
Sementara kini Dewa tampak menatap punggung sang istri yang tertidur membelakanginya dengan tatapan sendu. Jemarinya tidak berhenti mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Sebenarnya Mami kenapa? Kenapa Mami tiba-tiba mengabaikan Papi seperti ini?" tanya Dewa lirih dengan bibir yang cemberut. Tentu saja tidak ada jawaban dari Veli, Karena Wanita itu Sudah terlelap tidur sehabis menangis.
Setelah pertengkaran tadi Dewa membawa Veli ke ruang pribadinya. Di sana Veli terus saja menangis kala mengingat sumpah serapah Jeenika yang mendoakannya keguguran dan mandul untuk selamanya. Hati Veli terasa berdenyut nyeri ketika mengingat ucapan yang menyakitkan itu. Dan juga, Veli sedikit terpengaruh dengan ucapan Jeenika jika Dewa akan menolong Jeenika untuk terlepas dari kekasihnya, dan mereka akan kembali merajut kasih seperti dulu, hingga membuat Veli kecewa dan marah kepada Dewa.
Sedangkan Dewa sendiri, ia dibuat heran dengan tingkah sang istri mendadak mengabaikannya. Saat ia mencoba untuk menenangkan Veli yang sedang menangis dengan buaian lembut dan kata-kata penuh cinta, wanita itu sama sekali tidak menggubrisnya dan engan untuk sekedar menatap wajah Dewa. Bahkan ketika Dewa memeluknya, Veli sama sekali tidak berniat membalas pelukannya seperti biasa, justru wanita itu memilih tidur memunggungi Dewa.
Meski begitu, Dewa tetap memeluk tubuh istri tercintanya itu sampai tertidur karena lelah menangis terus menerus. Tangannya pun tidak bosan mengusap perut gemoy sang istri tercinta, seraya dalam hati senantiasa berdoa untuk kesehatan sang buah hati. Dewa masih terngiang-ngiang dengan teriakan Jeenika tadi, sumpah demi apapun Dewa begitu benci pada wanita yang sialnya pernah ia cintai dengan sedemikian rupa. Rasanya ia begitu menyesal pernah mencintai wanita iblis seperti Jeenika.
"Apa sebenarnya yang dikatakan wanita itu kepada Mami? sampai-sampai, Mami marah dan mengabaikan ku seperti ini," gumam Dewa begitu penasaran, bahkan mulut Dewa rasanya sudah haram sekali untuk menyebut nama Jeenika lagi. Dewa begitu sangat yakin seratus persen bahwasanya Jeenika mengatakan hal yang tidak-tidak pada Mami tercintanya ini, tidak mungkin kan, istrinya itu marah tanpa sebab.
"Aku yakin sepertinya wanita licik itu telah meracuni pikiran Mami dengan kebohongan-kebohongannya itu."
Dewa segera bangkit untuk meneruskan pekerjaannya yang tertunda, tidak lupa pria itu mencium bibir dan perut sang istri sebelum keluar dari ruangan pribadinya.
Namu bukanya bekerja justru Dewa malah melamun, memikirkan apa yang menjadi pemicu dari kemarahan sang istri, ia harus memecahkan masalah ini secepatnya. Tidak ingin sampai istrinya itu mengabaikannya terus-menerus, sedangkan dirinya ingin selalu bermanja-manja dengan sang istri tercintanya itu.
"CCTV. Ya, seperti aku harus melihat rekaman CCTV di depan ruangan ku..." tanpa mau membuang waktu lagi Dewa segera mengecek rekaman CCTV dari komputer canggihnya, komputer itu sudah mengakses semua CCTV yang ada di penjuru perusahaan nya itu, tanpa diketahui oleh siapapun. Kecuali dirinya dan juga Bima tentunya.
Setelah beberapa saat mengotak-atik komputernya itu, akhirnya muncullah dimana adegan demi adegan awal kedatangan Jeenika yang dengan seenaknya memasuki ruangan kerjanya, hingga sampai dimana Jeenika bertengkar dengan istrinya.
Mata Dewa langsung membola sempurna tak lupa dengan wajahnya yang berubah mengeras, sorot matanya memancarkan sebuah kemarah yang begitu besar.
