
Sementara Bima hari ini disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk, beruntung ia memiliki dua orang asisten yang bisa meringankan sedikit beban pekerjaan yang semua Dewa limpahkan padanya.
"Sial kalau seperti ini terus, kapan aku bisa mengurus persiapan pernikahanku?" Bima dan Dewi sudah merencanakan untuk mengurus pernikahannya sendiri, terlebih Dewi yang sudah memiliki konsep pernikahan impiannya. Bima dan Dewi sudah memilih gedung dimana akan dilaksanakan pesta pernikahannya dan juga sudah memilih wedding organizer yang nantinya akan membantu persiapan dan pelaksanaan pernikahan mereka. Lalu mereka juga sudah membuat undangan untuk mereka sebar nanti. Hanya saja mereka belum melakukan fitting baju pengantin yang nantinya akan mereka pakai dan Dewi sudah mengomelinya karena selalu sibuk dengan pekerjaan sehingga selalu menunda untuk pergi melakukan fitting baju pengantin.
"Semoga saja besok Dewa sudah bisa bekerja. Aku tidak mau nanti Dewi kecewa lagi, karena aku terlalu sibuk bekerja..."gumam Bima dengan tangan yang sibuk berkutat dengan komputernya.
Ceklekk
"Lagi dan lagi...kamu menundanya dan sibuk dengan pekerjaan mu itu...!!" Tukas seorang wanita cantik dengan cemberut seraya melangkah masuk kedalam ruangan kerja Bima lalu mendudukkan tubuhnya dikursi depan laki-laki itu.
Bima sontak saja langsung kaget dengan kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Ia hanya bisa menghela nafas ketika mendengar sindiran dari Dewi.
"Sayang...maaf. Kamu tahu sendiri kan akhir-akhir ini Dewa sering membiarkan pekerjaannya terbengkalai dan aku mau tidak mau harus mengambil alih pekerjaan Dewa, sayang. Karena mau bagaimana pun juga ini adalah tanggung jawab ku sebagai sekertaris Dewa. Aku harap kamu mengerti..." jelas Bima dengan perasaan yang serba salah, disisi lain ia ingin segera menyelesaikan persiapan pernikahannya nanti. Namun, disisi lain ada sebuah tanggung jawab yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Sudahlah lagian aku sudah datang ke butik itu sendiri. Tidak enak kalau terus-terusan membatalkan janji, nanti dikira kita gak niat mau buat baju lagi. Untuk sementara mereka memberikan catalog book desain gaun yang mereka rancang. Tidak ada Kak Bima aku jadi bingung sendiri mau pilih rancangan gaun yang bagaimana, jadi aku bawa aja dulu catalognya." Dewi yang merasa tidak enak terus menunda janjinya dengan pemilik butik tempat ia akan membuat gaun. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke sana sendiri. Mau mengajak kakak iparnya, tapi Kakak iparnya itu pasti sedang sibuk mengurus bayi grandongnya yang sedang sakit.
"Maafkan aku. Aku merasa tidak pecus karena membiarkanmu sendirian datang ke butik itu," ucap Bima dengan rasa penuh penyesalan, ia menjadi merasa bersalah lantaran terus menunda janjinya hanya karena sibuk bekerja.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, lagian aku masih belum memilih kan? Jadi nanti kita bisa memilih sama-sama. Masih ada waktu dan jangan merasa bersalah seperti itu. Yang pantas disalahin itu Kak Dewa, suka sekali membebankan pekerjaannya pada kak Bima. Malah sekarang dia cosplay menjadi bayi lagi, bikin pusing saja..." ujar Dewi panjang lebar agar Bima tidak merasa bersalah seperti itu. Ia tahun Bima bekerja keras seperti ini agar bisa memberikannya pesta pernikahan impiannya. Dirinya sangat beruntung sekali memiliki calon suami seperti Bima. Meskipun ada saja orang-orang yang mempermasalahkan status mereka, apalagi para mantan pacar Dewi yang dari keluarga kaya mereka kerap kali menyinggung calon suaminya yang dari kalangan bawa. Namun, Dewi tidak peduli, baginya Bima sudah sangat sempurna dimatanya.
"Terimakasih kamu sudah mau mengerti aku. Aku beruntung sekali memiliki calon istri seperti kamu, sayang." Inilah sifat yang Bima sukai dari Dewi. Dia begitu pengertian dan tidak memandang orang dari kasta meskipun ia lahir dari keluarga kaya.
"Iya...iya. Nanti kita pilih-pilihnya di rumah saja. Sekalian aku mau meminta saran dari kak Veli. Enak kalau diskusi soal pakaian dengan sesama wanita, pasti lebih akurat."
"Baiklah sayang. Aku akan berusaha cepat untuk menyelesaikan pekerjaanku ini, agar kita bisa cepat pulang dan pilih-pilih gaun pengantin untuk kamu sayang..." Dengan tersenyum manis Bima langsung memberikan kecupan hangat pada bibir Dewi untuk menjadi penyemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk itu.
TBC.
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...