
Revisi : Pesan sedikit, awalnya akan update 3 chapter hari ini, tapi ternyata chapter 82 ada bagian yang harus di revisi dan harus diperbaiki untuk plot ke depannya, harap bersabar dan akan di up besok ya. Mohon maaf , ini demi kebaikan bersama. Terima kasih atas pengertian dari para pembaca.
...----------------...
"Kau ?!" Qiu Fenghuang merasa marah dengan hal ini.
Sayang sekali untuk Sekte Naga Biru untuk kehilangan tiga Kultivator yang berada di tingkat ketujuh Tahap Prajurit Perak.
Untunglah, Sekte Naga Biru meremehkan nya, jika tidak maka jika Sekte Naga Biru turun tangan secara pribadi untuk menyelesaikan nya.
Maka He Xun terpaksa untuk mengeluarkan cara miliknya, apalagi jika bukan menggunakan senjata rahasia yang dilapisi racun.
Pada akhirnya, tidak peduli sekuat apapun seseorang, tidak akan bertahan, apalagi dibawah serangan dari racun korosi milik nya.
He Xun menarik pedangnya secara kejut dan membuat Qiu Fenghuang kehilangan keseimbangannya.
He Xun mengambil kesempatan ini untuk menyerang Qiu Fenghuang di bagian perut. Kali ini, He Xun bertekad untuk mengakhiri semuanya dengan Qiu Fenghuang karena dia sudah malas.
He Xun lapar dan tidak berniat untuk bermain main lagi dengan Pendekar Pedang Phoenix Kembar ini.
"Seni Pedang Qilin Api !" Ucap He Xun.
Pedang Naga Petir secara langsung dilapisi oleh api Biru yang membara dan menembus perut Qiu Fenghuang.
Qiu Fenghuang tidak menyangka dengan kecepatan pedang milik He Xun yang terlalu luar biasa dan tidak dapat ditahan.
Jadi, Qiu Fenghuang langsung terhenyak ke belakang tapi tidak langsung terjatuh. Tombak milik Qiu Fenghuang jatuh ke tanah dan menimbulkan suara berisik.
Darah mengalir dari sudut bibir Qiu Fenghuang, He Xun hanya menatap dengan acuh tak acuh sebelum akhirnya Pedang Naga Petir miliknya menancap tepat di jantung Qiu Fenghuang.
" Tidakkk ! Kakak seperguruan ! " Teriak Jun Yunwan dengan ketakutan sekaligus sedih dan air mata mengalir dari kedua mata Jun Yunwan.
Tapi, tidak peduli seberapa banyak usaha yang dikerahkan oleh Jun Yunwan, tidak ada satupun sisi tubuhnya yang bergerak.
Jun Yunwan tidak pernah bisa meraih kakak sepergurannya lagi. Qiu Fenghuang dan Jun Yunwan telah bersama selama lebih dari 15 tahun, mereka sama sama yatim piatu.
Jadi, mereka bisa saling memahami dan saling menjaga di dalam sekte. Siapa yang menyangka bahwa hari ini, kemuliaan dari Pendekar Pedang Phoenix Kembar akan jatuh disini dan menjadi kenangan ?
"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. " Ucap Qiu Fenghuang dengan mulut penuh darah dan berusaha untuk merangkak menyentuh Jun Yunwan.
Air mata mengalir di wajah Qiu Fenghuang, Jun Yunwan ingin meraih tangan dari kakak seperguruannya tapi tidak bisa melakukan hal tersebut.
Dengan tulang rusuk yang patah, apa lagi yang bisa dilakukan oleh Jun Yunwan selain menunggu kematiannya ?
Qiu Fenghuang menghela nafas terakhirnya dan tidak berhasil untuk meraih tangan Jun Yunwan sampai akhir hayatnya.
Setelah itu, Jun Yunwan yang melihat ini mengambil pedang dan menusukkan nya secara pribadi ke jantungnya.
