
Arya langsung terduduk lemas di lantai saat selesai mengadzani kedua putranya secara bergantian.
"Arya, kamu harus kuat nak." Kata Tamara menyemangati anaknya.
"Kenapa mah?" tanya Arya menatap wajah Tamara dengan berkaca kaca. "Kenapa kebahagiaan Arya berakhir secepat ini?" tanya Arya lirih.
"Sabar nak, kamu harus kuat, demi anak anak kamu." Kata Tamara lagi.
"Mama bawain salah satu anak Arya mah," kata Arya beranjak dari duduknya lalu mengangkat salah satu bayinya.
"Mau dibawa kemana Ar," kata Tamara bingung.
"Jenar belum melihat twin J mah." Kata Arya sambil menghapus air matanya.
Tamara hanya bisa mengikuti kemauan Arya untuk membawa salah satu bayinya ke kamar Jenar berada.
Ceklek!
Bian dan Dimas segera menjauhkan diri dari Jenar saat melihat Arya datang bersama Tamara dengan membawa kedua anaknya.
Arya meletakkan kedua bayinya di sisi kanan dan kiri Jenar dengan hati hati.
"Sayang, kamu bisa merasakan kehadiran mereka kan. Kumohon bangunlah," kata Arya sambil terus menghapus air matanya.
"Kamu lihat, mereka sangat tampan sepertiku, ayo sayang bangunlah kumohon, mereka sangat membutuhkan mu," ujar Arya terisak.
"Apa kamu tega meninggalkan mereka yang masih sekecil ini hem? apa kamu tega meninggalkanku sendirian." pekik Arya dengan kesal dengan air mata yang terus mengalir.
"Oeekk oeekk," teriakan Arya membuat kedua bayinya terkejut dan langsung menangis dnegan kencang.
"Arya," pekik Tamara saat melihat kedua cucunya menangis.
Arya hanya diam melihat kedua anaknya menangis, membuat Tamara geram akan sikap Arya.
Tamara hendak mengambil salah satu baby twin J namun matanya menatap sebuah pergerakan dari salah satu jemari Jenar.
"Jenar," kata Tamara menatap wajah menantunya namun tidak masih sama seperti tadi, mata Jenar masih terpejam.
"Oeekk oeekk uaaaa uaaaa." Baby twin J terus menangis dengan kencang hingga membuat Tamara langsung mengangkat baby twin J.
"Dim, kamu gendong satu," kata Tamara memberikan salah satu baby twin J pada Dimas. Tamara menyuruh Dimas karena ia tau Dimas lumayan ahli dalam menggendong bayi.
Lalu Tamara kembali hendak mengambil bayi satu lagi namun tenyata tangan Jenar menggenggam jemari mungil bayinya membuat Tamara menatap tak percaya.
"Mamah twin J nangis nya malah makin kenceng denger suara mamah," ujar Dimas kesal.
"Cepat Bi," kata Tamara setengah teriak lagi membuat Bian langsung berlari memanggil Maya.
Arya masih belum menyadari hal itu karena ia sibuk berbisik di telinga Jenar sambil membaringkan kepalanya du sebelah kepala Jenar.
Setelah beberapa saat Dokter Maya pun datang bersama dengan beberapa suster.
"Loh kenapa ini bayinya disini, mereka masih prematur masih harus di incubator." kata Dokter Maya. "Sus, bawa keduanya kembali."
"Nay, tadi tante lihat tangan Jenar gerak." kata Tamara membuat Bian dan Dimas kembali terkejut.
Tanpa berkata Dokter Maya langsung mengecek tubuh Jenar, yang tadi sudah dingin kini.kembali mulai menghangat.
"Sus, siapkan alat alatnya lagi." Perintah Dokter Maya kepada suster. "Lebih baik kalian tunggu diluar." Ujar dokter Maya.
"Ayo bang," kata Bian menggandeng tubuh Arya.
"Gak! gue mau nemenin Jenar disini." Kata Arya dengan tatapan kosong nya.
"Kita tunggu di luar bang, biar kak Maya yang meriksa Jenar." kata Bian, lalu Dimas ikut membantu membopong tubuh Arya.
"Jenar masih hidup, dia akan hidup bersama ku selamanya," racau Arya. "Kita akan membesarkan anak anak bersama, dan kita akan kembali memberikan adik adik yang lucu kepada twin J kelak." ucapnya sambil terkekeh namun air mata selalu mengiringi setiap ucapan nya.
"Ya Tuhan, semoga Jenar baik baik saja." kata Tamara terus merapalkan doa untuk kondisi Jenar.
"Ada apa mah?" tanya Adi yang sedari tadi sibuk mengurus bagian admin, jadi ia tidak tau keadaan nya sekarang bagaimana.
"Pah, tadi mamah lihat tangan Jenar gerak pah, Jenar selamat," ucap Tamara menangis bahagia.
"Benarkah?" tanya Adi dengan sumringah dan lega.
"Iya pah, Jenar kita akan sembuh," kata Tamara lalu segera memeluk Adi dengan erat.
'Ya Allah, berikanlah kesembuhan buat Jenar, berikanlah ia hidup bahagia bersama bang Arya dan twin J." Doa Bian dalam hati. Kini ia sadar bahwa rasanya selama ini kepada Jenar sudah hilang dan hanya tersisa rasa sayang sebagai adik.
Alhamdulillah 😍💃💃
Sebentar lagi End yaahh 😘😘💃💃💃