
Pagi hari saat Jenar membuka mata dia sudah tidak menemukan Arya di sampingnya, Jenar menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Arya namun tidak ada, lalu ia meraih jam di atas nakas nya.
"Jam 5, mas Arya kemana ya?" gumam Jenar, lalu mulai beranjak dari tidurnya.
Ceklek!
"Mas Arya," pekik Jenar terkejut melihat tampilan Arya yang acak acakan. Jenar segera berlari menuju arah Arya yang sehabis dari kamar mandi.
Sebaliknya Arya malah terkejut dan marah saat melihat jenar berlari ke arahnya.
"Kamu bisa hati hati gak sih?" pekik Arya marah, karena khawatir dengan kandungan Jenar.
"Ma maaf mas," ujar Jenar menundukkan kepalanya, membuat Arya menghembuskan nafasnya pelan lalu segera merengkuh tubuh Jenar.
"Jangan ulangi lagi, kamu harus perhatikan langkah mu sayang, ingat kamu sedang membawa dua malaikat kecil disini," ujar Arya mengelus perut Jenar.
"Ma maaf mas, Jenar hanya khawatir sama mas Arya," kata Jenar menatap wajah Arya yang terlihat pucat.
"Mas lebih Khawatir sama kalian sayang," kata Arya kembali mengecup kening Jenar.
"Mas Arya kenapa?" tanya Jenar, sambil membawa Arya ke tempat tidur.
"Gapapa, cuma pusing aja dan mual," jawab Arya sambil meletakkan kepala nya di Paha Jenar.
"mas Arya sakit?" tanya Jenar panik.
"Enggak sayang, mas gapapa, paling nanti siang juga udah baikan, mas pengen di manja sama istri mas dulu," kata Arya meraih tangan Jenar lalu di letakan nya di kepala Arya, agar jenar mau mengusap usap kepalanya.
Tanpa protes, Jenar pun langsung menuruti kemauan Arya hingga tanpa sadar Arya kembali tertidur.
Perlahan Jenar meletakan Kepala Arya di atas bantal lalu ia beranjak pergi dari sana untuk mandi.
Setelah selesai mandi, Jenar turun ke bawah untuk membantu mbok Ni memasak seperti biasa, Jenar terkadang bingung sendiri, kadang ia suka memasak tapi kadang ia juga benci bau masakan, entahlah Jenar mencoba menikmati perubahan perubahan pada dirinya yang ia sendiri tidak mengerti mengapa.
***
"Inikan yang kalian minta?" tanya Arlan memberikan sebuah berkas yang berisi surat tanah dan rumah kepada Arini. yah Hari ini Arlan menemui Arini di apartemen milik Keysha.
Arini segera membuka berkas itu dan matanya langsung membola setelah membaca isi surat surat itu.
"Saya ingin nya di kota ini, dan juga mengapa atas nama Jenar?" kata Arini setengah berteriak.
"Tuan Arya sudah berbaik hati memberikan anda Rumah lebih dari ekspetasi anda, bukankah kurang ajar bila anda masih banyak protes," kata Arlan santai.
Tujuan Arya memberikan Arini dan kedua anaknya rumah adalah agar Arini dan kedua anak nya pergi jauh dan tidak bisa mengganggu Jenar lagi.
"Kenapa atas nama Jenar?" tanya Arini.
"Agar anda tidak bisa menjual rumah itu, dan juga lebih baik anda menurut dan tinggal di sana, jauh dari hidup nona Jenar, maka saya akan pastikan anda Aman," ujar Arlan dingin dan tajam, "Saya tidak bisa menjamin bila anda masih kekeuh bersikeras untuk tinggal di kota ini dan menghancurkan hidup nona Jenar." sambung nya.
"Khanza gak mau bu, Khanza maunya disini, khanza gak kau tinggal di kampung lagi," pekik Khanza tidak terima. "Khanza mau kuliah disini," sambungnya lagi.
"Bila anda bisa menghadapi segala kemungkinan yang lebih buruk silahkan anda bertahan disini, dan lepaskan tawaran yang Tuan Arya berikan ini," ujar Arlan.
"Nona Keysha bukan kah anda yang paling tau bagaimana kepribadian tuan ARYA PRANATA," sindir Arlan melirik Keysha, membuat Keysha susah menelan Saliva nya.
Keysha sangat tau bagaimana seorang Arya Pranata bila sedang murka, karena Keysha sudah beberapa bulan bekerja dengan nya.
"Ki kita pindah saja bu," ucap Keysha pada akhirnya.
"Kak," pekik Khanza.
"Khanza cukup," bentak Arini, sedangkan Arlan tersenyum sinis melihat pertikaian antara anak dan ibu di depan nya.
"Kalau ibu sama kakak mau pergi silahkan, tapi Khanza akan tetap berada di kota ini," kata Khanza tegas.
"Silahkan kalian pikirkan lagi, bila kalian sudah memutuskan segera hubungi saya," kata Arlan mulai berdiri dari duduknya, "Bukan kah nona Keysha masih menyimpan nomor ponsel saya?" tanya Arlan tersenyum tipis.
"Hemm," Keysha hanya membalas dengan deheman saja.
Setelah Arlan pergi, Arini dan Keysha saling berdiam diri di kursi masing masing.
"Bagaimana bu?" tanya Keysha pada akhirnya.
"Kita pindah saja, toh mereka mau menjamin hidup kita kan bila kita mau nurut," ujar Arini pasrah.
Arya sudah menyiapkan rumah dan pekerjaan untuk Arini dan Keysha di kota M, maka dari itu Arini memilih mencari aman, daripada mencari masalah.
"Khanza," ucap Keysha.
"Paksa," kata Arini lalu ia segera beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar, sedangkan Keysha hanya menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Kenapa nasib lo bisa seberuntung itu sih Nar," gumam Keysha, kembali mengingat masa masa kecilnya dulu dengan Jenar.
Bersambung yaaaa 🤗💃💃💃