Terpaksa Menikah Dengan Pembantu

Terpaksa Menikah Dengan Pembantu
Jenar Mahesa Arum


Jam sudah menunjukkan pkl. 003:00 dini hari namun Arya masih terus mondar mandir di luar ruangan, ia sangat takut terjadi apa apa dengan istrinya, begitupun Tamara dan juga Adi tak kalah khawatirnya dengan Arya.


"Sudahlah Ar, tenang dulu jangan kaya gitu. Yakin aja Jenar pasti akan baik baik saja." Ujar Tamara, walau sebenarnya dalam hatinya juga sangat panik dan khawatir.


"Jenar mah," ucap Arya tertunduk lesu.


"Jenar wanita kuat Ar, dia tidak akan meninggalkan kalian." kata Adi ikut menenangkan putra nya.


Ceklek! pintu ruangan terbuka membuat Arya, Tamara dan juga Adi langsung berlari ke arah Dokter Maya.


"May, bagaimana keadaan Jenar." Kata Arya.


"Iya May, bagaimana menantu tante," kata Tamara.


Dokter Maya menghela nafasnya. "Maaf tan, om, Ar," ucap Dokter Maya tertunduk.


Deg!


Jantung Arya seolah berhenti berdetak mendengar penuturan Dokter Maya.


"Apa maksudmu May," pekik Arya.


"Maaf Ar, kami sudah melakukan nya sebaik mungkin tapi pendarahan pada rahimnya tidak bisa di hentikan," ucap dokter Maya lirih. "Sedari awal aku kan sudah menyarankan agar melahirkan secara SC, namun dia bersikeras ingin melahirkan normal, dan ini yang ku takutkan, umurnya masih terlalu muda untuk mengandung anak kembar dan melahirkan secara normal." ucap Dokter Maya menjelaskan.


Tamara langsung histeris di pelukan Adi, namun berbeda dengan Arya, ia hanya terdiam dan tidak ada air mata yang keluar. Ia masih menatap lekat lekat wajah dokter Maya lalu tertawa.


"Maafkan kami," ujar Dokter Maya.


"Gak May, kamu bohong kan, bilang kalau ini hanya Prank kan May," kata Arya menggelengkan kepalanya.


"Maaf Ar, tapi kami hanya manusia biasa, semua sudah di kehendaki oleh Tuhan." Ujar Dokter Maya.


"Gak May, enggak kamu bohong. Kamu Bohong!" teriak Arya. "Jenar gak mungkin ninggalin aku, gak. Gak mungkin!"


"Hahaha gak lucu May, kamu tidak tau sekuat apa istriku," ucap Arya tidak percaya, lalu ia segera berlari masuk kedalam ruang Jenar.


Arya melihat tubuh mungil istrinya sedang terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit. Semua alat sudah mulai di cabut dari tubuh Jenar, perlahan Arya pun mendekat dan berjongkok di samping Jenar.


"Sayang, bangun dong, kamu gak mau lihat baby twin J hem," bisik Arya lembut di telinga Jenar.


Tak bisa di pungkiri sekuat apapun Arya mencoba tidak menangis, namun nyatanya air mata laknat itu tetap saja menetes saat melihat istrinya terbaring lemah disana.


"Anak anak masih sangat membutuhkan mu, begitupun aku. Sayang ku mohon bangun, buka mata kamu," ujar Arya sambil berusaha membuka mata Jenar dengan jemarinya lalu ia terisak.


Arya kembali mengingat saat saat sebelum Jenar melahirkan masih sempat meminta makanan padanya. Bahkan makanan itu sama sekali belum tersentuh oleh jenar, Arya terus menangis sambil memeluk tubuh Jenar dengan erat.


"Sayang, bangun ku mohon bangun ..."


"Jangan tinggalin aku, aku mohon sayang ..."


Di luar ruangan, semua keluarga sudah berkumpul saat mendengar kabar Jenar yang melahirkan.


Semua tidak ada yang menyangka bahwa Jenar akan pergi secepat ini.


"Bang," panggil Bian menepuk bahu Arya yang masih setia duduk di samping tubuh Jenar.


"Ssstt jangan berisik Bi, nanti Jenar bangun. dia lagi istirahat." kata Arya lirih, matanya sudah bengkak dan memerah.


Bian mendongakkan wajahnya ke atas agar air mata tak menetes di pipinya, "Bang, udah ikhlasin Jenar ya," ucapnya.


"Lo ngomong apaan sih Bi, dibilang jangan berisik, mending lo lihatin anak anak gue sana biar gue temenin Jenar dulu disini," kata Arya menyuruh Bian pergi. Lalu ia merebahkan kepalanya di sisi kepala Jenar.


"Arya, lo harus ikhlas." ujar Dimas ikut menyemangati Arya.


"Kalian ini apa apaan sih, udah deh sana sana keluar jangan pada disini. Berisik." kata Arya.


"Lo gak mau ngazanin anak anak lo." kata Dimas membuat Arya langsung menatap Dimas.


"Oh iya, anak anak gue belum di adzanin." Ucap Arya pelan. "Sayang, kamu istirahat dulu ya disini, di temani Bian, biar mas Adzanin anak anak kita dulu," ujar Arya berbisik di telinga Jenar.


"Bi, jagain kakak ipar lo, jangan macem macem." ancam Arya lalu melangkah keluar menuju ruang bayi.


Seperginya Arya, Bian dan Dimas sudah tidak bisa membendung air matanya lagi saat melihat Jenar. Hati Bian sangat sakit dan terasa sangat sesak saat melihat Jenar tertidur di atas brangkar dengan memejamkan matanya.


"Je, bangun dong, kamu gak mau nyuruh nyuruh aku lagi?" kata Bian saat sudah berada di samping tubuh Jenar.


"Bangun Je, aku ikhlas kamu suruh - suruh terus gapapa, asal aku bisa lihat senyum dan tawa kamu lagi. Aku bisa denger suara kamu lagi. Plis je, bangun." Isak tangis Bian begitu pilu di telinga Dimas. Dimas sangat tau bagaimana kedekatan Bian dan Jenar sedari awal Jenar datang ke rumah keluarga Pranata. Bian lah orang pertama yang dekat dengan Jenar.


"Astaga Je, kenapa kamu teha banget sih ninggalin twin J yang masih sekecil itu." ucap Bian mencoba untuk tidak menangis namun nyatanya air mata terus mengucur membasahi pipinya.


Kok mommy nangis yah nulis part ini? 🙄