"Brengsek...!!!" Pantas saja istrinya itu marah padanya, ternyata dengan liciknya Jeenika mengarang sebuah cerita yang pastinya hal itu membuat istri sakit hati.
"Kau sudah berani mencoba untuk bermain-main dengan ku rupanya? Sepertinya aku harus memberikanmu hadiah yang setimpal..." ucap Dewa dengan tersenyum iblis, tiba-tiba hawa di ruang itu mendadak menjadi dingin dan mencekam.
"Hallo Bro... tumben sekali orang sibuk seperti Lo tiba-tiba menghubungi Gue? Kenapa nih..." celetuk seorang pria di seberang sana dengan renyah. Pria itu bernama Jack. Salah satu teman Dewa waktu kuliah dulu, pria itu terkenal dengan brandal dan pemain wanita. Retas meretas adalah menjadi keahlian dari pria itu, bahkan ia juga ahli mencari uang di bank dengan sangat mudah, entah apa trik yang digunakkan oleh Jack.
"Apa Lo masih sering datang ke klub malam?" Tanya Dewa yang membuat Jack mengerutkan keningnya, mendengarkan pertanyaan dari Dewa yang sudah jelas jawabannya.
"Wah...wah...wah. Ada angin apa ini tiba-tiba boss Dewa menanyakan klub malam? Mau join seperti dulu lagi? Ingat istri di rumah..." kelakar Jack, Dewa memang dulu sering datang ke klub malam, tidak macam-macam hanya sekedar minum-minum dan nongkrong saja. Beda dengan Jack yang memang kehidupan pria itu tidak jauh-jauh dari dunia malam dan wanita penghibur.
"Apa Jeenika masih sering datang ke sana?" Bukanya menjawab pertanyaan dari Jack justru Dewa menanyakan tentang Jeenika, yang mana membuat Jack di seberang sana langsung berubah datar, tidak suka dengan pertanyaan Dewa tentang wanita itu. Jack berpikir Dewa masih mencintai Jeenika, sedangkan dia sendiri sudah memiliki istri yang jauh lebih baik dari Jeenika.
"Mau apa Lo menanyakan wanita itu? Ingat Dewa, Lo sudah memiliki istri yang cantik dan bohay. Jangan sampai Diki merebut istri bohay mu itu, hanya karena Lo lebih memilih wanita satu untuk semua itu...!!!" Peringatan Jack dengan tegas. Ia tidak mau temannya itu sampai kembali lagi pada Jeenika, ia paham betul dengan kehidupan wanita itu seperti apa, bahkan saat masih berpacaran dengan Dewa dulu.
"Tidak usah berfikir yang tidak-tidak. Gue justru mau meminta bantuan Lo untuk menyelidiki kegiatan bejatnya Jeenika. Gue akan membuat perhitungan pada wanita itu, karena sudah berani mengusik rumah tangga Gue. Dan membuat istri Gue marah, bahkan dengan berani dia mendorong Veli dan mendoakan Veli keguguran. Gue sangat tidak terima...!!!" Jelas Dewa dengan serius tidak ingin temannya itu sampai salah faham dengan maksud pertanyaan itu.
"Oh kirain Lo masih mencintai wanita itu," ujar Jack yang merasa lega.
"Tenang saja itu soal mudah bagi Gue, apalagi si Jeenika tidak pernah absen untuk datang ke klub dan melayani para prianya. Gue pasti bisa mendapatkan video-video dia dengan mudah..." imbuhnya yang paham akan maksud dari Dewa.
"Bagus, segera Lo kerjakan hal ini. Gue tidak mau membuang waktu lagi, ingin segera membuat wanita itu tersiksa tanpa mengotori tangan Gue sendiri..." ujar Dewa denga tersenyum puas. Akhirnya perbincangan keduanya terputus setelah mengobrol- ngobrol ngalor ngidul tidak jelas.
"Tunggu pembalasanku Jeenika. Aku yakin, pasti setelah ini kamu akan menyesali perbuatan mu yang telah berani mencoba untuk mengganggu rumah tangga damaiku ini..." gumam Dewa dengan tersenyum licik, entah apa yang sedang direncanakan oleh pria itu untuk membuat Jeenika kapok dan tidak mengganggunya lagi.
TBC.
Jangan lupa beri LIKE COMMAND AND VOTE biar author tambah semangat love you all...