Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Emosi Tamara


Tamara, Ritha dan Calista kini sedang duduk bertiga menikmati secangkir Coffe sambil berbincang, Tamara lebih fokus terhadap Ritha daripada Calista, ia hanya sesekali menanggapi omongan Calista yang selalu membanggakan dirinya sendiri, mungkin dulu ia menyukai Calista yang manja seperti itu karena menurutnya lucu, tapi kini setelah ia tau dibalik sifat lucunya memiliki sifat psyicho dan obsesi tinggi kepada putra bungsu nya malah membuatnya sedikit Takut dan Ambyar sudah rasa suka nya dulu.


"Tante, tante tau gak kalau sekarang Fabian sudah punya pacar lagi," kata Calista memotong obrolan Tamara dan Ritha.


"Bukankah memang Fabian banyak pacarnya, lalu kenapa memangnya sayang?" tanya Ritha.


"Calista tau mah siapa pacar pacar nya Fabian selama ini tapi yang ini mah beda dari sebelum sebelumnya," ucap Calista cemberut.


"Beda bagaimana?" tanya Tamara akhirnya.


"Ceweknya tuh sekarang kampungan banget tante, udah gitu Norak lagi, gak pantes banget deh kalau bersanding sama Fabian, apalagi nih ya tante dia tuh cewek miskin, banyak utang lagi," ucap Calista menggebu, "soalnya waktu itu Calista pernah lihat dia lari larian di kejar Orang banyak berbaju hitam seperti rentenir gitu kayaknya, Calista takutnya ia cuma akan manfaain Fabian aja tante buat bayar utang utang diaml," kata Calista yang memang dulu pernah melihat Jenar di jalan waktu di kejar oleh orang suruhan juragan Sadi.


"Kapan kamu melihatnya?" tanya Tamara penasaran.


"Hemm udah lama sih Tante beberapa bulan yang lalu, awalnya Calista tuh merasa gak asing gitu sama wajah nya saat pertama ke kampus bareng Fabian, tapi setelah Calista inget inget ternyata dia itu cewek yang sempet Calista lihat lari larian di pinggir jalan tan," Jelas Calista sambil menyesap coffe nya.


"Kenapa kamu yakin kalau ia rentenir?" tanya Tamara lagi.


"Kelihatan dari baju dan badan nya tante, terus buat apalagi orang kaya gitu ngejar cewek kaya dia kalau bukan karena Hutang," cibir Calista.


Tamara memicingkan sebelah matanya, memandang Calista dengan tatapan tidak suka.


"Dan nih ya Tante, aku tuh penasaran jangan jangan biaya dia kuliah itu juga dari Fabian, tante harus sering sering chek pengeluaran Fabian tan, biar gak di peloroti sama cewek miskin itu lagi," ucap Calista.


"Seperti apa memangnya orang nya?" tanya Tamara penasaran siapa yang di maksud oleh Calista, jangan sampai yang dia maksud adalah menantu kesayangan nya, batin Tamara.


Calista segera memberikan Hapenya kepada Tamara untuk memperlihatkan kejadian waktu ia di tampar oleh Bian, yah Video itu di ambil oleh kedua pengawal setia nya.


"Calista cuma mau ngingetin Fabian aja tante karena Calista tuh sayang sama Fabian, tapi malah Calista yang di tampar oleh Fabian," ucap Calista dengan wajah sedihnya, Ralat pura pura sedih maksud nya.


Tangan Tamara mengepal kuat bahkan ia sampai menggertakkan giginya.


"Sayang, kamu di tampar sama Fabian? kenapa gak cerita sama mama hah." pekik Ritha marah, karena ia tidak pernah memarahi Calista apalagi sampai main tangan.


"Calista gapapa mah, Iam Fine oke," jawab Calista meyakinkan sang mama.


"Jeng," Ritha menatap Tamara dengan perasaan kecewa karena sedari tadi Tamara hanya diam saat tau anaknya menapar Calista.


Tamara pun menghela nafasnya pelan lalu mengembalikan Hape Calista kepada pemiliknya.


