seperti orang bodoh menonton dirinya di pukuli.
"Ta-tapi Wa..." Keberanian Bima seolah hilang di telan bumi, laki-laki itu bergidik ngeri menyaksikan secara langsung kebrutalan kekasihnya. Bima langsung berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti singa betina itu, bisa-bisa dirinya masuk UGD.
"Cepat, kalau tidak mau aku pecat..." Ancam Dewa, dengan sangat terpaksa Bima mendekat hendak menghentikan kekasihnya.
"Sayang berhenti ya..." Ujar Bima dengan takut-takut.
"Jangan ikut campur, mau aku hajar juga hah...!!!" Seru Dewi menatap tajam Bima, tanpa berniat berhenti dari aktivitasnya.
"Bima cepat aku harus segera menemui istriku...!!"
Dengan paksaan, akhirnya Bima berhasil menarik tubuh Dewi dari atas tubuh Dewa, walaupun kini dirinyalah yang menjadi sasaran kemarahan Dewi, tidak papa dari pada di pecat dan menjadi pengangguran.
"Lepasin...! Aku belum puas menghajar si mulut bangkai itu..." Teriak Dewi, meronta-ronta dalam dekapan Bima.
"Sudahlah sayang biarkan dia berbicara dengan istrinya," ujar Bima seraya menenangkan kekasihnya dengan mendekap erat tubuh wanita itu.
Dewa segera bangkit dan langsung berlari menuju kamarnya, ia sangat yakin istrinya berada di sana.
Setelah kejadian di pesta tadi Veli mendiamkan Dewa, bahkan saat dalam perjalanan pulang wanita itu memilih duduk di depan berdampingan dengan Bima, dengan terpaksa Dewi mengalah dan duduk di belakang dengan kakaknya.
Sepanjang perjalanan Dewa tidak henti-hentinya memohon maaf pada istrinya, namun tidak di gubris sama sekali oleh wanita itu. Justru telinganya di buat panas dengan ocehan dari Dewi yang terus mengomelinya. Belum puas mengomelinya, Dewi juga menghajarnya saat tiba di rumah, sedangkan istrinya langsung pergi ke kamar begitu saja tanpa mau bicara dengan dirinya, bahkan istrinya itu seperti engan untuk sekadar melihat wajahnya.
Dewa melangkahkan kakinya ke lantai atas dengan perasaan yang campur aduk antara takut, sedih, dan menyesal. Jangan lupa dengan wajah dan bibirnya yang terasa cenat-cenut akibat hantaman tas dari Dewi.
Tok...tok...tok
Laki-laki itu tidak langsung masuk ke dalam kamarnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu, ingin melihat adakah respons dari istrinya, namun tidak ada respons sama sekali dari Veli. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar, mengatur nafasnya untuk mengumpulkan keberanian menghadapi sang istri.
Dewa langsung saja membuka pintu kamarnya dan seketika ia di buat melongo saat mendapati istrinya sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan memakai lingerie yang begitu sexy, istrinya itu sama sekali tidak menoleh padanya dan hanya fokus pada ponsel di tangannya.
"Sayang..." Panggil Dewa seraya berjalan mendekat ke arah ranjang dan duduk di depan istrinya. Ingin sekali rasanya Dewa memakan Veli, apalagi saat melihat penampilan istrinya yang begitu menggoda malam ini, namu ia hanya bisa menahan hasratnya tanpa bisa menyentuh dan meraba tubuh istrinya, sungguh sial sekali.
Veli menatap datar suaminya, ia kaget saat melihat penampilan suaminya yang acak-acakan dengan wajah yang babak belur. Ingin sekali rasanya ia bertanya, namun rasa marah di hatinya masih belum reda sehingga ia berusaha mengabaikan suaminya.
Veli tidak menjawab, ia justru memalingkan wajahnya engan melihat wajah Dewa yang memelas. Bisa saja dia luluh karena tidak tega melihat wajah memelas suaminya, apalagi dengan wajah yang babak belur itu.
"Maafkan aku yang bodoh ini, yang tega menjelek-jelekanmu di hadapan teman-temanku. Aku mohon maafkan suamimu yang bodoh ini, aku sungguh menyesal sayang..."