"Dage, sekarang aku tidak akan kesakitan lagi. Kita akan kembali saling menjaga di kehidupan selanjutnya. " Ucap Jun Yunwan dengan senyum.
Sementara beberapa orang di belakang He Xun telah menangis ketika melihat perjuangan di akhir hayat dari sepasang kakak dan adik seperguruan dari Sekte Naga Petir.
He Xun merasa bahwa hal yang telah mereka tuai pada saat ini adalah hasil dari pekerjaan mereka sendiri.
Mereka mencoba untuk membunuhnya, jika dia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan, apakah mereka akan se menyedihkan ini dan mendapatkan simpati dari banyak orang ? Tentu saja tidak.
Jika He Xun tidak memiliki kekuatan untuk melawan, maka siapa yang akan berada pada posisi kedua orang itu ? Itu adalah dia, He Xun.
Tapi, jika He Xun berada di posisi itu, siapa yang akan menangis untuknya ? Siapa yang akan peduli padanya ?
He Xun merasa bahwa semua ini tidak masuk akal, orang orang terbiasa hanya untuk mengingat tindakan akhir, baik tindakan bagus atau buruk.
Kadang kadang, He Xun merasa bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menyatu dengan orang orang di sekitarnya, mereka memiliki cara pandangan yang berbeda.
He Xun mengayunkan tangannya dengan tidak niat dan Pedang Naga Petir melesat lalu membunuh semua murid Sekte Naga Biru yang tersisa.
Lalu He Xun berjalan ke arah Jun Yunwan dan Qiu Fenghuang untuk mengambil cincin ruang milik mereka.
Setelah itu, He Xun melompat naik ke atas kuda dan membuat orang orang He Xun terkejut.
"Apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Yi Fei Fei untuk memastikan.
Yi Fei Fei merasa gugup melihat ekspresi He Xun yang mengerikan seperti ini, He Xun itu jarang marah tapi jika marah seperti ini maka tidak akan ada yang berani untuk menganggu nya.
"Aku akan menyelesaikan seluruh dendam ini dan mengakhiri semuanya disini. " Ucap He Xun dengan dingin.
Hawa pembunuh yang ditahan oleh He Xun, secara tidak sengaja merembes keluar dan membuat orang di sekitarnya menggigil dengan ketakutan.
He Xun memacu kudanya dan kudanya melesat dengan kecepatan kilat, He Xun mencari Sekte Naga Biru yang telah menguras habis kesabarannya.
He Xun akan melihat bagaimana orang orang Sekte Naga Biru yang arogan ini masih bisa bertahan di bawah tindakannya yang licik.
Sementara di penginapan , Baili Ruoqing tampak merasa gelisah untuk hal ini. Dia ingin menyusul tapi kata kata dengan jelas tertulis di wajah He Xun tadi.
He Xun tidak ingin siapapun ikut dalam pembantaian kali ini.
"Aku pikir, tindakan kalian yang menangisi penjahat itu telah menyakiti He Xun. Sebagaimana kedua orang itu ingin membunuh He Xun pada awalnya, jika He Xun tidak melawan maka orang yang menangis disana bukanlah kedua orang itu tapi He Xun." Ucap Xiu Xi Yi dengan tatapan tajam.
Xiu Xi Yi bahkan tidak menangis sama sekali karena pola pikir milik Xiu Xi Yi kira kira sama dengan milik He Xun.
Mereka berpikir dengan kritis dan setiap hal bisa menjadi pertimbangan, ketika mendengar kata kata Xiu Xi Yi barulah mereka memikirkan hal ini dan menyesal.
Tapi, mau bagaimana lagi ? Nasi telah menjadi bubur. Juga , bukan keinginan mereka untuk menangis disana dan menjadi tontonan orang orang. Hanya saja, air mata mereka benar benar tidak bisa ditahan lagi.
"Aku pikir, apa yang dikatakan oleh Xiu Xi Yi benar." Ucap Baili Ruo Qing sambil menyeka air matanya dengan kasar.