
"Eh Bi, tadi gue lihat abang lo kesini gue kira nemuin elo," kata Andre teman sefakultas Bian.
"Hah, abang gue kesini?" ucap Bian membeo.
"Iya, gue kira mau kesini," katanya lagi.
"Terus dimana dia sekarang?" tanya Bian.
"Tadi sih kayaknya gue lihat dia ke arah kelas yang biasa lo datengin," jelas Andre, yah bukan Rahasia umum lagi kalau Bian sering mengantar dan menjemput Jenar, DULU.
"Oh ya udah, gue cabut dulu," ucap Bian menepuk bahu Andre lalu segera berlari mencari kelas Jenar.
"Eh, kalian ngapain disini?" tanya Bian saat sampai di depan kelas Jenar, namun malah menemukan tiga pengawal somplak menjaga pintu.
"Jadi palang pintu," ucap Chaca ketus.
"Lo kata mau kawinan pake palang pintu segala," ucap Bian tak kalah ketus, "Awas lo minggir," sambung nya sambil berusaha masuk.
"GAK BOLEH," ucap Trio somplak bersamaan.
"Gue tau Jenar di dalam kan sama bang Arya?" kata Bian dengan wajah datarnya.
"Kalo lo tau kenapa lo mau masuk Bambang," ucap Nayla.
"Cacing kremi yang montok, gue mau ngomong sama mereka berdua, MENGERTII," tekan Bian sambil menatap Nayla.
"kak Bian, cacing kremi nya di kasih makan apaan bisa montok gitu," ucap Hanna sambil menahan tawanya.
"Lo tanya sama temen lo ini dia makan apaan," kata Bian.
"Enak aja, mana ada Kremi secantik aku," kata Nayla kesal.
"Ada, nih di depan gue," ucap Bian sambil tersenyum meledek dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla.
Deg.
Saat mata mereka beradu pandang, membuat kedua jantung keduanya berpacu cepat. namun Bian segera memutuskan pandangan itu.
"Kak Bian sialan." Nayla memukul mukul lengan Bian dengan tas nya hingga membuat Bian mengaduh kesakitan, namun ia juga tertawa melihat kekesalan Nayla.
Ceklek,
Pintu terbuka dari dalam, Jenar dan Arya keluar bersamaan, membuat Bian dan Nayla menghentikan aksinya.
Tanpa berkata apapun Arya langsung menggandeng Jenar dan membawanya pergi dari sana.
"Jenar lo gapapa kan?" tanya Chaca.
"Jenar," lirih Nayla dan Hanna bersamaan.
Jenar tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu mengikuti suaminya.
"kak, emang bener dia abang kandung lo?" tanya Chaca menepuk pundak Bian.
"Iya, kenapa,?" tanya Bian cuek, Bohong bila ia tak ikut sakit saat melihat sorot mata Jenar yang sepertinya habis menangis, Hati Bian seperti ikut teriris, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa.
"Kok beda yah, gantengan dia loh," ucap Chaca meledek Bian, membuat Bian langsung menatap ke arahnya. "Hehehe Canda doang elah, gak usah gitu juga muka nya, kaya cewek PMS," ucap Chaca cekikikan.
"Lo tuh dari awal masuk dulu kayaknya gak pernah ngehargain gue jadi senior deh ya," ucap Bian gemas.
"Mau di hargain berapa sih emang, nih gue ada duit kembalian beli gorengan tadi." ucap Chaca, yah Chaca emang paling bar bar dan berani di antara geng somplak.
"Eh bentar bentar," ujar Chaca menelisik wajah Bian dengan lekat, bahkan Chaca sampai memegang wajah Bian dan memiringkan ke kanan dan kekiri.
"Apa apaan sih lo ah," pekik Bian marah karena merasa di permainkan oleh Chaca.
"Kenapa sih Cha," tanya Nayla penasaran.
"Muka lo ngingetin gue sama seseorang, tapi siapa yaaa?" ucap Chaca sembari memikirkan siapa orang yang mirip dengan Bian.
"Sorry ya muka gue ini bukan muka pasaran, jadi jangan nyama nyamain muka gue sama orang," ketus Bian lalu segera pergi dari sana. Bian merasa lama lama bisa gila kalau dekat dengan trio somplak.
🍂🍂
Jenar masih mematung dengan wajah datarnya menatap ke arah luar jendela yang berada di kamarnya.
"Sayang," ucap Arya lembut sambil memeluk Jenar dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu Jenar.
Jenar masih diam bergeming tak menjawab apapun, "Kamu masih marah?" tanya Arya sambil mengendus leher Jenar.
"Aku tuh cuma cinta sama satu bocah polos yang bernama Jenar Mahesa Arum Pranata, tidak ada yang lain lagi di hatiku, sekalipun itu MANTAN," ucap Arya berbisik di telinga Jenar membuat tubuhnya menegang kaku.
