
Sementara di depan pintu ruangan Dewa tampak Bima dan Dewi berdiri dengan wajah gusar. Bima sedang mengedor ngedor pintu, dengan wajah yang terlihat kesal. Dia sudah berdiri di depan pintu dan mondar mandir selama 10 menit, namun tidak ada tanda tanda akan di bukanya pintu, menelfon pun sudah ia lakukan, tetapi tidak ada jawaban.
"Mereka ngapain sih? mana di kunci lagi pintunya!" gerutu Bima kesal, dia sudah lelah dari tadi berdiri terus di depan pintu, dia sedikit khawatir melihat Dewa yang sepertinya marah kepada Veli, takut Dewa tidak bisa mengontrol emosinya dan menyakiti Veli.
Bima tidak tau saja orang yang sedang dia khawatirkan sedang mengarungi nirwana di dalam sana.
"Apa jangan-jangan, kak Dewa berbuat kasar ke kak Veli lagi, kayak berita yang lagi viral kemarin. Waduh bagaimana ini?"ujar Dewi dengan gusar.
"Hussttt, jangan ngomong sembarangan. Dia kakak mu loh," ucap Bima memperingati.
"Ya walaupun dia kakak ku, kalau sampek dia kasar ke kak Veli liat aja, aku sendiri yang bakal hajar dia sampek babak belur...!"ucap Dewi dengan mengebu ngebu.
"Bener juga...aku juga akan bantu kamu mukulin dia nanti, kalau sampai Dewa macem-macem. Lebih baik kita tunggu di ruangan ku saja." Bima tersenyum tipis mendengar ucapan Dewi, tentu saja dia akan dengan senang hati menghajar Dewa jika dia melakukan kekerasan terhadap Veli. Yang sudah Bima angap seperti adiknya sendiri, karena dia anak tunggal, dan kedua orang tua Bima sudah kembali ke pangkuan Tuhan.
"Enggak deh kak, aku sudah ada janji dengan teman-teman ku yang ada di Jakarta, jadi aku pergi dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku. Bay...." Dewi langsung nyelonong pergi, tanpa menunggu jawaban dari Bima. Semalam dia sudah janjian dengan temannya saat Dewi masih menetap di Jakarta dulu, rencananya dia akan mengajak Veli sepulang dari kampus, namun Veli keburu di bawa sama kakanya tadi. Mungkin lain kali, sepertinya akan sangat seru mengingat kakak iparnya masih sedikit polos soal pergaulan anak muda.
"Dasar anak itu, pasti sebentar lagi berulah..."ujar Bima, tersenyum tipis mengingat kenakalan wanita pujaanya itu.
*
*
Dewa yang sudah selesai membersihkan tubuhnya kini sudah terlihat rapi dengan setelan jaznya, untung saja di rungan pribadinya sudah tersedia pakain kerjanya. Dewa memandang sosok wanita cantik yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya, senyumnya merekah mengingat kegiatan yang mereka lakukan tadi, mungkin nanti malam dia akan melakukannya lagi. Dia bergerak memunguti pakaian yang berserakan akibat ulahnya yang melempar sembarangan.
"Ah iya, bra istriku tadi aku lempar ke sofa, jangan sampai ada yang liat penutup dua gundukan imut miliku..." gumam Dewa, bergegas keluar mencari bra Veli, untung dia mengunci pintu tadi.
Setelah mengambil bra Veli dan jaznya tadi, Dewa kembali lagi ke kamar, meletakannya di atas ranjang bersamaan dengan pakaian yang di ambilnya tadi. Lalu dia beranjak mendekati Veli yang masih tertidur pulas.
CUP
Dewa sudah duduk di kursi kebesarannya, sedang menghubungi Bima untuk datang keruanganya, tak lupa dia sudah membuka kunci pintu dengan remot otomatis.
Tak lama, Bima datang dengan tergesa-gesa, tanpa mengetuk pintu, Bima langsung saja nyelonong masuk seperti biasa.
"Laknat memang...!"gerutu Dewa, melihat tingkah Bima yang seenaknya.
"Wa kamu gak apa-apain Veli kan? kamu gak KDRT sama dia kan? mana Veli wa...?" tanya Bima beruntun dengan panik. Dewa mendengus kesal, mendengar pertanyaan Bima, yang seolah menuduhnya melakukan KDRT terhadap istrinya sendiri.
"Ck...kamu pikir aku laki-laki berengsek apa yang pukulin istriku sendiri, kecuali kamu yang aku pukulin baru benar!" ujar Dewa kesal, Bima hanya nyengir saja mendengarnya.
"Istriku lagi tidur, jadi tidak usah berfikir yang tidak-tidak, mana tega aku pukulin istriku sendiri," sambung Dewa.
"Mana aku pengen lihat?" ujar Bima, hendak melangkahkan kakinya ke kamar pribadi Dewa, namun dengan cepat Dewa menarik kerah belakang baju Bima.
"Lancang sekali kamu, mau lihat istriku tidur...sudah bosan hidup kamu? kita meeting sekarang!" Dewa sangat kesal dengan tingkah sahabat sekaligus sekretaris pribadinya itu, mana mungkin dia mengizinkan pria lain melihat istrinya tidur, apalagi istrinya tidur dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Mau tidak mau Bima menurut, dari pada tamat riwayatnya nanti, dia masih ingin hidup dan menikah dengan Dewi sang pujaan hati yang di cintainya dalam diam sudah sejak lama. Bima pun melangkah mengikuti Dewa yang sudah terlebih dahulu melangkah keluar.
"Ingat jangan biarkan siapapun masuk, sebelum saya selesai meeting. Ingat siapa pun...!" titah Dewa tegas, saat dia sudah berada di luar rungannya. Sedangkan kedua wanita yang berada di luar runganya mengangguk patuh atas perintah atasnya.
Kedua wanita tersebut adalah sekretaris dari Bima, sebenarnya salah satu dari mereka adalah sekretaris Dewa, namun Dewa engan bekerja dengan partner seorang wanita. Menurutnya wanita sangat merepotkan dan mudah terbawa perasaan, contohnya mantanya dulu yang bekerja menjadi sekretaris dan berakhir selingkuh dengan atasannya sendiri.
"Baik Pak..." ucap kedua wanita tersebut.
TBC.