
Seminggu telah berlalu, namun Jenar masih enggan untuk membuka matanya. Dia masih asik dengan aktifitasnya di alam mimpi.
Seluruh keluarga dan sahabat Jenar pun silih berganti mengunjungi Jenar dan baby twin J.
Arya sama sekali tidak pernah meninggalkan Jenar kecuali kamar mandi. Bahkan urusan kantor ia serahkan kepada Dimas dan Arlan. Hidupnya benar benar kacau dan di ujung tanduk. Arya terlihat sangat berantakan, ia hanya makan dan minum sesekali, bahkan mandi pun entah cuma berapa kali dalam seminggu terakhir ini. Ia hanya fokus dengan keadaan Jenar dan baby twin J.
"Arya, kamu makan dulu gih." Ujar Tamara yang baru datang kerumah sakit dengan membawakan baju ganti dan makanan untuk Arya.
"Nanti saja mah, Arya masih mau nungguin Jenar." Ucap Arya tanpa mengalihkan pandangannya pada Jenar. Membuat Tamara hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Sore hari, Fahmi beserta orang tuanya datang untuk menjenguk Jenar dan baby twin J. Ini adalah kali kedua mereka datang kerumah sakit.
"Bagaimana keadaan Jeje Ar?" tanya Fahmi.
"Dia masih belum mau membuka matanya." Jawab Arya lirih.
Bagas pun mendekat dan duduk di samping Jenar, begitupun Santi juga ikut berdiri di belakang Bagas.
"Jeje, kapan kamu bangun nak." Ucap Bagas lirih sambil mengusap rambut Jenar dengan lembut."Anak- anak kamu sudah menunggu mu nak, yuk bangun."
"Jeje Ayah itu anak yang kuat, ayo bangun sayang, buka mata kamu. Kami semua merindukan mu, begitupun baby twin J sangat merindukan mommy nya." ujar Bagas lagi sambil meneteskan air matanya.
"Iya Je, bangunlah ... kakak janji akan nurutin semua permintaan kamu nanti kalau kamu bangun. Kakak kangen sama suara kamu Je." ucap Fahmi.
"Apakah baby twin sering dibawa kemari nak?" tanya Santi kepada Arya, dan dibalas gelengan kepalan oleh Arya.
"Coba ajak kemari besok, dekatkan mereka ... biasanya ikatan batin seorang ibu dan anak sangat kuat, seperti keajaiban seminggu yang lalu." Tambah Santi.
Arya hanya diam mendengarkan saran dari ibu mertuanya. Arya membenarkan saran dari Santi dan memorinya kembali mengingat keajaiban yang terjadi seminggu yang lalu, dimana Jemar memberikan respon saat mendengar suara tangis kedua anaknya.
"Besok akan Arya coba bun. Terimakasih atas sarannya." ucap Arya tulus.
Ceklek! Pintu ruangan terbuka, tampak tiga orang gadis cantik tengah berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah parcel buah untuk menjenguk sahabatnya.
"Oops, maaf ganggu, kami akan pergi ..." ujar Chaca tidak enak.
"Oh, tidak nak. Kami akan segera pulang kok, kalian bisa gantian masuk kemari." ucap Bagas tersenyum.
Chaca, Hanna dan Nayla pun segera memasuki ruangan Jenar, bergantian dengan Arya dan kedua mertuanya keluar untuk menemui baby twin J.
"Je, kapan kamu bangun ... Kami kangen sama kamu Je." ucap Hanna yang sudah tidak dapat membendung air matanya.
"Gue yakin lo cewek yang kuat Je, eh ralat bukan cewek tapi Mother yang sangat kuat dan tangguh. So gue yakin lo bakal cepet bangun. Semangat Je, ada twin J dan Arya yang selalu nungguin lo, begitupun kita semua yang disini selalu nungguin lo bangun." Kata Chaca mencoba kuat dan tegar, namun nyatanya air mata itu tak urung sanggup ia bendung.
Ceklek!
Pintu ruangan Jenar kembali terbuka, dan terlihat Arlan juga Dimas yang datang untuk memberikan beberapa berkas kepada Arya.
"Sayang, dimama bos Arya?" tanya Arlan yang langsung menghampiri Hanna dan mencium keningnya dengan lembut.
"Astaga! kalian berdua bener bener gak ada akhlak yah," ucap Chaca dengan kesal dan cemberut. "Je, bangun dong lo lihat itu temen lo sama asisten laki lo bener bener gak ada akhlak! masak mereka ciuman bermesraan di depan jones kaya gue dan Nayla."
"Iri, bilang boss." Ucap Hanna terkekeh dan matanya melirik ke arah Dimas yang diam diam juga melirik kearah Chaca.
"Cihh, sorry ya ..." kata Chaca. "Eh gue nyusul kak Fahmi aja deh dari pada jadi obat nyamuk." Ucap Chaca sengaja menyebut nama Fahmi.
"kalau kamu pergi, aku jadi obat nyamuk sendiri dong Cha." kata Nayla cemberut.
"Gapapa. Lo temenin Jenar sebentar, lagian juga bentara lagi bos Arya sama orang tua kak Fahmi bakalan dateng." kaya Chaca lalu meraih tas nya dan segera pergi meninggalkan ruangan Jenar.
"Lah, mau kemana bang?" tanya Arlan yang melihat Dimas juga ikut beranjak dari duduknya.
"Toilet." jawab Dimas dingin lalu segera keluar.
"Lah, perasaan di sini juga ada Toilet deh. Kenapa pakai keluar segala yah?" tanya Nayla bingung.
"A' sepertinya rencana kita sudah mulai terbuka sedikit deh." Kata Hanna menatap Arlan dengan senyum manisnya dan di sambut senyum manis Arlan pula.
Bersambung 😘💃💃💃
Readers : Mom, kenapa mau end? jangan cepet2 end dong 😥
Mommy : Jenar memang akan segera End, tapi nanti mommy akan lanjut season kedua yakni kisah perjalanan nya Bian sama Lira
Readers : Om duren sama neng Chaca gimana mom?
Mommy : Nah itu masih mommy pikirin. Mommy sih pengennya bikin lapak sendiri untuk Om Duren dan neng Chaca, tapi entahlah nanti pikir belakangan aja.
😘😘😊🤗🤗