
Selama seminggu ini Jenar benar benar di manjakan oleh Arya, meskipun Jenar menolak namun Arya selalu bersikeras untuk memanjakan nya, Arya semakin menyayangi sosok Jenar kala tau kisah hidup Jenar yang dulu begitu sulit, Darimana Arya tau, tentu saja dari Arlan, darimana Arlan tau sudah pasti di antara ketiga sahabat Jenar, Adakah yang tau siapa 😂
*Pranata Grub*
Semenjak hubungan nya dengan Jenar jelas, Arya menjadi lebih posesif dan uring uringan bila tidak mendapatkan kabar dari Jenar.
"Bos, bentar lagi Mitting dengan perusahaan JF grub." kata Arlan yang baru saja masuk keruangan Arya, namun Arya hanya diam sambil terus mengotak atik Hape nya.
"Bos." pekik Arlan membuat Arya terkejut.
"Sialan," pekik Arya yang langsung melempar pulpen ke Arlan, "Gak bisa apa ketuk pintu dulu."
"Sudah bosss," ucap Arlan geram, pasalnya ia sedari tadi sudah mengetuk pintu namun tak juga ada jawaban dari sang Bos.
"Ada apa." tanya Arya dingin.
"Sebentar lagi kita ada mitting dengan perusahaan JF," ucap Arlan sekali lagi.
"Bukan nya besok?" tanya Arya
"Di majuin bos, kan saya sudah bilang tadi pagi," jawab Arlan sedikit kesal lantaran bos nya akhir akhir ini kurang fokus.
"Hemm baiklah, dimana mitting nya." kata Arya
"Di restauran kemarin bos." jawab Arlan cepat
"Baiklah, kau bawa saja semua berkasnya, kita berangkat sekarang," kata Arya lalu berjalan keluar,
"Kau ajak juga dia." sambung Arya menunjuk sekrestarisnya,
"Kamu ikut," kata Arlan dingin menunjuk sekretaris bos nya. mau tak mau ia pun mengikuti sang bos dan asisten nya.
*JF Restauran*
"Selamat siang tuan Arya, selamat datang kembali di Restauran kami," ucap Rama Asisten dari JF grub.
Arya hanya mengangguk lalu Rama mengawal Arya sampai di sebuah ruangan VVIP yang telah di siapkan untuk acara mitting, rupanya disana sudah ada CEO dari JF grup,
"Tuan Arya," ucap Sebastian ramah, dibalas anggukan dan senyum tipis oleh Arya,
"Bisakah kita langsung mulai," tanya Arya datar
"Baiklah," jawab Sebastian
Sekitar Dua jam Arya dan Sebastian melakukan perbincangan seputaran kerjasama yang akan mereka kerjakan, Arya begitu puas dengan cara kerja Sebastian.
"Apakah Restauran ini juga atas desain anda?" tanya Arya sambil matanya menelisik desain Restauran yang kini ia singgahi
"Bukan tuan, sebenernya ini adalah desain seorang gadis kecil di masa lalu saya, dan saya hanya membenahi sedikit untuk memperindahnya." jawab Sebastian
"Woaahh Anda sangat romantis tuan Sebastian, apakah dia kekasih anda?" tanya Arya penasaran
"Hahaha anda bisa saja tuan," jawab Sebastian, "Dia bukan kekasih saya, tapi dia teman masa kecil saya, entah dimana dia sekarang. saya sudah mencarinya kemana mana, dan saya berharap dengan adanya Restauran ini dia segera mengingat saya." jelas Sebastian dengan sendu
"Memangnya dimana dia sekarang?" tanya Arya
"Entahlah," Sebastian mengedikan bahu nya, ia juga tidak tau kemana gadis kecilnya. "Sudah lebih dari 10 tahun kami tidak bertemu dan saya sudah mencari nya kemana mana tapi Nihil."
"Anda jangan berkecil hati tuan Sebastian, kalau memang jodoh tak akan kemana, sejauh apapun jarak di antara kalian kalau memang jodoh pasti akan bertemu kembali," ucap Arya bijak, entah kenapa Arya tiba tiba merindukan bocah kecilnya, sedang apa dia dirumah. batin Arya
"Yah, anda benar tuan, saya selalu berdoa semoga kami segera bertemu kembali," ucap Sebastian tersenyum, "Kalau pun memang kami tak berjodoh setidaknya saya masih bisa bertemu dengan nya,"
Arya dan Sebastian terus mengobrol sambil makan siang, setelah selesai Arya langsung pamit untuk pulang, ia tidak akan kembali lagi ke kantor, ia sangat merindukan bocah kecilnya.
"Arlan, Aku akan langsung pulang. kalian berdua kembalilah ke kantor." ucap Arya dengan wajah datar nya
"Tapi Tuan, masih ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani," ucap sang sekrestaris
"Kalian antarkan saja kerumah," ucap Arya yang langsung masuk kedalam mobil dan menancapkan gas nya tanpa peduli asisten dan sekertarisnya pulang dengan apa.
"Lah bos kok gue di tinggal." pekik Arlan namun mobil yang di tumpangi Arya sudah melaju kencang,
"Sial." umpat Arlan
"Hemm tuan Arlan, lalu kita bagaimana?" tanya Sang sekertaris
"Tuh banyak taxi" tunjuk Arlan lalu segera mencari taxi untuknya kembali ke kantor,
**
Rumah Utama.
Jenar, Bian dan Aiden tengah menonton Film horor di ruang keluarga sambil memakan cemilan bertiga dengan posisi Jenar berada di tengah tengah di apit Bian dan Aiden.
"Aaaaaa." pekik Jenar dan Aiden terkejut saat Hantu datang tiba tiba.
