
Sementara itu Rizki saat ini sedang tidur di bangku kelasnya dengan tenang.
Hingga tidak menyadari bahwa mata kuliah hari ini sudah berjalan satu jam.
"Frans, cepat kau buat Rizki bangun dari tidurnya!" ujar Dina kepada Frans.
"biarkan saja, mungkin dia sedang istirahat!" ujar Frans dengan tenang.
Tidak lama kemudian dosen laki laki itu pun menyadari Rizki yang biasanya terlihat sangat aktif.
Namun hari ini tidak terlihat sama sekali.
"Dimana Rizki?!" tanya dosen itu kepada semuanya.
"lagi istirahat di belakang!" ujar Robin dengan tersenyum.
Mendengar itu Robin pun mendapat pukulan dari teman di depan dan belakang tempat dia duduk.
"dasar bawel!" ujar Alice yang memukul bagian depan Robin.
Sementara Dina yang ada di belakang Robin pun menarik rambut Robin.
"aduh.. Aduh ampun, maaf kan aku!" ujar Robin yang merasakan sakit.
Sontak saja seluruh kelas menjadi tertawa riuh, karena kelakuan Robin.
"semuanya tenang!!" ujar dosen kepada semua mahasiswa.
Dosen itu pun berjalan kearah meja Rizki dan tiba tiba menarik telinga Rizki dengan keras.
"aduh sakit!!" ujar Rizki yang tersadar dari tidurnya.
"siapa sih yang menjaili ku?!" ujar Rizki dan langsung menoleh kearah dosen laki laki itu.
"ehh pak Danang!" ujar Rizki dengan senyum yang sedikit di paksakan.
Melihat hal yang lucu itu, membuat seluruh kelas kembali tertawa dengan riuh.
"sekarang silahkan maju ke depan dan jawab pertanyaan saya!" perintah pak Danang kepada Rizki.
"baiklah pak!" ujar Rizki yang langsung maju kedepan.
"sekarang jawab pertanyaan ini!" ujar pak Danang dengan pelan.
"Manusia di anggap seperti mesin dimana mereka dapat di gunakan setiap saat dan bisa di gantikan sesuai dengan perintah pimpinan!" ujar pak Danang dengan tenang.
"menurut kamu ini dasar teori apa dan jelaskan!" ujar pak Danang kepada Rizki.
Rizki yang mendengar itu pun terlihat berpikir sejenak dengan pertanyaan itu.
"itu adalah Teori Klasik dari Psikologi Industri dan Organisasi!" ujar Rizki dengan tersenyum.
"Teori Klasik ini mengatakan bahwa sebuah Industri atau Organisasi bisa membuat semua anggotanya diperalat layaknya mesin yang dapat di gunakan setiap saat!" ujar Rizki menjelaskan.
"dalam sebuah Organisasi dan Industri yang menganut Teori Klasik ini sangat membebankan kepada anggotanya, karena semua perintah tergantung dari atasan!" ujar Rizki dengan tenang.
"jika atasan menyukai pekerjaan nya maka anggota itu akan terus bekerja layaknya sebuah mesin yang tidak akan berhenti!" ucap Rizki dengan tersenyum.
"namun jika atasan tidak menyukai pekerjaan nya maka anggota itu pun dapat di gantikan secara langsung oleh anggota lainnya!" lanjut Rizki yang selesai menjelaskan.
"tidak salah jika banyak dosen yang menganggumi mu!" ujar pak Danang kepada Rizki.
"silahkan duduk kembali!" ucap pak Danang dengan tersenyum.
"baiklah, terimakasih!" ujar Rizki dengan tenang.
Rizki pun segera kembali duduk ketempat duduknya.
"baiklah teman teman mahasiswa, sekarang kita lanjutkan kembali materi kita!" ujar Pak Danang yang kembali menjelaskan.
Tidak lama kemudian pun mata kuliah itu selesai dan Rizki pun segera berlari pergi terlebih dahulu.
"Rizki tunggu!!" teriak Dian kepada Rizki.
Namun Rizki tidak mendengar sama sekali dan terus berlari.
"hey kenapa kau memanggil Rizki?!" tanya Dina dengan tiba tiba.
"ehh bukan apa apa kok Dina!" ujar Dian dengan bingung.
Tidak lama Putri pun mendatangi Dina dan Dian.
"kenapa kalian disini, mari kita ke kantin!" ajak Putri kepada Dian dan Dina.
Meskipun hubungan Dian, Putri dan Dina belum kembali seperti biasa.
Namun Putri ingin mencairkan kembali hubungan persahabatan mereka bertiga.
"Dina kami ingin minta maaf karena sudah membuat mu marah kemarin!" ujar Putri memegang tangan Dina.
"benar Dina, kami minta maaf atas perlakuan kami kemarin!" ujar Dian dengan tersenyum.
"apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian berdua?!" tanya Dina yang bingung.
"tidak ada, kami hanya ingin meminta maaf saja!" jawab Putri dengan tersenyum.
"baiklah, aku juga minta maaf karena sedikit menjauh dari kalian!" ujar Dina yang langsung memeluk kedua sahabatnya itu.
***
Sementara itu Rizki saat ini sedang di ikuti oleh Fidz salah satu kaki tangan dari tuan Renan.
Fidz memang di tugaskan untuk mengundang Rizki ke restoran Everest sekaligus bertemu dengan tuan Renan.
Rizki yang sadar jika dia sedang di ikuti pun seketika berhenti dan menoleh ke belakang.
Disana terlihat seorang pria dengan pakaian sebuah pelayan restoran.
"selamat malam tuan muda Saputra!" ujar Fidz dengan hormat.
"selamat malam tuan?!" tanya Rizki yang bingung.
"Nama saya Fidz, saya seorang pelayan yang di tugaskan oleh tuan Renan untuk menjemput tuan muda!" ujar Fidz dengan cepat.
Rizki yang mendengar nama tuan Renan pun menjadi sangat senang sekaligus curiga.