
Seminggu telah berlalu, kondisi Jenar sudah mulai membaik dan kini ia sudah di perbolehkan pulang.
Sejak kejadian kemarin, sikap Arya semakin menjadi jadi dan posesif berlebihan.
Entah Jenar harus merasa sedih atau senang dengan sikap perhatian Arya.
"Sayang, makan dulu abis itu aku akan membantumu mengganti baju agar kita bisa pulang kerumah,," ujar Arya menyuapi Jenar.
"Mas, Jenar bisa makan sendiri." kata Jenar ingin makan sendiri namun tidak di izinkan oleh Arya.
"Biarkan aku memanjakan mu seperti ini sayang, ku mohon..." gumam Arya menatap mata Jenar dengan sendu.
"Kamu tidak tau betapa takutnya aku saat kamu akan meninggalkan ku dengan twin J." Ucapnya lagi membuat Jenar terdiam.
"Sayang, berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan ku."
"Sudah cukup kita memiliki baby twin J, aku tidak akan membiarkan mu mengandung lagi." ucap Arya tegas.
"Hah, kenapa?" tanya Jenar bingung san terkejut.
"Aku tidak mau mengambil resiko lagi, aku tidak mau kehilangan kamu, tidak mau." Arya kembali menteskan air matanya saat mengingat kejadian yang lalu.
"Hey, aku disini mas. Jenar tidak akan kenapa kenapa, percayalah." Jawab Jenar tersenyum sambil memegang rahang kokoh Arya.
"Sudah cukup kita memiliki dua pangeran, biar kamu lah yang akan menjadi ratu tercantik di kerajaan kita." kata Arya lembut.
"Tapi Jenar masih pengen memiliki seorang Princees mas, masa hanya ada pangeran tidak ada princees nya." Kata Jenar cemberut.
"Gak sayang, mas tidak mau," ucap Arya tegas. Ia masih sangat takut menghadapi persalinan sang istri. Selain tubuhnya ikut remuk karena menjadi pelampiasan saat proses persalinan namun hatinya lebih remuk kala melihat istrinya dinyatakan tidak selamat dalam perjuanganya.
"Biarkanlah pangeran kita yang akan mencarikan princess untuk sang Ratu kelak." tambah Arya sambil tersenyum.
Jenar mencoba memaklumi ketakutan Arya, jadi ia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arya. Masalah hamil lagi atau tidak, itu bukan atas kehendak suaminya, tapi kehendak yang kuasa. Jenar hanya bisa berdoa semoga kelak Tuhan memberikan nya seorang putri yang cantik jelita.
Jenar sudah sampai di kediaman Pranata, saat ia turun dari mobil, Arya langsung menggandeng tangannya, tadinya ia sangat ingin menggendong Jenar. Namun Jenar menolak keras lantaran malu, bagaimana tidak, bila di depan pintu utama semua keluarga sudah menunggu kedatangannya.
Baby twin J sudah di gendong oleh Santi dan juga Tamara dengan menggunakan mobil lain dan kedatangan nya lebih telat sedikit dari Jenar.
Jenar tersenyum senang melihat kedatangan para sahabatnya di rumah untuk menyambutnya.
Jenar sangat bersyukur karena Tuhan masih begitu baik padanya, Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuknya memperbaiki diri agar lebih baik lagi.
Jenar sangat bahagia karena hidupnya kini sangat sempurna, memiliki orang tua yang sangat baik dan sayang padanya, serta kakak dan juga adik yang menyayangi nya (meskipun hanya ipar) jangan lupakan para sahabat yang selalu ada bersamanya sedari awal, Jenar sangat bahagia akan hal itu.
Dan kini, ia memiliki dua orang pangeran yang akan mewarnai hari hari nya. Serta suami yang akan selalu mencintainya dengan tulus.
"Siapa nama mereka Je?" tanya Chaca dengan semangat, pasalnya ia begitu penasaran dari kemarin.
"Iya siapa Je?" tanya Nayla ikut penasaran. Kini Jenar beserta ketiga sahabatnya tengah berada di dalam kamar Baby twin J untuk beristirahat.
"Yang pertama namanya Javier Athaya Pranata. Dan yang kedua namanya Javie Athala Pranata." Jawab Jenar sambil tersenyum, mengingat perdebatan tempo hari di Rumah sakit bersama Aiden dan Arya.
"Hemm Javier dan Javie," ucap Chaca memanggut manggutkan kepalanya.
"Hello baby Javie dan Javier." Ucap Hanna tersenyum, kini ia tengah memangku baby Javier. Sedangkan baby Javie ada di pangkuan Nayla.
"Je, kita seneng banget akhirnya lo bisa kembali berkumpul lagi sama kita kita disini," ucap Chaca dengan tatapan sendu nya. "Gue takut banget kemaren kalau sampai lo gak mau bangun."
Jenar merasa sangat terharu akan sahabat dan juga keluarga yang begitu menyayangi nya dengan sepenuh hati.
"Terimakasih yah, kalian selalu ada buat aku selama ini, aku beruntung banget nemu sahabat kaya kalian." Ucap Jenar tulus.
"Dikata kita barang apaan Je, di temu segala." ucap Chaca cemberut namun juga tersenyum.
"Lah kan emang aku nemu kemarin di kampus hahahha." Jenar tertawa dengan bahagia di susul ketiganya.
Tanpa mereka sadari, bahwa ada sepasang mata yang menguping dan melihat interaksi antara keempat gadis yang sedang bercanda tawa di dalam sana. Karena memang kebetulan pintu itu masih terbuka sedikit.
Mommy heran deh, kenapa di keluarga Pranata banyak banget ya yang suka nguping 🙈🙈🙈💃💃💃💃💃
Baby Javie & Javier 😍