
Malam harinya, di sebuah kamar yang tampak sunyi. Terdapat sepasang suami istri yang terlihat sibuk dengan kegiatanya masing-masin. Tidak ada obrolan diantara keduanya, apalagi adegan mesra, yang dilakukan pasangan pada umumunya.
Sepasang suami istri itu adalah Dewa dan Veli. Setelah selesai makan malam, yang juga sama heningnya, mereka memutuskan untuk berdiam diri di kamar.
Veli duduk bersandar di kepala ranjang, dengan tangan yang sibuk dengan ponselya, dia sedang berbalas pesan dengan Nessa, yang mengabarkan bahwa besok Veli di minta untuk datang langsung ke kantor agency tempat ia akan bekerja.
Sedangkan Dewa duduk di sofa kamar tersebut, berkutat dengan laptop yang berada di pangkuanya. Entah apa yang dia kerjakan.
*
*
POV Velisa.
"Bagaimana ini, apakah aku harus meminta izin untuk bekerja kepada Mas Dewa?"gumam Veli lirih, sambil melirik sang suami yang tengah duduk di sofa.
"Apa, jika tidak meminta izin tidak papa? Selama inikan dia tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Tapi jika dia marah seperti tadi bagaimana?" guamam Veli dalam hati.
"Ahh.. bodo amatlah dengan responya, yang penting aku sudah meminta izinya." Veli memutuskan meminta izin, walau bagaimanapun, Dewa adalah suaminya.
"Ekhmmm!"Wanita itu bedehem terlebih dahulu.
"Mas Dewa" Pangil Veli, seraya menanat ke arah suaminya
Merasa di pangil, Dewa mendongak menatap Veli dengan muka temboknya, seraya menaikan sebelah alisnya.
"Ada apa?" jawab Dewa singkat
"Emm, apakah kamu mengizinkan, jika aku bekerja?" Sebenarnya tanpa bertanya, dia sudah tau dengan jawaban suaminya.
Dewa terlihat terdiam, dia ingin bertanya, kerja apa, dengan siapa dan dimana. Tapi gengsi laki-laki itu terlalu tinggi.
Lalu dia meneruskan kegiatanya, dengan masih kepikiran tentang istrinya yang meminta izin hendak bekerja.
Sedangkan Veli, mendengus kesal dengan mencebikan bibirnya. Mendengar jawaban Dewa, sudah dia duga.
"Nggak ada perhatia-perhatiannya sebagai suami. Seengaknya tanya kek mau kerja apa, diama. Ini enggak, jawabnya terserah, udah kayak cewek ditanya mau makan apa. Nyebelin!"
Gerutu Veli, dengan bibir mengerucut. Kenapa sih suaminya itu selalu cuek padanya. Tapi, gak papa. Seengaknya suaminya sudah mengizinkanya bekerja.
"Lebih baik, aku tidur aja sekarang. Karena besok harus bangun lebih pagi" Veli meletakan ponselnya di nakas, lalu dia membaringkan tubuhnya di kasur, menyelimuti tubunya dan tidur.
*
*
Sedangkan Dewa, yang sudah menyelesaikan pekerjaanya, segera menutup laptop di pangkuanya. Laki-laki itu menatap lurus kearah istrinya yang sudah berbaring.
"Sebenarnya mau kerja apa? dan dimana kamu Veli?"Gumam Dewa.
"Kamu tidak mengenal siapa-siapa di sini, aku khawatir kamu di manfaatin orang. Walau bagaimanapun kamu adalah tanggung jawabku!"
"Hufttt! Sudahlah, semoga dia tidak bertindak bodoh dan merepotkanku"Dewa bergegas beridiri, meletakap laptop di atas meja di depanya.Lalu bangkit berjalan menuju ranjang dan berbaring menghadap langit-langit kamar, dia menoleh sebentar kearah istrinya yang tidur memunggunginya. Lalu dia iku memungunggi istrinya, dan menyusul ke alam mimpi.
Jadi seperti itulah rumah tangga yang di jalani keduanya, tidur saling membelakangi, tidak ada kehangatan yang tercipta dalam biduk rumah tangga keduanya. Di situ seakan hanya Velilah yang berjuang mempertahanka rumah tangga mereka, dengan sikap dingin dan acuh yang Dewa berikan.
Apakah Dewa akan berubah atau justru rumah tangganya akan mereka akhiri. Entahlah.....
TBC.