PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )

PESONA BUNGA SURGAWI ( Season 1 )
58. Liontin Jimat Penekan Aura


He Xun mengenakan topengnya dan memasang isyarat untuk segera diam lalu menyuruh yang lain untuk bersembunyi, tepat setelah semua orang bersembunyi, pintu kembali dibuka dengan paksa dari luar.


"Apa yang ingin kalian lakukan ?! Tadi kalian telah menggeledah kamarku sekali dan kalian masih melakukannya lagi sekarang !" Ucap He Xun dengan marah.


"Tuan muda tidak perlu marah, arah dari kompas yang dapat mendeteksi siluman mengarah ke kamar Tuan muda terus menerus, kami takut bahwa kami harus menggeledah kamar Tuan muda sekali lagi." Ucap Prajurit itu.


He Xun yang melihat ini mendengus dingin dan membiarkan mereka untuk masuk ke dalam kamarnya, tepat ketika mereka masuk.


He Xun membuat keduanya pingsan dengan memukul titik kesadaran mereka. Keduanya pingsan dan He Xun menaruh mereka di atas kursi.


"Kalian bisa keluar. " Perintah He Xun.


He Xun merendam liontin yang disiapkan olehnya untuk keempat siluman cantik, lalu menatap kedua penjaga itu.


"Bagaimana dengan mereka ? Apakah kita harus membunuhnya ?" Tanya Baili Ruoqing.


"Tidak perlu, saat ini karena kita telah memiliki waktu. Maka, pesanlah kamar dipenginapan ini lalu tinggallah disana untuk sejenak. Sementara aku akan bertingkah seolah olah meraka tertidur. " Ucap He Xun dengan santai dan memberikan uang.


Yang lain mengangguk lalu menyewa kamar sebelah yang kebetulan pemiliknya baru saja pergi dan kamar itu sudah digeledah sebelumnya.


Penjaga tidak akan tahu bahwa kamar sebelah telah berganti pelanggan, He Xun terus melakukan ramuannya lalu menyimpannya dibawah kasur yang gelap.


Kedua penjaga itu terbangun dan menatap satu sama lain lalu mengacungkan pedang mereka ke arahnya.


He Xun menatap mereka berdua sambil berjalan mundur dan bertingkah seolah olah ketakutan dengan kedua pedang ini.


"Ini adalah kesalah pahaman ! Kalian berdua tertidur dan aku merawat kalian, sekarang kalian ingin membunuhku !" Ucap He Xun dengan suara yang besar.


Kedua penjaga itu menjadi panik, mereka boleh membunuh siluman sepuas mereka tapi jika membunuh warga sipil tanpa alasan yang jelas maka hukuman berat akan menunggu mereka.


"Tutup mulutmu !" Bentak salah satu penjaga.


He Xun langsung menutup mulutnya dengan patuh dan masih tampak ketakutan, kedua penjaga itu menilai He Xun dan memikirkan apakah kata katanya layak untuk dipercaya atau tidak.


He Xun mengedipkan matanya dengan ketakutan, He Xun sengaja melakukan ini, karena jika dia tetap tenang maka kedua prajurit ini tidak akan percaya padanya.


Tapi, jika dia bermain menjadi seorang bajingan pengecut maka kedua prajurit ini akan meremehkan nya.


"Kedua prajurit yang hebat, kalian mungkin jatuh tertidur karena dupa yang aku hidupkan. Aku memiliki gangguan tidur jadi selalu menghidupkan dupa penenang agar aku bisa tertidur dengan nyenyak. Kalian mungkin tidak tertidur kemarin dan dengan dorongan dari Dupa penenang kalian langsung jatuh tertidur. " Ucap He Xun dengan takut takut dan menunjuk dupa yang ada di atas meja nakas.


Kedua prajurit itu memikirkan kata kata He Xun dan menemukan bahwa itu sangat masuk akal karena mereka tidak tertidur kemarin.


Dengan Dupa penenang yang disebutkan maka akan sangat mudah untuk jatuh tertidur.


"Baiklah, kami akan pergi !" Ucap keduanya lalu berjalan pergi.


He Xun tersenyum sinis dan menutup pintu dengan bangga, siapa yang tidak bangga dengan penampilan yang begitu baik ? Sekarang dia bisa melamar pekerjaan untuk menjadi pemain teater.


Sepertinya, dia berbakat di bidang itu jadi He Xun ingin mencobanya nanti. He Xun menunggu dengan santai di dalam kamarnya.


Sebelum akhirnya membuat sebuah ide brilian, He Xun membuat lubang kecil pada dinding kertas disamping.


