
Sementara di tempat lain, setelah bertengkar dengan Dewa, Veli mulai merenung dan menyadari kesalahan sehingga dia memutuskan untuk memintamaaf dengan mendatangi suaminya ke kantor, tidak lupa Veli juga memasak makanan kesukaan suaminya itu.
*
*
Sedangkan di kantor Dewa. Jeenika makin bersemangat untuk bersandiwara, wanita ular itu makin menjadi-jadi saat melihat Dewa mulai terbawa suasana.
"Maaf, hiks...hiks..." dengan menangis tersedu-sedu yang siapa pun mendengarnya pasti akan merasa iba, Jeenika memohon maaf pada Dewa dengan masih memeluk laki-laki itu.
Dewa ingin mendorong tubuh Jeenika yang tengah memeluknya dengan tiba-tiba namun dia urungkan, saat merasakan merasakan tubuh wanita itu yang bergetar hebat karena menangis. Dewa yang merasa iba dan tidak tega, dengan pelan membalas pelukan Jeenika, tangannya bergerak mengusap-usap dengan lembut punggung Jeenika, untuk menenangkan wanita yang sedang menangis di pelukanya itu.
Entah apa yang sedang merasuki Dewa saat ini, laki-laki itu seakan lupa jika sudah memiliki istri di rumah yang ada di pikirannya hanya ada Jeenika, wanita yang saat ini ia peluk.
Setelah puas dengan tangisan palsunya, Jeenika melerai pelukanya dan memandang wajah Dewa dengan tatapan sendunya.
"Kamu mau memaafkan aku kan?" pinta Jeenika penuh harap.
"Hufttt...dari dulu kamu memang tidak bisa membuatku marah, aku sudah memaafkan mu, sudah jangan menangis lagi, aku tidak suka." Tangan Dewa bergerak menghapus air mata di pipi Jeenika dengan lembut, hingga tatapan keduanya bertemu. Melihat Dewa yang menatapnya intens, membuat Jeenika memanfaatkan situasi dengan mencari kesempatan untuk mencium bibir Dewa.
Cup
Jeenika mencium bibir Dewa dengan lembut, membuat laki-laki itu terkejut lantas mendorong pelan tubuh Jeenika.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Dewa dingin menatap Jeenika dengan tajam. Melihat Dewa tampak tidak suak dengan yang ia lakukan, dengan cepat Jeenika beracting kembali.
"Maaf. A-ku, aku terbawa suasana..."lirih Jeenika dengan menampilkan wajah penuh penyesalannya.
"Mungkin karena aku terlalu merindukanmu, merindukan bibir ini," imbuh Jeenika sembari mengusap lembut bibir Dewa.
Laki-laki itu memejamkan matanya kala merasakan sesuatu jemari lembut Jeenika di bibirnya, tubuhnya serasa tersengat listrik darahnya berdesir merasakan sentuhan lembut Jeenika. Apalagi ketika tangan Jeenika mengusap-usap lehernya, membuat gairahnya seketika bangkit, di tambah dia sudah berpuasa beberapa hari.
Dewa yang memang sudah di kuasi oleh kabut gairah, dengan sekali sentakan menarik tubuh Jeenika hingga terduduk di pangkuannya, dengan buas mencium bibir merah merona Jeenika. Laki-laki itu mencium Jeenika dengan buas dan penuh nafsu, tangannya menekan tengkuk leher wanita itu untuk memperdalam ciumanya. Jeenika tersenyum kemenangan karena sudah berhasil menggoda lelaki itu, dengan senang hati Jeenika membalas ciuman Dewa tak kalah buas, seraya mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.
"Ughhh...bibirmu rasanya masih sama Jeen..."lenguh Dewa di sela-sela cium panas mereka, tangannya sudah bergerak meraba-raba tubuh Jeenika yang duduk di pangkuannya untuk melepaskan gaun mini yang wanita itu kenakan. Jeenika pun tak kalah agresifnya, tangan wanita itu bergerak membuka simpul dasi Dewa dan juga membuka kancing kemeja Dewa.
Dewa merubah posisiya dengan mengangkat tubuh Jeenika ke atas meja kerjanya dan mendudukanya di sana, laki-laki itu seolah lupa diri karena sudah di kuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkan. Penampilan kedua manusia laknat itu sudah begitu berantakan kemaja Dewa yg sudah terbuka memperlihatkan dada bidang dan perut kotak-kotanya, Sementara Jeenika wanita itu duduk di atas meja dengan tubuh polosnya, gaunya sudah di lempar oleh Dewa entah kemana saking agresifnya lelaki itu.
Posisi itu memudahkan keduanya untuk semakin memperdalam ciuman meraka, tangan Dewa bergerak liar mereemas dua gundukan kenyal wanita itu, membuat Jeenika mengeluarkan suara khas yang terdengar begitu menggairahkan di telinga Dewa.
"Akkhhhh Dewa..." erang Jeenika ketika Dewa semakin agresif menelusuri leher dan gundukan sintalnya, Dewa begitu lihai menyentuh setiap titik sensitif Jeenika hingga membuat wanita itu mendeesah tak karuan, Dewa yang mendengar deesahan Jeenika semakin semangat dan liar saja.
Setelah puas bermain-main dengan tubuh Jeenika, Dewa yang sudah tidak tahan segera mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sempurna itu.
"Bersiaplah sayang..." bisik Dewa seraya mencium sekilas bibir Jeenika yang di balas dengan kerlingan manja oleh wanita itu. Dengan sedikit kasar Dewa melesapkan miliknya hingga membuat mereka berdua memekik nikmat.
"Oughhh...Jeenika.." erang Dewa dengan menghentak-hentakkan miliknya. Seolah tidak punya malu bercinta dengan suami orang, Jeenika terus mendesah manja menikmati setiap hentakan yang Dewa berikan dengan tangan yang mencengkeram kedua bahu lelaki itu. Dewa yang merasa gemas dengan ******* Jeenika, sontak meluumat bibir yang terbuka itu.
Adegan sepasang manusia laknat itu semakin panas, mereka berdua begitu menikmati perbuatan keji itu, hingga tak berhenti mengerang kenikmatan, namun kenikmatan itu seketika terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan Dewa di buka dari luar.
"AAAAA....!!!" Teriak seorang wanita cantik dengan menjatuhkan rantang yang berisi makanan di lantai, hingga isinya berserakan.
"Veli...sayang...!!!"Dewa seketika mematung dan menghentikan permainannya.
"Veli...Veli..sayang....!!!" Teriak Dewa, saat melihat Veli berlari keluar dari ruangannya dengan menangis histeris.
"SAYANG...!!!" Terika Dewa.
Huhuhu aku tidak mengerti lagi, dengan semua ini astaga....Dewa bisa-bisanya kamu...😬😡😡
TBC.