
He Xun segera duduk di depan He Yue dan memakan mi yang dipesan oleh He Yue, itu tampaknya sudah hampir dingin.
Wajah He Yue tampak murung, sepertinya karena diganggu oleh penjahat penjahat tadi yang sangat menyebalkan, menurutnya.
"Yue, apakah ada sesuatu yang menganggu mu ?" Tanya He Xun.
"Tidak ada, hanya saja...... aku merasa bahwa jika Tuan telat sedikit saja maka aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertemu dengan Tuan atau tidak. " Ucap He Yue lalu air mata mengalir di mata indahnya.
He Xun menghela nafas pelan dan menaruh sumpitnya di atas mangkuk lalu berjalan menuju He Yue dan menepuk nepuk bahu gadis kecil itu.
"Tidak apa apa, di masa depan aku akan mengajarimu seni bela diri jadi kamu bisa melindungi dirimu sendiri." Ucap He Xun.
"Jika begitu, apakah Tuan akan meninggalkan ku ? Apakah Tuan tidak ingin merawatku lagi ? Apakah karena makanku terlalu banyak atau Tuan merasa bahwa aku terlalu berisik ?" Tanya He Yue dengan sedih.
"Aku mungkin tidak bisa melindungi mu di masa depan sehingga kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri. " Ucap He Xun.
"Tapi, jika karena aku berkultivasi maka Tuan akan meninggalkan ku maka aku tidak akan pernah menyentuh jalur kultivasi ! Aku ingin ikut dengan Tuan !" Ucap He Yue dengan mata bulat yang berair, tampak sangat menyedihkan.
"Yue, dengan kamu melatih kultivasi maka kamu bisa juga membantuku jika kita melawan musuh. Bayangkan, bagaimana jika seharusnya kita menang tapi karena aku harus melindungi mu juga maka kita menjadi kalah ?" Tanya He Xun dengan terus terang.
Mendengar ini membuat kepala He Yue tertunduk dalam dan kedua tangan kecil yang halus dan putih pucat seperti salju itu tampak meremas gaunnya sendiri untuk menekan emosinya.
"Baiklah, aku mengerti. " Ucap He Yue dengan suara yang agak serak.
He Yue menyeka air matanya dan mulai memakan mi nya lagi sementara He Xun kembali menghela nafas dan berjalan menuju tempat duduknya semula.
"Yue, yang harus kamu ketahui adalah jika kamu bisa kultivasi maka bukan berarti itu alasan aku meninggalkan mu. Tapi, masa depan tidak dapat di prediksi. Jika kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri, kepada siapa kamu akan bergantung ?" Tanya He Xun.
"Tuan tenang saja, aku mengerti. Aku tidak akan pernah mengecewakan harapan yang telah diberikan oleh Tuan. " Ucap He Yue sambil menunduk dan berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.
Mereka menghabiskan makanan mereka dalam keheningan dan kecanggungan sampai akhirnya He Xun membeli kasur untuk mereka berdua, dengan begitu maka di setiap kamar akan ada satu kasur dan mereka tidak tidur di satu ruangan.
Setelah memesan itu semua, He Xun meminta seorang pengrajin kayu untuk memperbaiki kediamannya.
Setelah mengurus semuanya, He Xun kembali ke kediamannya dan kasur telah di antar, satu kamar di depan adalah miliknya dan kamar yang di dalam adalah milik He Yue.
"Bagaimana ? Apakah ada yang kurang nyaman menurutmu ?" Tanya He Xun pada He Yue.
"Tidak ada yang tidak nyaman, semuanya baik baik saja. " Ucap He Yue sambil menatap sekitar dengan penuh kekaguman.
"Tuan, kenapa kamarmu sangat polos dan tidak memiliki hiasan ? Sementara kamu menaruh lukisan dan vas bunga di kamarku ? " Tanya He Yue dengan bingung.
