
Pedang Naga Petir muncul di tangan He Xun dan dengan ganas mengayunkan pedang itu. Energi pedang yang terbentuk sangatlah kuat.
Orang orang Klan He yang membawa He Liang tidak bisa melarikan diri dan terkena aliran energi pedang milik He Xun.
Yang terkena, langsung terbelah menjadi beberapa bagian, bahkan orang tua mereka tidak akan mengenali mayat mereka lagi.
Dari semua orang yang hancurkan oleh He Xun, hanya menyisakan He Liang sendirian yang masih hidup dengan kepala yang pecah.
Semua murid Klan He yang dibawa oleh He Liang telah berubah menjadi beberapa bagian dan orang orang menjerit ketakutan.
Bau amis darah menyebar ke seluruh penginapan dan pelayan menjadi salah tingkah, ada juga beberapa pelanggan yang muntah karena tidak tahan.
Bahkan kedua murid He Xun telah berdiri dan menahan diri agar tidak muntah , berpegangan satu sama lain dengan erat agar tidak pingsan.
He Xun menoleh dan melihat kedua muridnya dengan kasihan, lalu menggendong mereka berdua.
"Shizun, kenapa kamu berubah terlalu banyak ?" Tanya He Yue dengan bulu mata yang basah.
"Tidak ada apa apa hanya terjadi sedikit hal yang diluar kendali. Kalian berdua masuk ke dalam kamar dan jangan lihat, apakah kalian mengerti ? Setelah ini Shizun akan masuk dan bercerita kepada kalian. "Ucap He Xun dengan lembut.
"Ya, Shizun. " Jawab kedua muridnya dengan lemah.
Karena sedih melihat kedua muridnya yang menderita melihat pemandangan yang menyakiti mata ini.
He Xun menggendong kedua muridnya sampai ke ambang pintu kamar yang telah mereka sewa dan membiarkan mereka untuk masuk lalu menutup pintu.
Setelah memastikan bahwa kedua muridnya masuk ke dalam, He Xun menutup pintu dari luar dan menatap ke arah He Liang yang sedang duduk sambil terengah engah ketakutan.
Ekspresi He Xun sangat jijik seolah olah sedang melihat setumpuk kotoran besar yang menghalangi pandangan.
"Kamu sama buruknya dengan anak mu, seperti yang dikatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohon. Kalian, sekeluarga sangat menjijikkan. Aku ingat pada umur 5 tahun, kamu mengatakan bahwa aku tidak ada harapan dan tidak memiliki hak untuk membantah. " Ucap He Xun dengan lembut.
He Xun melangkah ke depan dan menginjak dada He Liang dengan tatapan acuh tak acuh, lalu menyambar rambut He Liang.
He Liang ingin menjerit kesakitan tapi tidak bisa karena mulutnya penuh dengan darah sehingga hanya bisa mengeluarkan desisan.
"Kali ini, aku akan mengatakan hal yang sama dengan mu. Kamu dan putramu, sama sama tidak memiliki harapan. Tidak memiliki hak untuk membantah dan ditakdirkan untuk menjadi batu pijakan bagiku, posisi sebagai ketua Klan yang selalu kamu dambakan, semuanya akan menjadi milikku. " Ucap He Xun dengan senyum penuh kebanggaan.
He Liang menggelengkan kepalanya dengan takut seolah olah tidak rela apabila dia yang naik menjadi ketua klan.
He Xun berdiri dengan pedang yang berlumuran darah dan tubuh He Liang telah terkulai tanpa saya, di tatapan pria itu, ada ketakutan dan ketidak relaan yang tersisa.
He Xun telah menyampaikan apa yang ingin dia katakan selama ini, jadi tidak menunggu lebih lama. Bagaimanapun dia memiliki dua murid kecil yang menunggunya untuk memberi penjelasan.
Tapi, tentu saja hal ini tidak mampu untuk meredakan kemurkaan nya, He Xun tidak akan puas.
He Xun memotong He Liang menjadi beberapa bagian lalu memanggil seorang pelayan yang gemetar ketakutan karena di panggil olehnya.
"Kamu, bawa peti dan antarkan ini kepada Klan He." Perintah He Xun.
"Ehm, tapi kami.... kami tidak menerima jasa semacam ini. " Ucap pelayan itu dengan gugup.
"Ini, untuk membayar semua kerugian dan bawalah mayatnya bersama dengan yang lain dan katakan bahwa aku, He Xun, akan menghampiri mereka. " Ucap He Xun sambil mengeluarkan satu kantung uang yang berisi 1.000 Tael Emas.
Pelayan yang melihat ini segera bergegas dan melakukan apa yang diperintahkan oleh He Xun. He Xun langsung melepas jubah luarnya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Terlihat bahwa kedua muridnya meringkuk di dalam ruangan , tampaknya masih sangat ketakutan. He Xun menghela nafas berat dan berjalan menuju kamar mandi lalu mandi sebentar dan berganti pakaian bersih agar tidak menakuti kedua muridnya.
"Apakah kalian berdua baik baik saja ?"Tanya He Xun dengan perhatian.
Suara He Xun sangat lembut seolah olah orang yang berbeda dengan orang yang mengamuk di depan tadi.
"Kami... kami... kami baik baik saja. " Ucap Chu Xue dengan gugup dan tampak takut untuk menatap mata He Xun.
"Huft, aku tahu bahwa suatu hari nanti kalian akan melihat ini, melihat bahwa aku tidak sebaik yang kalian pikirkan. Hatiku sempit dan aku pemarah, pendendam, bahkan menjadi orang yang sangat kejam. " Ucap He Xun.
"Jika kalian ingin berhenti untuk menjadi muridku maka aku akan melepaskan kalian, jangan takut bahwa aku tidak akan memberi kalian uang karena aku tentu saja tidak akan membiarkan kalian kelaparan. " Lanjut He Xun sambil menynduk karena takut melihat ekspresi dari kedua muridnya.
Tanpa diduga duga, He Xun mendapatkan dua pelukan hangat dari kedua muridnya. He Xun mengangkat kepalanya dan menatap kedua muridnya yang memeluknya dengan sangat erat , seolah olah baru melihat mainan baru.
"Kami berdua, tidak akan pernah bisa membenci Shizun. Shizun adalah penyelamat kami dan kami tidak seharusnya menjadi ragu dengan keputusan yang dibuat oleh Shizun. " Ucap He Yue dengan suara yang manis.
"Shizun juga adalah orang paling baik pada kami, tidak pernah marah atau memukul, hanya menasehati. Hanya saja, kami terlalu terguncang kali ini dan bukan membenci Shizun. Harap Shizun tidak marah kepada kami. " Ucap Chu Xue dengan kesopanan.
He Xun yang melihat kedua muridnya yang sangat menurut merasa bahwa matanya memanas lalu berkaca kaca.
He Xun adalah seorang pria yang kasar dengan kemampuan rata rata, tidak pernah mendapatkan kasih sayang semacam ini.
Setelah semuanya berubah, He Xun mulai mendapatkan apa yang seharusnya tidak ia dapatkan.
He Xun seringkali bertanya tanya pada dirinya sendiri, apakah ini benar benar nyata atau hanya mimpi semata ?
Bagaimanapun, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, jika :
Jika sesuatu yang terlalu baik atau sempurna seringkali tidak nyata.
He Xun takut bahwa ketika dia terbangun dari mimpi indah ini, dia masih berada di kandang anjing Klan He yang menyedihkan dan kembali menjilat kaki orang lain lagi untuk bertahan hidup.