"Aku juga tidak tau kenapa masih ada foto itu disana, Aku sendiri jarang membuka laci itu karena kamu tau kan akhir akhir ini aku sering sibuk di luar, aku ke kantor hanya sebentar abis itu keluar lagi," Arya coba menjelaskan kepada Jenar.
"Apakah salah bila aku cemburu mas?" tanya Jenar lirih.
"Enggak, kamu gak salah, aku yang salah," ucap Arya, dengan terus menciumi leher jenjang Jenar.
"Apakah aku ke kanak kanakan, yang main pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan kamu," kata Jenar dengan terisak.
"Sayang," ucap Arya lagi sambil membalikkan tubuh Jenar agar menghadap kepadanya, lalu ia menghapus air mata yang membasahi pipi Jenar, "Semenjak aku sudah mengambil kehormatan kamu, aku sudah putuskan bahwa aku tidak akan pernah mengkhianati kamu, aku tau bagaimana rasanya di sakiti dan aku tidak mungkin melakukan itu kepadamu," jelasnya lagi.
Jenar menatap mata Arya dengan lekat, yah, Arya jujur karena Jenar bisa melihat tatapan tulus dari mata Arya, tanpa sadar air matanya kembali menetes kembali.
"Sayang, percaya sama aku, meskipun aku bukan type laki laki romantis tapi aku adalah type laki laki Setia, Terlebih aku sudah merasakan bagaimana sakitnya di dua kan dan aku tidak akan pernah melakukan itu," Arya menarik nafasnya panjang menjeda ucapan kalimatnya, "Meskipun kamu bukan yang pertama singgah di hatiku, tapi kamu yang pertama memiliki hatiku, mantan itu hanya tamu, sedangkan kamu sang pemiliknya."
"kamu yang mengambil keperjakaan aku jadi kamu yang akan selalu memilikinya, dan kamu lah pemilik hatiku seutuhnya, kamu berhak menempatinya selama kamu mau," ucap Arya tersenyum.
"Yaaa," Pekik Jenar langsung memukul dada Arya dan mengulum senyum, "Mas Arya juga yang udah ngambil perawan Jenar, kenapa seolah olah mas Arya yang gak mau rugi, padahal dalam hal begini Jenar yang harusnya rugi kalau sampai mas Arya ninggalin Jenar." sungut Jenar kesal.
"Kata siapa aku gak rugi, aku juga rugi kalau sampai ninggalin Bocah polos lugu dan imut kaya istriku ini, nanti siapa yang akan manjain 'Adikku," kata Arya sambil mengerlingkan sebelah matanya, membuat pipi Jenar langsung merah seketika.
"Mas Arya mesuumm," pekik Jenar menutupi wajahnya dengan tangan.
"Mesum begini kamu suka kan? kamu cinta kan?" kata Arya tersenyum dan membuka tangan Jenar agar ia bisa melihat wajah merona Jenar.
"Astaga, kenapa aku bisa nikah sama om om mesum gitu sih," ucap jenar menutup wajahnya dengan telapak tangan nya lagi karena malu.
"Umur ku masih 29tahun, dan belum om om, tuh si Dimas yang om om," sahut Arya tak terima.
"Tetep aja kamu udah TUA," kata Jenar dengan tersenyum, kini ia menyesali perbuatan nya yang mungkin egois, karena main pergi tanpa menunggu penjelasan Arya, tapi jangan salahkan Jenar juga, ini adalah cinta pertama nya dan juga kali pertama ia merasakan sesak di dada akibat cemburu, di tambah bertemu dengan kakak tiri dan ibu tirinya, membuat hatinya semakin sesak.
"Sayang, aku merindukan mu," ucap Arya langsung mendekap tubuh Jenar.
"Modus," cibir Jenar.
"Tidak hanya aku tapi juga 'Adikku' kamu bisa merasakan nya sayang, dia juga sangat merindukan kamu," ucap Arya sambil menggenggam tangan Jenar lembut lalu menuntunnya untuk menyentuh 'Adiknya' membuat Jenar langsung memekik terkejut.
"MAS ARYAAAAAA," teriak Jenar malu namun Arya malah terkekeh.
Bersambung lagi ahh,,, hayoo hayoo jangan pada Traveling yaa fikiran nya 🙈🙈😂👌💃💃💃
*Note :
Marah marah itu gak bagus loh buat kesehatan, mommy cuma mau ngingetin aja kalian jangan suka marah2 yah, nanti cepet tua loh 🙈💃
Apalagi ngancem2 mommy mau stop baca, Oh no mommy syediihhh 😩😱
Jangan tinggalin mommy yaa, mommy udah berusaha buat alur yang menarik, tapi kalau kurang berkenan buat kalian, masukan kritik dan saran jangan asal pergi ninggal kenangan kaya mantan , , , ,
💃💃💃💃💃*