"Tante lihat kan penampilan cewek itu seperti apa?" kata Calista kembali mengompori Tamara, "Dia gak akan pantes bersanding sama Fabian tan, tante harus melarang Fabian, untuk tidak dekat lagi dengan cewek kampung maya dia Tan," sambung nya lagi.


"Yah, kamu benar, Fabian memang gak pantas bersanding dengan gadis itu." ucap Tamara sambil manggut manggut, membuat Calista tersenyum puas karena mengira berhasil memprovokasi Tamara.


"Jelas saja tidak, tidak mungkin tante merestui mereka." jawab Tamara datar.


"Lalu bagaimana kalau kita jodohkan saja Fabian dengan Calista jeng, biar Fabian tidak dekat lagi dengan gadis itu." ucap Ritha memberi usul.


"itu juga saya tidak akan merestuinya," ucap Tamara sambil menggeleng gelengkan kepala nya, membuat Ritha dan Calista bingung dan syok tentunya.


"Ke kenapa tante? apakah Calista kurang cantik untuk Fabian? Calista juga tidak akan memanfaatkan uang Fabian, karena Calista sudah kaya dan Calista tulus mencintai Fabian dari dulu tan." ucap Calista.


"Iya jeng, kenapa?" sambung Ritha juga bingung.


"Pertama, aku tidak akan merestui Bian dengan gadis itu karena ia kakak iparnya Bian," ucap Tamara membuat bola mata Tamara nyaris keluar, ia begitu terkejut dan seperti tertampar oleh fakta itu.


"Dan yang kedua, Aku tidak ingin memiliki Menantu sekejam anakmu," ucap Tamara dengan wajah datar nya membuat Ritha tidak terima.


"Apa maksud jeng Tamara bicara seperti itu." pekik Ritha langsung berdiri dari duduknya dan menunjuk wajah Tamara.


"Maaf jeng, sebaiknya jeng Ritha tanyakan kepada anak kesayangan jeng Ritha, apa yang telah dia lakukan terhadap MENANTU saya," ucap Tamara santai namun penuh penekanan.


"Ta tante sa saya." Calista begitu gugup dan terbata, ia bingung harus berkata apalagi untuk membela dirinya di depan calon mertuanya.


"Memang apa yang di lakukan Calista? bukan kah harusnya aku yang marah karena anak kamu sudah menampar anakku?" ucap Ritha menggebu tak terima.


"Ku rasa tamparan itu masih kurang," ucap Tamara lagi lagi membuat Ritha melongo.


"Kurang? kau fikir siapa anak kamu itu hah, aku dan mas Gun saja tidak pernah memarahi nya apalagi memukulnya, Tidak pernah, tapi anak kamu dia sudah berani menampar putriku dan kamu masih bilang itu kurang, hah kau lucu sekali jeng." ucap Ritha marah.


Tamara beranjak dari duduk nya, ia kini berdiri berhadapan dengan Ritha. "Justru karena kamu tidak pernah mendidiknya dengan benar dan terlalu memanjakan nya, akhirnya anak kamu jadi seorang psycho," ujar Tamara datar.


"Anak kamu baru di tampar kamu sudah seperti itu, bagaimana kabarnya menantu saya yang sama sekali tidak bisa berjalan selama satu minggu dan harus cuti kuliah dua minggu karena di tindas dan di kurung di dalam kamar mandi selama semalaman penuh." pekik Tamara meluapkan emosi yang sedari kemarin ia simpan.


Ucapan Tamara seolah menampar keras hati Ritha, Ritha laku menatap tajam ke arah putrinya yang sedang menunduk. "Katakan bahwa itu bohong," ujarnya.


"Te tentu saja bo bohong mah, Calista tidak mungkin sejahat itu." ujar Calista terbata.


"Cihh, aku sudah selesai, dan hati ku sudah lega karena sudah melampiaskan kekesalan yang sedari kapan tau mengganjal du hatiku," ucap Tamara lalu segera pergi keluar dari Coffe shop itu.


Lanjut gak nih? 💃💃



Visual Mama Tamara ya, masih Cantik kaaann meskipun umur nya 50+ 😊💃