Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Berburu perlengkapan Baby twin J


Kini Jenar dan Arya sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota nya.


Sudah satu jam lebih Arya menemani Jenar berkeliling di temani oleh Arlan dan juga Hanna tentunya.


"Mas, bagaimana kalau ini?" tanya Jenar meminta pendapat saat memilih sebuah kasur tidur untuk baby twin J.


"Jangan warna itu sayang," kata Arya,"Bagaimana kalau kita pilih yang biru saja?" katanya lagi.


"Tapi kan bagusan merah mas," kata Jenar mulai manyun.


"Je, kamu mau beli kasur warna kerah terus nanti anak kamu pakai baju putih, jadi bendera dong," ujar Hanna berkomentar sambil terkekeh membuat Jenar diam mencerna ucapan Hanna.


'Bener juga yah,' batin Jenar, akhirnya ia setuju dengan pilihan Arya untuk memilih warna Biru.


"Kayaknya perlengkapan kamar semuanya sudah oke dan pas," kata Jenar tersenyum puas sambil mengusap perutnya. "Kita cari baju yuk," kata Jenar lagi.


"Sayang, kita makan dulu saja gimana?" tanya Arya melihat jam sudah sore dan Jenar belum makan.


"Nanggung mas bentar lagi yah, Jenar belum laper," kata Jenar.


"Ya sudahlah, tapi abis ini kita makan yah, kasian twin J kalau kelaperan nanti," kata Arya dan dibalas anggukan oleh Jenar.


Sekitar dua jam lebih mereka sibuk memilih berbagai model dari baju kaos kaki sarung tangan dan semua kebutuhan yang sekiranya akan di perlukan.


"mas Jenar capek," keluh Jenar langsung terjatuh di sebuah sofa yang berada di toko baju tersebut.


"Gimana gak capek kalau kamu berdiri dan berjalan dua jaman lebih disini, belum tadi waktu beli perlengkapan mandi dan lain nya," kata Arya sedikit kesal karena Jenar ke capek an.


"mas Arya, istrinya kecapek'an bukannya di sayang malah di omelin," gerutu Jenar.


"Han, yuk kita makan," kata Jenar langsung bangun dan menggandeng tangan Hanna menuju sebuah restauran yang sudah di incar oleh Jenar sedari tadi.


"Sabar bos," ucap Arlan terkekeh.


"Sabar sabar, lihat aja lo ntar kalau udah punya istri dan istri lo ngidam, gue doain bakal lebih parah dari Jenar." Ucap Arya lalu segera menyusul Jenar dan Hanna.


"Je, si Nayla kok belum balik kesini lagi ya?" kata Hanna di sela makannya.


"Tau tuh dia, ada apaan sih emang dia pilang kampung?" tanya Jenar penasaran.


"Entah, katanya sih papanya sakit, tapi kok udah seminggu dia gak ngasih kabar yah?" kata Hanna lagi.


"Dia gak pernah cerita sih gimana gimana nya," kata Hanna, "Tapi aku cuma merasa kasian aka sama dia," kata Hanna mengingat saat kejadian di Restauran beberapa waktu yang lalu saat bertemu dengan Dimas dan mantan istri Dimas.


"Kasian kenapa?" tanya Jenar, "Kayaknya ada bagian yang aku gak tau yah?" tanya nya lagi.


"Gak kok Je hehe," jawab Hanna kikuk.


"Hanna, kalian gitu ya sekarang, mentang - mentang aku udah gak kuliah kalian jadi main rahasia - rahasiaan sama aku, aku udah gak di anggap lagi," kata Jenar mulai berkaca kaca.


"Ehh," Hanna panik melihat Jenar mulai berkaca kaca dan Arya menatapnya dengan tajam, "Iya iya oke aku ceritain," kata Hanna menghela nafasnya pelan.


Hanna pun mulai bercerita saat dirinya di telfon oleh Arlan dan memulai rencana untuk menghancurkan acara pertemuan antara Dimas dan Astrid tempo hari.


Jenar hanya diam mengangguk - anggukan kepalanya tanda mengerti, ia pun sudah di ceritakan oleh Tamara tentang dan siapa mantan istri Dimas, dan mengapa sampai keluarga Pranata menutup pintu rapat rapat untuk Astrid.


"mas Arya sama mas Arlan gak ada cita cita gitu buat deketin mereka berdua?" tanya Jenar membuat Arya tersedak makanan nya.


Uhuukk hukk! Jenar pun langsung memberikan minuman kepada Arya.


"Hati - hati mas," kata Jenar.


"Lagian pertanyaan kamu aneh banget sih yank, cita cita begitu." Kata Arya.


"Jenar cuma kasian sama Chaca dan juga Aiden kayaknya mereka udah deket banget," kata Jenar.


"Iya tapi, itu bukan urusan kita, biarin aja mereka urus masalah mereka sendiri," ucap Arya.


"Tuh kalian berdua denger kan, biarin aja itu urusan mereka, kalian jangan ikut campur," kata Jenar menyalahkan Arlan dan Hanna membuat keduanya melongo tak percaya, padahal jelas jelas yang mulai bicara Jenar membahas Chaca dan Dimas, kenapa sekarang malah menyalahkan mereka.


"Je," kata Hanna menatap tajam ke arah Jenar karena kesal.


"mas Arya, Hanna tuh lihatin matanya gitu banget ke Jenar," kata Jenar manja, membuat Hanna berdecak kesal.


"Lan, bilangin cewek lo," kata Arya kepada Arlan.


"Haiss,," decak Arlan, membuat Jenar tertawa.


Bersambung 💃