PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )

PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )
73. Menjadi Buronan


Sejak hari dimana Ling Hua menderita luka dalam, He Xun tidak berani untuk menjadi lengah dalam pelatihannya lagi. Kali ini, He Xun telah mencapai tingkat yang baru lagi dari kultivasi nya.


Tidak hanya naik satu tingkat melainkan langsung 2 tingkat berkat pengetahuan yang dia miliki, He Xun juga tidak berani untuk bersantai.


Setiap ada waktu luang, maka dia akan masuk ke dalam Dimensi Pribadi miliknya dan mempelajari setiap hal baru yang bisa dipelajari olehnya.


Setiap ketrampilan akan sangat baik dan latihan seni pedangnya juga tidak buruk, walaupun belum membuat kemajuan yang signifikan.


Sudah tiga hari berlalu dan dia telah menjadi Tingkat 5 Tahap Prajurit Perak, kekuatannya tidak lagi sama dengan 3 hari lalu.


Seni Pedang Qilin Api juga telah dilatih olehnya, tapi sayangnya walaupun seni bela diri tersebut sangat kuat, itu memakan Qi yang sangat besar.


Untuk pertarungan jangka panjang maka tidak akan efektif, ditambah lagi kekuatannya saat ini masih sangat rendah. Akan sangat baik apabila dia telah mencapai tahap Prajurit emas.


Mereka berjalan menuju ibukota menggunakan kuda dari Kota tanpa batas, rombongan mereka membawa 5 kuda.


Masing masing kuda berdua, kecuali He Xun yang sendirian karena dia seorang pria dan kurang nyaman untuk bepergian dengan kuda yang sama apabila tidak terpaksa.


Alasan mereka tidak menggunakan pedang terbang adalah karena mereka ingin menikmati pemandangan indah di sepanjang Kota Tanpa Batas, bisa dibilang ini adalah kota yang paling unik.


Dimana tidak hanya ada orang dari Dataran Tengah, melainkan ada beberapa orang dari suku suku tertentu.


Yang menunjukkan pakaian yang berbeda dan bentuk wajah yang berbeda dan membuat mereka mempelajari hal bagus.


Di tempat yang penuh perdagangan ini, ada banyak naga yang menyamar sebagai ikan, jadi ada baiknya bagi mereka untuk hati hati.


Sesampainya di Ibukota, mereka berhasil masuk dengan damai lalu ketika He Xun berjalan lebih dalam, ternyata ada poster dengan wajah miliknya yang tertempel disana dengan sangat jelas.


He Xun merasa bahwa dirinya menjadi kaku sebelum akhirnya menyadari bahwa dirinya telah menjadi buronan.


Bagaimana mungkin ? Bagaimana orang orang bisa tahu bahwa dialah yang membunuh Wei Qi ? Apakah ada suatu benda yang bisa mengambil kenangan atau menyimpan kenangan ? Ini tidak baik !


He Xun melihat ke arah yang lain, mereka saling menatap satu sama lain dan membentuk sebuah kesepakatan yang aneh dan tidak bisa dimengerti oleh orang biasa.


"Bagaimana ? Kamu saat ini adalah buronan. Kita masuk dengan sangat baik dan aku tidak percaya bahwa mereka tidak curiga dengan mu tadi, tebakan ku adalah mereka sedang mengirim orang untuk mengejar kita. " Ucap Xiu Xiyi.


"Kalian semua pergilah dulu, aku dan Xiu Jie lebih dari cukup untuk menangani sekelompok orang ini. " Ucap Baili Ruoqing yang duduk di belakang Xiu Xiyi.


Semua orang mengangguk dan berpisah lalu mengambil jalan yang berbeda, agar tidak dibuntuti oleh orang orang.


He Xun juga tidak khawatir apakah Muridnya akan baik baik saja, karena kedua muridnya bersama dengan Ling Hua dan Yi Fei Fei, mereka berdua akan baik baik saja.


Sementara rombongan lain berisikan Lan Huayin dan Liu Qingxin, kekuatan keduanya bukanlah kekuatan yang bisa ditembus oleh orang biasa.