Masih saja tidak ada jawaban dari Veli, istrinya itu hanya diam dan engan menatapnya, yang membuat Dewa seketika ketakutan. Takut, kalau istrinya itu tidak akan mau memaafkannya dan memilih meninggalkannya.
"Tidak hanya itu, kamu juga menjadikan aku taruhan. Kamu pikir aku ini barang yang dengan seenaknya bisa di oper sana-sini. kalau memang kamu tidak bisa mencintaiku lebih baik kita pisah..." Sarkas Veli, tanpa menatap suaminya.
Mendengar kata pisah dari mulut istrinya, Dewa semakin merasa ketakutan, langsung saja menggenggam tangan Veli dan menciumi tangan itu dengan bertubi-tubi.
"Aku mohon jangan katakan itu," ujar Dewa menggelengkan kepalanya dengan mulai terisak.
"Maafkan aku sayang. Soal taruhan, aku sama sekali tidak pernah membuat taruhan itu, Samuel sendiri lah yang membuat taruhan itu dan aku sama sekali tidak menghiraukannya, percayalah padaku aku tidak bohong. Aku mohon jangan katakan pisah..." Jelas Dewa, yang memang Samuel sendiri lah yang membuat taruhan itu, dan Dewa tidak pernah menggubrisnya. Dan dengan seenaknya Samuel mengatakan dia menjadikan istrinya taruhan dan akan di berikan kepada pria itu, padahal jelas-jelas Dewa tidak pernah membuat taruah denganya.
Dewa masih menggenggam tangan Veli, dan terus menciumi tangan itu, tetapi...Veli yang terlanjur kecewa hanya diam saja membiarkan apa yang di lakukan suaminya.
"Sayang aku mohon hiks hiks hiks..."pecah sudah tangisan Dewa, dia tidak peduli lagi dengan imegnya sebagai pria cool, yang terpenting istrinya itu mau memaafkannya dan tidak meminta pisah darinya.
"Astaga Mas Dewa nangis, ini beneran suamiku kan atau dia sedang kesurupan.?" batin Veli, dia tampak tercengang melihat suaminya menangis, selama menikah baru kali ini melihat suaminya seperti itu. Rasanya ia menjadi tidak tega melihat suaminya menangis, namun tekadnya untuk membuat suaminya jera dan tidak berbicara sembarangan lagi, membuatnya tidak boleh luluh begitu saja. Dewa berkali-kali mencium tangannya dengan air mata yang berderai membuat Veli tidak tahan.
"Aku mau istirahat, capek..." ucap Veli datar seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Dewa, dan membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
"Sayang...jangan sperti ini, aku mohon maafkan aku sayang..." Dewa benar-benar menangis bukan sekedar akting belaka, karena dia begitu ketakutan di tinggalkan oleh istrinya.
Veli menggigit bibirnya bawahnya, sebenarnya wanita itu sangat tidak tega melihat suaminya menagis.
Dewa mengikuti istrinya berbaring di ranjang tanpa ada niat untuk membersihkan tubuhnya atau sekedar untuk mengati baju nya terlebih dahulu, ia masih memakai baju yang sama saat pergi ke pesta tadi, dia hanya melepas jaz dan juga dasinya. Tangan laki-laki itu memeluk dengan erat tubuh Veli dari belakang.
"Aku tau kamu belum tidur, sekali lagi maafkan aku. Dan perlu kamu ketahui aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah melepaskanmu dan jangan pernah berpikir untuk meminta pisah."
Deg
Akhirnya kata keramat itu di ucapkan juga oleh suaminya, bahagia sekali rasanya saat ini, ingin rasanya ia memeluk tubuh suaminya namun, wanita itu tetap memilih diam dan memejamkan kedua matanya dengan bibir yang tersenyum.
cup
"Selamat tidur sayang, semoga besok kamu sudah memaafkanku. Aku mencintaimu..."
Dewa mengecup tengkuk Veli dan membenamkan wajahnya di sana.
Jika biasanya sebelum tidur mereka akan melakukan kegiatan panas, namun tidak untuk malam ini atau bahkan sampai malam-malam berikutnya Dewa akan puasa, karena istrinya masih marah padanya. Namun Dewa berharap istrinya itu besok sudah memaafkannya.
TBC.