
Veli terdiam di depan pintu kamarnya menimbang-nimbang hendak masuk ke dalam kamar tersebut.
Huuuffff
Menghela nafas panjang untuk mengurangi sedikit rasa gugupnya, dengan pelan membuka pintu kamarnya bersama sang suami. Saat pintu sudah terbuka wanita itu melangkah masuk dengan pelan lalau menutup kembali pintu tersebut, matanya menatap ke arah sang suami yang berdiri membelakanginya sedang menatap luar di balik kaca jendela, kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya, tampilannya masih sama seperti tadi belum mandi dan belum berganti pakaian.
Dewa mendengar pintu kamarnya dibuka dan ia sangat yakin itu adalah istrinya, namun laki-laki itu tidak bergeming dan tetap diam menatap luar jendela. Pandangan matanya memancarkan sebuah kekecewaan, matanya memerah menahan air mata yang entah kenapa ingin sekali membanjiri pipinya. Melihat foto dan caption dari story WhatsApp Dewi membuat laki-laki itu merasa sakit yang tidak bisa didefinisikan, mungkin itu terdengar lebay namun bagi Dewa itu sangat menyakiti hatinya, Dewa menjelma menjadi sosok yang sensitif dan mudah sakit hati saat istrinya hamil. Dia akan mudah terbawa suasana bahkan dengan hal yang sepele menurut orang lain.
"Mas..."panggil Veli dengan lembut seraya berjalan kenghampiri suaminya itu, yang tidak menoleh sama sekali dan mengabaikannya.
Veli mencoba menyentuh lengan Dewa dengan lembut, "Mas, maafkan aku..." ucap Veli dengan menahan air matanya saat sang suami sedikitpun tidak meresponnya.
"Maaf hiks...aku menyesal hiks..." pecah sudah tangisan wanita itu, sontak Dewa langsung menoleh mendengar istrinya menangis, namun wajahnya tetap datar dan dingin.
"Kenapa? kenapa kamu melakukan itu?" Dewa menepis pelan tangan istrinya yang memegang lengannya. "Aku kecewa, kenapa bukan aku yang menjadi orang pertama menemani dan memenuhi ngidam pertamu, kenapa harus laki-laki lain, kenapa?" pekik Dewa dengan airmata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Sementara Veli hanya bisa menunduk dan menangis mendengar ungkapan kekecewaan dari suaminya.
"Harusnya kamu memberi kabar padaku dan merepotkan ku untuk mencari buah itu karena aku ayah dari bayi itu, bukan malah laki-laki sialan itu. Asal kamu tahu, aku sudah menanti-nantikan momen ngidam kamu tapi justru aku bukan orang pertama yang memenuhi dan menemani ngidam pertama kamu..." Dewa mengungkapkan segala kekecewaan dengan suara yang bergetar dan menangis, laki-laki dingin dan arogan itu hanya bisa menagis dihadapan sang istri, namun akan bersikap arogan diluar sana.
"Maafkan aku Mas..." hanya itu yang bisa Veli ucapkan, dia sangat amat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan dan membuat suaminya kecewa sampai menangis.
"Apa susahnya kamu mengabariku? apa gunanya kamu punya ponsel jika mengabariku saja kamu tidak mau, atau memang kamu sengaja ingin makan dengan pria itu, iya...!!!" bentak Dewa dengan keras, menatap istrinya dengan tajam.
"Aku minta maaf hiks...jangan membentak ku, aku takut hiks..." ucap Veli seraya membenamkan kepalanya didada bidang Dewa.
Dewa mengusap wajahnya dengan kasar, menyesal sudah membentak sang istri, namun tetap saja rasa kekecewaan masih mendominasinya, dengan pelan Dewa melepas peluka Veli lalu berjalan menuju ranjang dan mendudukkan tubuhnya di sana, sambil menatap intens Veli yang sedang menangis.
Veli menghapus airmata nya, lantas menghampiri suaminya dan ikut duduk di sebelah laki-laki yang berwajah dingin namun sembab itu. Kemudia tangannya bergerak menarik tangan Dewa, namun Dewa menepisnya lembut dan memilih menggenggam tangannya sendiri. Ternyata kali ini suaminya itu benar-benar marah kepadanya.
"Sayang aku mohon, maafin aku..." ucap Veli dengan lembut. Namun wanita itu dibuat gelagapan, saat melihat sang suami justru menangis tanpa suara. Membuat rasa bersalahnya semakin besar.
"Lihat aku..."ucap Veli seraya menangkup kedua pipi Dewa, dengan lembut menghapus airmata suaminya. "Maafin aku, ya?"
"Aku nggak tau kenapa rasanya sakit banget, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi beneran rasanya sakit banget, saat melihat kamu dengan pria lain dan aku bukan menjadi orang pertama yang memenuhi ngidam kamu. Padahal aku suamimu dan ayah dari bayi yang kamu kandung..."lirih Dewa. Tanpa berkata lagi, Veli segera merengkuh tubuh Dewa kedalam pelukannya, lalu berkata dengan lembut. "Maafin aku ya? aku salah dan aku sangat menyesal. Aku nggak bakal mengulanginya lagi. Aku janji..."
Kali ini Dewa tidak menolak lagi pelukan dari istrinya, justru ia membalas pelukan itu dengan cukup erat. "Janji kamu tidak akan membuat aku sedih dan nangis lagi?"cicit Dewa, yang membuat Veli rasanya ingin tertawa namun ia tahan. Kenapa suaminya jadi menggemaskan seperti ini?
"Iya aku janji..." ucap Veli seraya mencium pucuk kepala Dewa, yang mana hal itu membuat Dewa merasa nyaman.
TBC.