"katanya gak takut, huu cemen lo." ledek Bian kepada Aiden
"Aiden gak takut om, cuma kaget aja" kata Aiden membela diri. "tuh lihat setan nya aja jelek banget begitu dateng nya tiba tiba lagi gimana Aiden gak kaget coba."
"Eh bambang, namanya setan ya begitu mana ada setan cakep, kalo cakep dia gak bakal jadi setan dia bakal jadi model hadeuh." ucap Bian tepok jidat, "Dan lagi kalau dia dateng nya pake salam berarti bukan setan tapi Tamu,"
"Om Bian hafal banget kayaknya, udah pengalaman yaa." tanya Aiden dengan senyum miring
"Pengalaman apaan." tanya Bian
"Jadi setan," jawab Aiden tertawa
"elo tuh anak setan." ucap Bian melempar ciki ke wajah Aiden
"Mana ada setan ganteng kaya Aiden." kata Aiden percaya diri.
"Kalian ini kenapa sih berantem terus," kata Jenar melerai namun matanya terus fokus pada layar tv di depan nya, " Ssstt diem bentar lagi nih kayaknya bakal nongol lagi setan nya. siap siap." ucap Jenar yang sudah mengambil ancang ancang bantal untuk menutupi wajahnya. begitupun Aiden juga langsung mengambil bantal.
"Kalian payah banget sih, sok berani ngajakin nonton beginian tapi nya takut." ucap Bian menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sssttt.." ucap Jenar lalu mereka diam semuanya hingga beberapa menit kemudian mereka di kejutkan oleh lampu yang tiba tiba mati beserta TV nya, meskipun masih sore namun ruang keluarga berada di tengah dan jauh dari cahaya luar jadinya kini ruangan itu jadi gelap,
"Aaaaaaa." teriak Aiden dan Jenar berpelukan, sedangkan Bian menelan salivanya,
"Mbok Ni... mbak Alyaaa, gak lucuuu." teriak Bian namun tidak ada sautan suara sama sekali, "Kalian tunggu disini, biar aku nyalahin listriknya, kayaknya turun deh." ucap Bian mulai beranjak namun tangannya di cekal oleh Jenar.
"Jangan pergi,, takutt" kata Jenar dengan suara bergetar, membuat Bian jadi ikut merasa sedikit takut.
"Bentar doang Nar, lo juga Aiden kenapa malah nemplok begitu." kata Bian melihat Aiden yang nemplok memeluk Jenar dengan erat.
"Aiden meluk tante Jenar biar tante gak ketakutan." kata Aiden berkilah.
"Haiisss modus lo basi bambang." kata Bian, "Terus mau sampai kapan kita berdiam disini Jenar." kata bian, belum sempat Jenar berucap mereka kembali di kejutkan oleh beberapa benda jatuh,
"Aaaaa Papiiiii..." teriak Aiden memeluk Jenar semakin erat, jenarpun semakin mencengkram tangan Bian.
"Auu sakit Nar sakit," pekik Bian karena tangan nya di cekal kuat oleh Jenar.
"Jenar," bisik seseorang di telinga Jenar membuat Jenar dan Aiden yang berada di pangkuan Jenar semakin berteriak histeris.
"Huaaaaaaa,,, mbooookk Niii mbak Alyaaaa kalian di manaaaa." Teriak Jenar yang sudah ketakutan.
"Kamu disini dulu ya sebentar," kata Bian namun Jenar menggelengkan kepalanya." Jenar gak bisa jalan mas, kalau mas Bian pergi nanti ada setan gimana huaaa gak mauuu." tangis Jenar pecah kala ia tidak bisa berbuat apa apa karena ketakutan.
"Jenarrrr." bisik seseorang lagi membuat bulu kuduk Jenar kembali merinding.
"Huhuhuhuju jangan ganggu, jangan ganggu huhuhu Jenar anak baik gak nakal jangan ganggu." kata Jenar menangis sambil memeluk Aiden yang juga sudah menangis dari tadi.
"Kalian kenapa malah jadi nangis sih." ucap bian yang memang tidak mendengar suara bisikan itu.
"Hiks hiks hiks, papiii Aiden mau sama papi hiks hiks" ucap Aiden di sela tangisnya.
"I miss you." bisik seseorang lagi di telinga Jenar membuat tangis Jenar berhenti seketika. jantungnya berdegup sangat kencang dan matanya membulat sempurna saat mendengar kata itu,
"MAS ARYAAAAAA." Teriak Jenar, lalu tiba tiba lampu menyala dan terlihatlah Arya yang berdiri di belakang sofa yang di duduki Jenar sambil menopang dagu nya di sebelah pundak Jenar.
"Abang sialaaannn." teriak Bian tak kalah kencang, Bian benar benar kesal dengan Arya yang telah tega mengerjainya abis abisan, untung aja Bian tidak ikut menangis karena ketakutan.
Arya yang melihat wajah kesal Bian langsung tertawa terbahak bahak begitupun kala melihat Aiden yang menangis. sungguh telah lama ia tidak mengerjai adek nya seperti ini, Arya yang selalu bersikap datar dan dingin semenjak mengelola perusahaan, kini semenjak ada Jenar dia mulai kembali mewarnai hidupnya yang sebelumnya hanya abu abu, Arya kini lebih sering suka bercanda dan tertawa.
Tawa Arya pudar seketika tatkala melihat Jenar yang menatapnya dengan mata sayu dan memelas sambil memanyunkan bibirnya kesal.
Bersambung yaaa 😘😘
Mommy gak mau bikin Konflik berat yaa, jadi jangan berharap akan ada konflik yang berat, mommy sukanya komedi, jadi mommy cuma mau buat kita seneng seneng aja, mungkin nanti akan ada bawang nya tapi tidak akan berat, karena Novel ini emang bertujuan untuk menghibur doang 😘😍