
Malam itu di JF Resto and Caffe Chaca bersama dengan Hanna dan juga Nayla Tenga menikmati makan malam bersama sambil nongkrong ala anak muda.
"Huh andai bisa berempat lagi yah," kata Hanna sedikit cemberut.
"Sejak Jenar hamil, dia gak pernah bisa keluar malem lagi." tambah Nayla.
"Eh iya Nay, lo kemaren balik lama banget ngapain aja sih?" tanya Chaca mengalihkan pembicaraan.
"Emm i itu anu," kata Nayla kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jujur sama kita, lo ada masalah apaan. Bukankah kita sahabat?" kata Chaca lagi mendesak Nayla agar bercerita.
"iya Nay, kok aku merasa agak kurang percaya ya kalau om Zain sakit." Imbuh Hanna membuat Nayla menghembuskan nafas dengan kasar.
"A aku," Nayla mengambil nafas sedalam dalamnya lalu menghembuskan nya perlahan, "Aku mau dijodohin," lirihnya.
"What!" pekik Chaca dan Hanna bersamaan hingga membuat perhatian sebagian orang langsung beralih ke meja mereka.
"Serius lo?" kata Chaca, dibalas anggukan oleh Nayla.
"Sama siapa Nay? umurnya berapa? ganteng gak? bukan om-om kan? dia masih single kan Nay? duda atau perjaka Nay?" Hanna beruntun.
"buset itu pertanyaan panjangnya ngelebihin ketera kayaknya," kata Chaca mencibir.
"Sama anak temen papa aku Han, dia pengusaha dari China," kata Nayla dengan wajah kesal memorinya mendadak memutar kembali saat kejadian ciuman pertamanya dengan Chen.
"Ganteng gak?" tanya Chaca.
"Entahlah jangan bahas pliss, kepala ku baru aku refreh loh, tolong jangan di ingetin lagi tentang cowok brengsek itu," keluh Nayla dengan wajah memohon.
"Ya udah, ganti topik ,," ujar Hanna lalu menatap Chaca dengan intens.
"Dihh, apaan? kenapa perasaan gue mendadak gak enak begini yah," kata Chaca menelan Saliva nya.
"Gimana kelanjutan kisah kamu sama om Duren?" tanya Hanna sambil menatap mata Chaca.
"Nah kan, gue lagi yang di bahas," kata Chaca kesal.
"Buruan cerita ke kita, kamu bilang kita sahabat gimana sih Cha!" seru Nayla cemberut.
"Hemm entahlah gue juga gak tau gimana kelanjutan kisah cinta gue, tapi gue lagi berusaha buat dapetin dia," ujar Chaca dengan tersenyum miring.
"Maksud nya?" tanya Hanna bingung.
"Haiss, udahlah pokoknya kalian doain aja semoga gue sama om Duren jodoh." Ujar Chaca terkekeh.
***
Di kediaman keluarga Pranata sedang terjadi kehebohan kala mendengar jeritan Jenar saat di meja makan.
"Mas Aryaaaa," pekik Jenar sambil.memegang perutnya.
"Manaaa papaaa buruan kesini," teriak Arya di tengah kepanikkan.
"Ada apa sih teriak teriak," kata Tamara yang baru datang di meja makan.
"Mamaaa sakiittt." Keluh Jenar menangis sambil memgaang perutnya dengan nafas yang terengah engah.
"Hah, Je kamu mau melahirkan?" tanya Tamara langsung ikut panik.
"Gak tau ma huaaa sakiittttt," kata Jenar sambil terus meremas rambut Arya hingga membuat Arya ikut memekik kesakitan.
"Sayang, sakiittt," kata Arya berusaha melepaskan cengkraman tangan Jenar di rambutnya namun malah semakin kencang Jenar menarik rambutnya.
"Bukannya masih 8 bulan, masih ada beberapa minggu lagi?" tanya Tamara.
"Huaaa Jeje gak tau mamaaa sakiitt," Jenar menangis sambil terus memegang perutnya serta menjambak rambut Arya.
"Mamah, tolongin Arya ini," kata Arya.
"Papa buruan siapin mobil pah, kita ke rumah sakit." Ujar Tamara sambil lari kocar kacir buru buru mengambil tas nya yang berada di kamar.
"Duh, non Jenar mau melahirkan sampai kaya begitu, jadi ngeri," ujar Lira di sudut dapur sambil mengusap perutnya bersama mbok Ni.
"Ngeri kenapa?" tanya mbok Ni menyerngitkan dahinya.
"Ngeri mbok, kayaknya sakit banget duh kan Lira jadi merinding," katanya.
"Sudah kodratnya seorang perempuan akan mengalami sakit seperti itu, tapi nanti saat kamu mendengar tangis malaikat kecil kamu dan melihat betapa sempurna nya malaikat kecil itu maka rasa sakit yang kamu rasakan akan hilang seketika," ujar mbok Ni sambil tersenyum.
"Mbok Ni emang udah berapa kali melahirkan?" tanya Lira penasaran.
"Empat kali," jawab mbok Ni tersenyum.
"Hah!" pekik Lira terkejut.
'Kok gue jadi merinding sendiri ya ngebayangin betapa sakitnya nanti melahirkan?' gumam Lira dalam hati masih sambil mengelus perutnya.
"Ngapain lo usap usap perut begitu, lagi ngisi lo?" tanya Bian yang melihat lira terus mengusap perutnya.
"Den Bian mau ngisinya?" tanya Lira tersenyum genit membuat Bian menyemburkan minuman yang tengah di teguknya.
"Gila lo yah," pekik Bian melotot tak percaya.
"Kok gila, Lira kan cuma nanya doang," ujar Lira terkekeh, Lira merasa terhibur setiap kali menggoda Bian. Membuat Bian kesal adalah hiburan tersendiri untuk nya.
Bersambung 💃💃