
Perbincangan tadi membuat Dewa merasa malu kepada teman-temannya, dia merasa menjadi suami yang buruk dan pengecut di hadapan teman-temanay. Itulah sebabnya kenapa Dewa tiba-tiba memutuskan untuk pulang, tanpa basa-basi sedikitpun.
Dalam perjalanan pulang Dewa tampak terlihat sedih, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bahkan tidak mempedulikan keselamatanya sendiri. Yang ada di pikirannya adalah ingin segera bertemu istrinya, dia ingin memeluknya. Mungkin dia terlalu pengecut untuk berkata jujur dan meminta maaf secara langsung kepada istrinya, jika selama ini ia selalu menjelekkan istrinya sana sini, ia tidak akan sanggup melihat wajah kecewa wanita yang di cintainya dan lebih parah lagi Veli mungkin akan meninggalkannya, meninggalkan suami yang tidak bisa menjaga nama baik istrinya dan membandingkannya dengan wanita lain.
"Maafkan aku sayang...aku menyesal selama ini selalu berbicara buruk tentangmu kepada mereka. Bahkan wanita yang selalu aku puji-puji tidak lebih baik di bandingkan kamu sayang....maaf secara tidak langsung aku sudah mempermalukanmu di depan umum..."ujar Dewa lirih dengan mata yang berkaca-kaca sungguh rasa penyesalan begitu besar.
Ketika sampai di depan rumahnya, Dewa segera membunyikan klakson mobilnya di depan gerbang. Setelah gerbang di bukakan oleh penjaga, Dewa segera membawa masuk mobilnya dia meninggalkan mobilnya begitu saja, bahkan ia sama sekali tidak mempedulikan pintu mobilnya yang masih terbuka lebar, Dewa segera masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamarnya.
Dewa tampak tergesa- gesa membuka pintu kamarnya, di saat ia membuka pintu kamar ia sedikit terkejut kala tidak mendapati istrinya bahkan ranjangnya pun masih tampak rapih, ia fikir istrinya itu akan istirahat karena tubuhnya masih kelelahan. Dewa segera mencari istrinya di setiap sudut kamar.
"Sayang...kamu di mana?" Dewa sudah mencari kedalam kamar mandi juga, namun nihil tidak ada tanda-tanda keberadaan Veli di sana.
"Sayang kamau dimana? apa jangan-jangan kamu meninggalkan ku? aku mohon jangan tinggalkan aku..." entah kenapa yang terlintas di pikiran Dewa adalah Veli meninggalkanya dan pergi dari rumah, mungkin efek ketakutan karena telah berbuat buruk terhadap istrinya dan tidak menutup kemungkinan Veli akan meninggalkannya.
"Aku harus cari kamu, kamu tidak boleh meninggalkan ku sayang, karena aku sudah sangat mencintai mu..."
Dewa memutuskan untuk memanggil adiknya, memintanya untuk membantu mencari Veli, jika dirinya saja yang mencari maka ketemunya menurutnya akan lama.
Setelah sampai di depan kamar Dewi langsung saja Dewa mengedor-ngedor pintu kamar Dewi dengan tidak sabar.
Ceklek
Tak lama pintu kamar tersebut terbuka, keluarlah sosok wanita cantik dengan wajah yang terlihat kesal dan keheranan.
"Kenapa sih, gedor-gedor pintu kayak orang nagih uatang saja, udah malam nih...!!!" kesal Dewi.
"Istriku pergi dia tidak ada di kamar...sepertinya dia kabur. Ayo bantu aku mencarinya sekarang..." ujarnya cepat, suaranya terdengar serak seperti sedang menahan tangis.
"What...!!! pergi dari rumah? kak Veli?" tanya Dewi dengan menatap cengo kakaknya.
"Iya buruan kita cari sekarang..." pintanya dengan wajah yang menyedihkan.
"Buahahahha....!!!" bukannya ikut panik tetapi kenapa adiknya ini malah tertawa, tidak tau apa dirinya sedang panik dan khawatir. Seketika Dewa menatap tajam Dewi yang tengah tertawa terpingkal-pingakal.
"Kenapa kamu tertawa? kamu pikir ini lucu...!!!" marahnya yang mengira Dewi menertawakan kepergian istrinya.
TBC.