Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Tendangan bar bar


"Mas, nanti jadikan kita ke mall nya?" tanya Jenar saat memasang kan dasi pada suaminya.


"Mas ada meeting jam 11, nanti mas usahain cepet selesainya biar kita bisa jalan berdua," kata Arya mengecup kening Jenar.


Hari ini Jenar meminta Arya untuk menemaninya membeli perlengkapan untuk baby twin J, entah mengapa Jenar sangat ingin memilih barang barang itu sendiri, sebenernya Tamara sudah menawarkan dirinya untuk menemani Jenar namun Jenar hanya mau pergi dan memilih bersama Arya.


"Ya sudah, nanti Jenar ke kantor mas Arya atau mas yang pulang jemput Jenar?" tanya Jenar.


"Mas aja yang pulang," ucap Arya seraya berjongkok mengusap perut Jenar, "Hallo sayang nya Daddy, kalian jangan nakal ya di perut mommy, jangan suka nendang - nendang, kasian mommy nya meringis terus," ucap Arya sambil mengusap perut Jenar malah membuat baby twin J semakin aktif bergerak lincah.


"Aaawwwhh sssshh," ringis Jenar saat merasakan tendangan maut dari salah satu baby nya.


"Sayang, main bola nya nanti saja kalau sudah di luar, kita main sama sama yaa, sekarang jangan kenceng kenceng nendang perut mommy nya, kasian tuh mommy ya sayang ya," kata Arya lembut, perlahan baby twin J mulai diam dan bergerak halus tidak se bar bar tadi.


Rutinitas Arya setiap pagi dan menjelang tidur ialah mengajak baby twin J mengobrol, itu adalah saran dari dokter Maya agar baby twin J bisa semakin mengenali suara orang tuanya, awalnya Jenar merasa geli dan risi, namun lama kelamaan Jenar terbiasa dan ia sering ikut mengajak baby twin J berbicara kalau sedang senggang atau saat baby twin mulai bar bar.


Pagi ini, wajah Aiden tidak seceria biasanya, kini ia menjadi lebih dingin dan sangat jarang berbicara, membuat jenar menyerngit bingung.


"Aiden, kamu sakit?" tanya Jenar lembut dan hanya di balas dengan gelengan kepala.


"Aiden, ada apa sayang? cerita sama oma," tanya Tamara ikut khawatir melihat perubahan Aiden yang sangat drastis dalam waktu satu hari, padahal kemarin Aiden masih sangat ceria.


"Anak tuyul, lagi sariawan lo?" tanya Bian mulai usil namun juga tidak mendapatkan jawaban dari Aiden, "Woaah, jangan - jangan bener nih sariawan, atau sakit gigi mungkin?" sambung Bian terkekeh.


"Aiden kenyang," ucap Aiden memundurkan kursinya dan berdiri,"Aiden berangkat sekolah dulu," ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan meja makan.


"Aiden kenapa sih?" tanya Jenar namun tidak ada yang menjawab.


"Dimas akan berangkat ke kantor sekarang," kata Dimas yang juga mulai beranjak dari duduknya.


"Haiss ini anak sama bapak kenapa sih," kata Tamara mengeluh pusing.


"Gak mungkin kan Aiden dan mas Dimas lagi dapet?" kata Jenar cemberut membuat semua langsung menatapnya.


"Apa?" tanya Jenar polos, "kan Jenar bicara bener mah, mas gak mungkin mereka dapet karena mereka cowok," kata Jenar.


"Serah apa kata kamu dah Je," kata Bian ikut beranjak dari duduknya.


"mas Bian," panggil Jenar membuat langkah Bian terhenti.


'Jangan macem macem, jangan aneh aneh pliss ku mohon Tuhan,' gumam Bian dalam hati, sejujurnya ia sangat takut sekarang bila Jenar mulai memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Bian.


"Gapapa, cuma ngetes kuping mas Bian aja, ternyata masih berfungsi dengan baik," jawab Jenar cemberut, mengingat kemarin ia memanggil manggil Bian namun tidak di dengar oleh Bian, sebenernya Bian mendengar hanya saja ia takut Jenar meminta hal aneh dan macem macem, maka dari itu Bian memilih pura pura tidak mendengar.


"Udah nih beneran gitu aja?" tanya Bian memastikan, "Gak ada yang diminta?" kata Bian keceplosan membuatnya seketika merutiki dirinya sendiri.


"Hemm kalau mas Bian yang nawarin oke deh, nanti pulang dari kampus beliin Batagor yang di depan itu yah harus yang panas dan baru di goreng, sama Capuchino cincau yang waktu itu mas Bian beliin, mau lagi tapi tiga," kata Jenar.


'Nah kan, mamp*s aja lo Bi, punya mulut kaga dijaga, ngapain sok sok an nawarin begitu,' ucap Bian dalam hati. Bagaimana caranya Bian membelikan batagor yang masih panas dan baru di goreng sementara perjalanan dari kampus ke rumah itu hampir satu jam.


Kalau begini Bian hanya bisa pasrah.