
Hari ini Arya menemani Jenar untuk mendatangi alamat yang di berikan oleh Fahmi beberapa hari yang lalu, Kini Jenar, Arya, Arlan beserta Hanna sedang dalam perjalanan menuju sebuah desa yang lumayan agak jauh dari perkotaan.
Jangan tanya mengapa Hanna ikut, tentu saja agar Arlan tidak menyetir sendirian, agar ia tidak menjadi obat nyamuk, dan dengan senang hati Hanna mengikuti kemauan sang kekasih.
"Mas," panggil Jenar lirih.
"Kenapa sayang?" tanya Arya lembut sambil mengusap rambut Jenar.
"Jenar mau ketemu ayah," gumam Jenar lirih, ia sangat merindukan sosok ayah nya, meskipun Bagas bukan ayah kandung nya, namun Bagas memiliki wajah yang mirip dengan Bagus.
"Iya sayang, kita akan bertemu ayah," kata Arya memeluk Jenar dengan erat. Hanna dan Arlan hanya diam menyimak percakapan mereka saja dan sesekali Arlan mencuri curi pegang tangan Hanna.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam di tambah macet nya kini mereka sudah sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah namun juga tidak sederhana, Rumah dengan halaman yang cukup luas dan pemandangan yang begitu Asri.
"Udaranya seger banget," ucap Jenar tersenyum kepada Arya.
"Jeje," panggil Fahmi yang baru membuka pintu, saat ia mendengar deru mobil.
Ekspresi Jenar langsung berubah menjadi datar saat melihat Fahmi berjalan menghampirinya.
"Selamat datang tuan Arya," ucap Fahmi mengulurkan tangan nya untuk menyambut kedatangan Arya.
"Terimakasih, tapi sepertinya tidak perlu menggunakan embel embel seperti itu, sepertinya kita seumuran," ucap Arya membalas uluran tangan Fahmi.
"Baiklah Arya," ucap Fahmi tersenyum, lalu ia menatap Jenar,"Jeje," sapa Fahmi namun Jenar masih diam dan terus merangkul lengan Arya dengan erat, membuat fahmi mendesah pelan.
"Baiklah. ayo silahkan masuk," Fahmi mengajak tamunya untuk masuk kedalam rumah, Dan ternyata di ruang tamu, Bagas serta Santi sudah menunggu kedatangan Jenar, terutama Bagas, ia sangat merindukan keponakan nya itu.
"Ayah," panggil Jenar yang langsung berlari untuk menghampiri Bagas namun lengannya langsung di cekal oleh Arya.
"Inget kandungan kamu sayang," kata Arya lembut memperingatkan Jenar akan kandungan nya.
Jenar pun mengangguk lalu berjalan perlahan ke arah Bagas yang berdiri dengan menggunakan tongkat.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah," ucap Bagas mengelus rambut belakang Jenar.
Setelah acara peluk pelukan selesai, kini mereka duduk di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga bersama Arlan dan Hanna juga.
"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Bagas sedikit terkejut, pasalnya usia Jenar masih sangat belia.
"Maaf pak saya," ucap Arya merasa tidak enak karena menikahi Jenar di usia Jenar yang masih sangat muda.
"Panggil Ayah saja nak," kata Bagas lembut.
"Ayah tau, kenapa Jenar bisa menikah dengan mas Arya?" tanya Jenar dengan menatap Bagas sendu. Akhirnya Jenar menceritakan semuanya kepada Bagas tentang bagaimana hidupnya setelah Bagus meninggal dan juga mengapa kabur dari rumahnya hingga ia akhirnya bisa menikah dengan Arya.
Fahmi mengepalkan tangan nya kuat kala mendengar cerita Jenar, selama ini ia hanya mencari tau bahwa Jenar masih tinggal di desa itu tanpa tau bagaimana kehidupan nya Jenar sehari hari, Fahmi dan Bagas tidak menyangka bahwa ternyata Arini bisa sekejam itu, padahal menurut Fahmi dan Bagas dulu Arini adalah sosok ibu yang penyayang kepada Jenar, dan tidak membeda bedakan antara Jenar dan dua anaknya Keysha dan Khanza.
"Kakak jahat, kaka udah ninggalin Jeje sendirian disana, setiap hari Jeje terus nungguin kakak jemput Jeje tapi kakak gak pernah dateng lagi jemput Jeje," ucap Jenar menatap Fahmi dengan tatapan kecewa.
Fahmi pun langsung menghampiri Jenar memeluknya dengan erat, membuat Jenar meronta mencoba melepaskan pelukan Fahmi namun tidak bisa, Jenar hanya bisa menangis.
"Maafin kakak Je, maafin kakak, harusnya kakak bawa kamu pergi, harusnya kakak ajak kamu pergi dulu, maafin kakak," Fahmi terus menyuarakan penyesalan nya hingga membuatnya meneteskan air mata.
"Ayah lah yang salah, Andai ayah waktu itu bisa menggantikan ayah kamu menyetir mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi dan mungkin saat ini ayah kandung kamu masih hidup, maafin Ayah je," ucap Bagas lirih.
Arya, Arlan, Hanna serta Santi hanya diam menyimak Drama yang sedang terjadi, Arya mencoba tidak egois, ia sedang berusaha untuk tidak cemburu dan tidak menarik fahmi agar menjauh daru Jenar nya.
'Biarkanlah, hanya kali ini hanya kali ini, sabar sabar sabar,' gumam Arya dalam hati sambil mengepalkan tangan nya dan menarik nafasnya dalam dalam, membuat Arlan yang duduk di samping Arya terkekeh melihat sikap posesif sang bos.
"Bos, kalau cemburu bilang bos, jangan di tahan, takut meledak," kata Arlan berbisik,"Nih ya bos, kentut aja kalau di tahan akhirnya malah keluar suara boom gede, apalagi kalau rasa cemburu," ucapnya lagi menahan tawa, sukses mendapatkan tatapan tajam dari Arya serta sikutan lengan daru Hanna.
Bersambung. . .
Arlan mah begitu sih, orang lagi mellow malah dia bercanda pake nyamain Rasa cemburu sama rasa Kentut lagi 🙈💃💃