"Tidak apa apa, aku hanya merasa bahwa seperti itu sudah cukup baik. Aku tidak terbiasa untuk tidur di tempat yang terlalu baik, jika tidak maka aku tidak akan bisa tidur nyenyak. " Ucap He Xun dengan senyum polos.
"Tentu saja, kenapa tidak ?" Tanya He Xun dengan santai.
"Jika aku tidak salah, maka ketika orang jahat itu datang, dia mengatakan seolah olah kamu dan dia telah lama kenal, marga mu juga sama dengan miliknya, apakah kalian semula adalah satu keluarga ?" Tanya He Yue dengan ragu ragu.
Mendengar ini membuat He Xun terdiam sejenak lalu tertawa ringan.
"Kami memang keluarga tapi tidak dekat, aku dan dia seperti api dan air. Sejak ayah dan ibuku meninggal, secara tidak langsung aku hampir tidak memiliki hubungan yang tersisa dengannya. " Ucap He Xun.
He Yue mendengarkan masa lalu Tuannya dengan seksama dan mengetahui bahwa itu adalah topik yang sensitif jadi He Yue tidak membahasnya lagi.
"Tidak perlu mengatakannya lagi. Itu tidak penting lagi, selama ada Tuan yang melindungiku maka aku akan baik baik saja. " Ucap He Yue dengan kepercayaan mutlak pada He Xun.
Tanpa diduga, baru saja duduk santai di kursi yang telah di pesan olehnya, pintu rumahnya telah diketuk.
"Sepertinya pertunjukan seru akan segera dimulai. Yue, duduk disini diam diam dan lihat bagaimana Tuanmu menangani orang orang jahil ini. "Ucap He Xun dengan malas dan ketika membuka pintu, benar saja ada sekelompok preman yang telah diusir nya tadi di Kedai.
"Anak muda, ini adalah hari kematianmu ! Tuan kami tertarik untuk menantang mu, Ha ha ha !" Teriak salah satu orang yang berada di kedai tadi.
Di depannya ada seorang pria kekar dan berkepala botak membawa pedang lebar, He Xun memandang orang itu dengan sinis.
"Kau seorang kultivator atau tukang potong daging ?" Ejek He Xun.
"Anak muda, kau memiliki mulut yang berani, lihat bagaimana Tetua ini mengajarimu bagaimana cara bertutur kata yang baik !" Ucap orang di depannya.
"Tetua yang baik, tolong ajari aku ! Pedang Naga Petir, panggil !" Perintahnya sambil mencibir.
Pedang Naga Petir masih di dalam sarungnya dan He Xun merasa bahwa tidak perlu untuk melepaskan sarungnya untuk melawan sekelompok orang usil ini.
Dengan pedang yang masih bersarung, bentrokan dengan pedang besar milik kepala Preman itu lalu He Xun meloncat ke atas pedang milik preman itu dan menarik mundur pedang miliknya.
Preman itu terkejut dengan tindakannya yang tiba tiba dan He Xun memberikan tendangan di bahu orang itu sebelum akhirnya kembali mendarat di tanah dengan wajah yang sombong.
"Tolong ajarannya, Tetua yang baik. " Ejek He Xun.
"Hmph ! Jangan merasa bangga dulu anak muda ! Aku baru saja pemanasan dan kau sudah sangat serius !" Ucap preman itu mencari alasan untuk menutupi kekalahannya.
"Baiklah, kebetulan aku juga baru saja pemanasan, bahkan tanganku belum bergerak sama sekali. " Ucap He Xun dengan wajah angkuh.
"Begini saja, untuk membuat ini lebih menarik aku akan membuat penawaran untukmu. Jika kamu bisa mengalahkan ku dalam 3 gerakan maka aku akan bersujud padamu dan memanggilmu sebagai ayahku, tapi jika kamu kalah maka kamu harus melakukan hal yang sama, yaitu bersujud padaku dan memanggilku sebagai ayahmu. Bagaimana ?" Tanya He Xun sambil terkekeh jahat sementara He Yue memandangi Tuannya yang sedang bertarung dengan penuh kekaguman.