He Xun baru saja akan berbicara sebelum akhirnya melihat sebuah pemandangan yang luar biasa, tanpa diduga tempat yang dibuka oleh He Xun adalah kamar mandi sebelah.


He Xun memandang ke arah kamar mandi sebelah dimana Yi Fei Fei dan Baili Ruoqing yang sedang mandi dan tidak menyadari bahwa dia telah membuat lubang di dinding.


He Xun merasa bahwa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya, jadi He Xun langsung menyentuynya sebelum akhirnya menyadari bahwa dia telah mimisan setelah melihat pemandangan dua peri yang sepenuhnya dalam tubuh polos.


He Xun langsung membasuh hidungnya dan memukuli kepalanya , tapi bayangan tubuh dari kedua gadis itu benar benar tidak bisa hilang dari kepalanya.


Tubuh mereka benar benar tidak kalah dengan Sima Ying, terutama dibagian dada. Jika ketiganya memeluknya dengan erat maka He Xun akan meninggal dalam kondisi sesak nafas dan kesenangan.


He Xun membayangkan itu sebelum tanpa sengaja jatuh ke dalam bak mandi. He Xun menghela nafas dan kembali memukuli kepalanya, berusaha untuk memikirkan hal lain agar teralihkan.


He Xun berpikir bahwa dia telah menjadi gila karena hal ini, hal ini benar benar membuatnya menjadi gila.


Keesokan harinya, He Xun membuat lubang ditempat lain dan mengatakan kepada mereka lewat lubang tersebut yang untungnya berada di ruang tengah bahwa Liontin Jimat Penekan Aura telah berhasil untuk dibuat.


He Xun memberikan liontin itu kepada mereka lewat lubang tersebut karena He Xun takut bahwa pemilik penginapan ini adalah salah satu dari orang Kekaisaran jadi He Xun waspada dan menolak keluar.


"Kalian berempat, gunakan ini. Dengan begini maka kalian akan aman. "Ucap He Xun dan memasukkan liontin kecil itu ke dalam lubang.


Setelah itu semuanya menggunakan liontin dan mereka akan lebih aman, mereka berdiskusi dengan suara rendah dan berniat untuk segera keluar dari Kota Tanpa Batas dan menuju sebuah kota dengan nama Kota Jinyu.


Dekat dengan Kota Tanpa Batas, awalnya mereka tidak menyangka bahwa Kota yang dikatakan tidak memiliki pemilik ini sebenarnya hanya kata kata.


Kekuatan sebenarnya yang mengendalikan, masihlah Kekaisaran. Jadi, tidak cocok bagi mereka untuk berdiam diri disini lebih lama.


Mereka berdelapan, pergi dalam waktu yang terpisah dan bertahap lalu berjalan bersama menuju gerbang Kota Tanpa Batas.


Tanpa kekuatan yang cukup, maka mustahil bagi mereka untuk menantang pihak Kekaisaran. Semuanya mengenakan pakaian sederhana sebelum akhirnya mereka mendengar bahwa orang orang sedang berpartisipasi menuju kota Jinyu.


"Permisi, saudaraku. Apakah kamu tahu apa yang ada di Kota Jinyu ? Kenapa orang beramai ramai kesana ?" Tanya He Xun dengan rendah hati.


"Saudaraku , kamu mungkin tidak tahu tapi dikatakan bahwa disana ada harta karun yang muncul, yang muncul kali ini adalah pedang pusaka. " Ucap orang itu dengan berapi api.


"Apakah ada hal semacam itu ?" Tanya He Xun dengan polos.


"Tentu saja ada, aku dan rombongan ku akan pergi. Apakah saudara ingin ikut dengan kami ?" Tanya orang itu kasihan setelah melihat pakaian He Xun yang sangat sederhana.


"Ah tidak, aku harus mendiskusikan ini terlebih dahulu dengan orang orangku. Terimakasih banyak atas niat baik saudara karena telah mencoba untuk membantuku. " Ucap He Xun.


"Baiklah kalau begitu, aku berharap kita bertemu lagi di masa depan. Selamat tinggal. " Ucap orang itu lalu pergi.


He Xun menoleh ke orang orangnya dan Baili Ruoqing mendekati nya dengan ekspresi bingung.


"Kenapa kamu tidak marah ? Orang itu memandangmu dengan rendah !" Ucap Baili Ruoqing.


"Dengan dandanan ku saat ini, jika dia tidak memandang rendah aku maka aku akan bingung dan curiga. Sifat bawaan manusia adalah menilai dan membandingkan. " Ucap He Xun dengan tenang menjelaskan hal ini pada Baili Ruoqing.