Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 88


..."Dan syarat terakhir...Mami harus menyenangkan Papi karena tadi sudah membuat Papi marah..." ujar Dewa dengan tangan yang sudah merembat kemana-mana dan bibirnya sudah menyosor bibir istrinya yang duduk dipangkuannya....


...Veli yang mengerti akan maksud dari suaminya hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan memabukkan dari laki-laki itu. Mau menolak pun itu tidak akan berhasil yang nyatanya sekarang suaminya itu sudah bergerak meloloskan pakaiannya....


...Dan terjadilah peristiwa disiang hari yang membuat suasana panas menjadi tambah panas, terjadilah gempa lokal yang membuat janin dalam perut Veli terguncang dan terpentok-pentok kepalanya, akibat dijenguk oleh sang Papi....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak terasa hari sudah beranjak gelap, sosok laki-laki tampan yang tengah tertidur dan sedang memeluk seorang wanita perlahan mengerakan kelopak matanya, perutnya yang keroncong lah yang membuat ia terbangun dari tidur nyenyaknya. Senyumnya merekah saat matanya terbuka dan menatap wajah cantik istrinya yang tengah ia peluk.


Dewa dan Veli tertidur dengan nyenyak setelah kelelahan melakukan olahraga ranjang dari siang sampai sore hari. Dewa baru melepaskan istrinya setelah Veli mengeluh lelah dan ngantuk, jika tidak mengingat istrinya hamil mungkin Dewa sudah melakukannya sampai ia puas, tak peduli dengan rengekan istrinya.


Melihat istrinya kelelahan, Dewa dengan perhatian memandikan tubuh istrinya dengan penuh kasih tak lupa ia juga dengan telaten memakaikan baju untuk istrinya, sungguh perlakuan manis Dewa membuat hati seorang Veli meleleh. Tidak ada lagi Dewa yang kasar dan arogan, sekarang hanya ada Dewa yang manis, perhatian dan manja.


"Mamiku sayang...bangun yuk. Mami dan baby kita pasti kelaparan...." ucap Dewa dengan menciumi wajah Veli bertubi-tubi untuk membangunkan sang istri.


Memang setelah peristiwa panas tadi, istrinya langsung tertidur karena kelelahan dan belum makan hingga saat ini, yang memang sudah waktunya makan malam.


ughhhh


Veli melenguh merasakan wajah dan bibirnya seperti ada yang menciumi, dan ia sangat yakin itu adalah ulah dari sang suami manjanya.


"Kenapa Mas? aku masih ngantuk ini..." ucap Veli dengan suara serak khas bangun tidur.


Mendengar sang istri memanggilnya Mas, membuat Dewa tak terima dan langsung mengigit hidung wanita itu hingga memerah.


"Auuhhh...sakit Mas kenapa digigit sih," mata Veli langsung terbuka sempurna dan rasa kantuknya sirna sudah, akibat ulah sang sumi.


"Tuh kan...Mas lagi. Aku nggak suka dipanggil Mas, kenapa Mami masih saja manggil Papi, Mas?" sewot Dewa.


"Ya salam... pengen tak tukar tambah saja ni suami dengan oppa-oppa korea, nggak papalah harus tombok," gerutu Veli dalam hati.


"Maaf Pih...Mamikan belum terbiasa manggil seperti itu, jadi Papi jangan ngambek..." rayu Veli dengan memberi kecupan hangat dipipi kanan kiri suaminya, ia sudah jengah bila harus berdebat dengan suaminya yang pasti akan berakibat drama penuh tangis yang akan diperankan oleh suaminya itu, seperti tadi siang.


"Geli banget sumpah, ini kalau Dewi sama Mas Bima denger pasti diketawain..." gumam Veli dalam hati.


"Hmmm...lain kali harus dibiasakan. Sekarang kita bangun dan makan Papi laper banget ini. Pasti Mami dan Baby kita laper juga kan?" Dengan penuh perhatian Dewa membantu istrinya bangun, lalu mengambil ikat rambut dinakas untuk mengikat rambut sang istri.