Jadi, dengan berpencar nya mereka ini ada baiknya juga, tidak akan membuat musuh curiga. Baili Ruoqing memandang ke arahnya dengan seringaian.


"Karena mereka yang datang sendiri kemari untuk mengantarkan nyawa mereka ke depanku, maka aku tidak akan menolak kehormatan ini. " Ucap He Xun dengan seringaian.


He Xun tidak akan melepaskan mereka dengan mudah lagi, setiap orang yang datang ke depan pintunya akan diselesaikan tanpa kata kata lain.


Sekelompok Prajurit belaka bukanlah tandingannya, jika itu adalah Jenderal pasukan, barulah He Xun harus memikirkan beberapa cara untuk menang.


Seperti yang di perkirakan, sekelompok pasukan datang dan menyerbu mereka sambil membawa sebuah gulungan kertas.


"Apakah kamu orang yang ada di dalam kertas ini ? Membunuh Pangeran adalah kejahatan besar, menyerahlah !" Ucap pasukan itu dengan angkuh.


"Kamu sedang bertanya apakah yang dikertas itu adalah aku atau bukan tapi sesudahnya kamu langsung mengancam, bagaimana jika aku bukan orang yang ada di kertas itu ?" Tanya He Xun dengan senyum nakal.


"Aku tidak percaya ! Mukamu sama persis dengan orang yang ada di gambar ini !" Teriak Prajurit itu.


"Jika kamu sudah menyadari itu maka untuk apa kamu bertanya, hm ? Sebenarnya yang bodoh itu aku atau kamu ? Kamu sangat menyedihkan, apakah topi besimu telah menekan otakmu ?" Tanya He Xun dengan sinis.


"Kau !!! Serang dia dan bawa dia ke hadapan Kaisar, kita akan makan enak selama 7 hari 7 malam !" Teriak pemimpin Prajurit itu.


He Xun menyeringai dan Pedang Naga Petir muncul di tangannya, He Xun memegangnya dengan erat sampai sampai urat di tangannya muncul dan membuat orang ketakutan.


He Xun melompat turun dari kudanya dan menerjang ke depan, pedang He Xun diayunkan dan memotong kuda musuh.


Kuda musuh jatuh ke tanah dan secara tidak langsung Prajurit yang berada di atasnya juga ikut jatuh dalam hal ini.


He Xun memutar tubuhnya berbalik untuk menyerang Prajurit yang berada di belakangnya, pertama tama adalah lumpuhkan kuda mereka dulu atau jika tidak maka He Xun akan di injak menjadi olahan daging giling oleh kuda kuda yang mengamuk ini.


He Xun mengalirkan Qi nya ke dalam genggamannya dan membuat ayunan pedangnya menjadi lebih kuat.


Sebuah tombak mengarah ke punggung He Xun, He Xun menusukkan pedangnya di sebuah kuda lalu bertumpu di kedua tangannya yang memegang pedang.


Tubuh He Xun terangkat dengan kedua tangan yang bertumpu pada pedang, dan mendarat di atas tombak yang mengarah pada jantungnya.


He Xun menarik pedangnya yang menancap di dalam tubuh kuda lalu menusukkan nya pada orang yang memegang tombak di belakangnya.


Tubuh Prajurit itu terjatuh sementara tombaknya juga ikut jatuh, He Xun melompat ke atas kuda Prajurit yang memegang tombak tadi.


Kuda itu memberontak dan menginjak Prajurit Prajurit di bawah nya dengan gila, He Xun mengendalikan kuda itu dengan sangat baik.


Sebelum akhirnya kuda itu tanpa sengaja tertusuk oleh sebuah pedang yang melayang, He Xun segera melompat turun agar tidak jatuh dari atas punggung kuda.


He Xun sangat sigap dan menggunakan Pedangnya sebagai tumpuan di tanah, dengan begini tidak hanya dia tidak tersungkur dari atas punggung kuda, dia juga tidak merasakan rasa malu yang mendalam karena jatuh dari atas punggung kuda.