Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
ke Taman


Setelah mendengar pertengkaran antara Lana dan Faris membuat hati Chaca semakin sakit, Chaca memutuskan untuk berjalan jalan di Taman dengan menggunakan jasa taxi online, kan gak mungkin dia bawa motor sedangkan kaki nya masih sakit.


Chaca duduk sendirian di bangku taman sambil memandangi orang orang sekitar, Hingga perhatian Chaca teralihkan pada seorang anak kecil perempuan yang sedang bermain dengan ibu dan ayahnya. Chaca merasa sangat iri dengan gadis kecil itu lantaran ia tidak pernah merasakan kasih sayang sang Mama sejak kecil, Chaca dari lahir tinggal bersama sang Nenek (Orang tua Lana) hingga ia berumur 7 tahun saat sang nenek meninggal baru dia tinggal bersama Lana dan Faris.


Leona awalnya senang dengan kedatangan Chaca karena ia merasa memiliki teman, namun seiring berjalan nya waktu, Leona yang dulunya lembut dan penuh kasih sayang seperti Faris, perlahan berubah jadi seorang gadis yang penuh kebencian dan iri dengki, karena siapa lagi kalau bukan Lana, Lana tidak rela bila Leona dekat dengan Chaca yang menurutnya anak pembawa sial karena kehadiran Chaca adalah aib baginya, Bagaimana tidak bila Lana hamil akibat perkosaan, karena saat itu ia dan Faris sedang LDR, hingga akhirnya Faris mengetahui kejadian menyakitkan itu namun Faris tidak menyalahkan Lana dan tetap mau menerima Chaca sebagai putrinya. Meskipun Chaca tinggal bersama orang tua Lana, Faris selalu meluangkan waktu sepulang bekerja untuk mampir menemui Chaca.


Oke balik ke topik.


'*Andai aku bisa se bahagia itu,'


'Kapan ya mamah bisa sayang sama ku?'


'Siapa sebenernya ayah kandung ku'


'Sebejat apa orang nya?'


'Sejahat apa dia,'


'Apakah dia masih hidup atau sudah mati?'


'Aku ingin bertemu sama dia, setidaknya untuk melihat seperti apa wajahnya*,'


Chaca terus bergumam di dalam hatinya sambil menatap ke arah satu keluarga yang sedang bercanda tertawa bahagia.


"Tante Chaca," Teriak seseorang membuat Chaca mengalihkan pandangan nya mencari sumber suara.


"Aiden," kata Chaca sambil tersenyum, yah ternyata dia Aiden, yang sedang berjalan jalan dengan Bian untuk menagih es krim sih lebih tepatnya, tapi tadi sewaktu di jalan mereka tidak sengaja melihat Chaca yang sedang melamun makanya Aiden minta Bian untuk menghampiri Chaca.


"Kamu ngapain disini?" tanya Chaca.


"Tuh om Bian yang ngajakin, Aiden juga gak tau mau ngapain disini," ujar Aiden mengkambing hitam kan Bian.


"Heh anak Tuyul, seenak nya aja kalau ngomong," kata Bian kesal, "Kan elo sendiri yang minta berhenti tadi."


"Emang apa ya?" kata Aiden sok polos, "Kok Aiden lupa."


"Serah elo dah, anak tuyul mah bebas mo ngomong apaan," kata Bian lalu segera duduk di samping Chaca.


"Kenapa kaki lo?" tanya Bian.


"Jatuh," jawab Chaca singkat.


"Keppo," jawab Chaca terkekeh karena melihat wajah Bian yang kesal.


"Om Bian, Es krim nya om aja yang beli, biar Aiden disini temenin tante Chaca," kata Aiden, "Kasian masa tante Chaca di tinggalin sendirian, nanti kalau ada yang jahatin gimana, jadi sebagai laki laki sejati Aiden mau nemenin tante Chaca disini." Ujar Aiden membanggakan dirinya sendiri.


"au ah serah lo ngomong apaan," kata Bian yang sudah jengah dengan kata kata Aiden yang sok dewasa, "Mau rasa apa?" tanya Bian sambil beranjak dari duduk nya.


"Coklat," jawab Chaca dan Aiden bersamaan, lalu Chaca dan Aiden saling pandang kemudian tertawa bersama.


"Yang gue tanya anak tuyul kenapa anak setan ikut ikutan," kata Bian ketus.


"Ah elah sekalian sih Bi, lo pelit amat sih ama gue," ucap Chaca sambil mengedip ngedipkan matanya dan memelas.


"Gak usah sok manis lo," ujar Bian lalu pergi.


"Lah, kan emang gue manis," kata Chaca menunjuk ke dirinya sendiri, "Menurut Aiden, tante Chaca manis gak?" tanya Chaca kepada Aiden.


"Manis sih, tapi lebih manis Aiden," katanya.


"Iyah kamu bener, kamu manis bangetttt, ngemesiinn lagi," ucap Chaca mencubit kedua pipi Aiden dengan gemas.


"Aiden," panggil seseorang dari arah Belakang membuat Aiden dan Chaca bersamaan menoleh ke belakang.


"Papaaaa," Teriak Aiden lalu segera berlari ke arah Dimas yang baru datang.


"Om ganteng," pekik Chaca dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Dimas memandang Chaca dengan bingung, bagaimana bisa Chaca bersama Aiden, ini adalah kali kedua Dimas bertemu dengan Chaca.


"Tante, papa Aiden memang ganteng tapi lebih ganteng Aiden," ucap Aiden cemberut karena cemburu sang papa di bilang Ganteng sedangkan dia cuma di bilang manis.


"Hehehe iya iya kamu memang lebih ganteng, lebih imut, lebih lucu, lebih gemesin, lebih semuanya deh," kata Chaca nyengir.


"Dan yang pasti AIDEN LEBIH MUDA," kata Aiden membuat Dimas dan Chaca menggelengkan kepalanya, lalu Chaca dan Dimas saling pandang beberapa saat, hingga sang Nyamuk datang membuyarkan pandangan kedua nya.


Cie cie yang kemarin nebak siapa om om yang nolongin Chaca,,, siapa cung!!!


yang nebak Arlan atau Bian salah yah, masak Arlan sama Bian di panggil om sih 🙈🙈😂😂💃💃💃