"Terimakasih Papi..." lagi-lagi Veli dibuat meleleh dengan perlakuan suaminya yang sangat perhatian. Hanya saja sifat otoriter dan menyebalkan suaminya yang membuat Veli kerab kali harus mengelus dada tanpa berani membantah.


"Tidak usah Pih, Mami bisa jalan sendiri," ujar Veli, lalu keduanya keluar dari kamar untuk turun ke dapur. Saat menuruni tangga pun Dewa memeluk posesif pinggang Veli dan menuntut wanita itu dengan hati-hati. Veli hanya bisa senyum tertekan saat ia diperlakukan seperti orang yang sakit, padahal ia hanya hamil saja. Apalagi mulut suaminy tidak berhenti menyuruhnya hati-hati disepanjang menuruni tangga.


"Sekarang Mami duduk dulu, Papi mau buatin susu hamil buat Mami," ujar Dewa setelah mendudukkan istrinya dikursi meja makan.


"Mami bisa buat sendiri Papi, lebih baik Papi makan saja. Katanya laper," balas Veli yang memang tidak ingin merepotkan suaminya yang sedang lapar itu.


"Sudahlah biar Papi yang buat, lagian Papi ingin makan sepiring berdua dengan Mami," Dewa dengan telaten membuatkan susu hamil untuk sang istri, dia begitu terlihat bahagia melakukan hal itu untuk istrinya.


"Mbok...Dewi udah makan belum? kalau belum tolong panggilkan ya," tanya Veli pada pelayan yang sedang menyajikan makanan diatas meja, ia tahu betul pasti Dewi masih takut pada kakaknya, meskipun begitu Veli tidak ingin jika adik iparnya itu melewatkan makan malam.


"Non Dewi sudah makan Nyonya. Dan sekarang Non Dewi ada diruang tamu, katanya Den Bima mau datang," ujar pelayan itu, memang Dewi makan terlebih dahulu selain lapar ia juga takut makan satu meja dengan kakaknya yang sedang marah itu. Dewi juga mengatakan pada pelayan jika ia sedang menunggu Bima yang mau ngapel malam ini, entah itu ngapel atau mau marah-marah pada Dewi.


"Ya sudah, terimakasih Mbok..."


Taklama Dewa datang dengan membawa susu hamil rasa coklat kesukaan istrinya.


"Di minum dulu susunya, Mami..." ujar Dewa seraya tangan bergerak mengambil makanan dan dituangkan dipiring, Dewa mengambil makan cukup banyak lantaran ia ingin makan satu piring berdua dengan istrinya.


"Terimakasih Papi," ucap Veli dengan memberi kecupan dipipi Dewa, sebelum meneguk susu hamilnya.


"Apapun untuk Mami sayang. Ngomong-ngomong dimana si Dewi? aku juga belum memarahi anak itu," Dewa sedikit heran tidak melihat batang hidung sang adik, ia juga belum memarahi anak nakal itu. Biasanya Dewi sudah nangkring dimeja makan.


"Dia sudah makan kata pelayan, dan lagi nungguin Mas Bima katanya mau ngapel..."


"Ohhh, sekarang makan. Biar Papi suapin," dengan lembut Dewa menyupi sang istri dan berganti dengannya. Duhh romantis banget deh si Papi bikin iri saja.


Saat sedang asik makan sambil bercanda, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari ruang tengah. Terdengar suara bentakan dan teriakan yang keduanya yakini itu adalah suara Bima dan Dewi yang tengah bertengkar.


"Mami itu dramanya sudah mulai, cepat kita habiskan makanannya biar kita tidak ketinggalan tontonan gratis ini," kelakar Dewa bukan khawatir justru laki-laki itu tidak sabar ingin menonton pertengkaran pasangan kekasih itu, sungguh menjengkelkan.


"Papi tidak baik begitu, kita harus tenangin mereka. Mami khawatir sama Dewi, awas saja kalau sampai Mas Bima macem-macem sama Dewi. Aku pukulin dia sampai babak belur nanti," ancam Veli, segera bangkit dari dudukku untuk menghampiri kedua makhluk yang sedang bertengkar itu, disusul oleh si Papi manja setelah menghabiskan makanannya.


**Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


TBC**.