
“aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesakit ini!” gumam Dina yang tiba tiba meneteskan air matanya.
Dina baru kali ini merasa bahwa jatuh cinta yang sebenarnya sangat menyakiti hatinya.
Entah kenapa dia menyesali mencari tahu kebenaran dari pria culun di Universitasnya.
Kebenaran tentang Rizki sangat berpengaruh bagi Dina.
Apalagi Rizki telah menyelamatkan nyawanya dan martabatnya dua kali.
Namun yang menderita saat ini hanya Dina seorang.
Rizki dapat menjalani kehidupannya seperti biasanya.
Mengingat hal itu membuat Dina sangat emosional.
Mobil Dina pun semakin melaju dengan cepat karena ke khawatiran Dina.
Disisi lain Rizki saat ini tengah terpukau dengan hadiah yang diberikan oleh Bagas kepadanya.
Yaitu sebuah kartu hitam yang bertuliskan Namanya lengkap dengan pin untuk digunakan.
Meskipun Rizki belum tahu guna dari kartu ini.
Tapi disisi lain Rizki merasa sangat tidak nyaman dengan fasilitas yang diberikan oleh Bagas kepadanya secara Cuma Cuma.
Rizki menganggap bahwa suatu hari nanti dia harus membalas semua kebaikan dari Bagas kepadanya.
Untuk saat ini biarlah dia menyimpan kartu itu untuk sewaktu waktu bila diperlukan.
Hingga tiba tiba bel rumahnya berbunyi dengan nyaring.
“apa kedua orang itu sudah pulang?!” gumam Rizki dalam hatinya.
Rizki pun bangkit dan berjalan untuk membuka pintu rumahnya.
Untuk jaga jaga Rizki masih menggunakan penampilan culunnya dengan rapih.
Saat membuka pintu, Rizki pun terkejut bahwa ada Wanita cantik yang sedang berdiri dihadapannya.
“Alice apa yang kau lakukan disini?!” tanya Rizki yang terkejut.
“apa aku tidak boleh datang berkunjung kerumah teman ku?!” tanya Alice dengan cemberut.
Rizki yang melihat itu seketika menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
“tidak kok, silahkan masuk!” ajak Rizki kepada Alice.
Saat masuk kedalam Rizki pun menyadari bahwa Alice datang Bersama dengan Frans, yang membuat Rizki sangat kesal.
“apa kau yang membawanya kemari?!” tanya Rizki kepada Frans dengan berbisik.
“aku dipaksa olehnya!” jawab Frans dengan tersenyum meledek.
Frans pun buru buru masuk kedalam sebelum Rizki menanyai banyak hal yang menurutnya memusingkan.
Rizki yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan mengumpat dengan pelan.
“silahkan duduk, kalian ingin minum apa?!” tanya Rizki dengan ramah.
Belum sempat menjawab apapun.
Tiba tiba Dina datang masuk kedalam rumah sewa Rizki dan berlari kearah Rizki dengan tangis di wajahnya.
Peristiwa itu membuat Alice dan Frans sangat terkejut dengan prilaku Dina.
Sedangkan Rizki sangat bingung sekaligus terkejut dengan sikap Dina.
“tidak apa aku mengerti!” ujar Alice dengan senyum yang manis.
Frans yang melihat semua kejadian itu menjadi sedikit bingung dengan keberadaannya ditengah tengah mereka.
“sialan! Aku seperti nyamuk yang tidak dianggap!” gumam Frans dengan kesal.
“Dina apa yang terjadi?!” tanya Rizki dengan tenang.
“bukan kah kau di restoran bersama yang lain?!” tambah Rizki kepada Dina.
“lalu apa bedanya aku dengan Alice?!” tanya Dina kepada Rizki.
Alice yang mendengar itu seketika ingin marah dengan ucapan Dina.
Namun Frans memegang tangan Alice dan menggelengkan kepalanya.
Alice yang melihat itu pun segera menenangkan hatinya.
“jangan lakukan apapun!” ucap Frans pelan kepada Alice.
“baiklah Dina silahkan duduk!” ujar Frans kepada Dina.
“aku dan Rizki ingin membuatkan minum untuk kalian!” ajak Frans yang langsung menyeret Rizki.
Saat dibelakang Frans pun menghadapkan Rizki di depannya.
“apa yang kau lakukan?!” tanya Frans kepada Rizki.
“apa maksudmu?!" tanya Rizki yang bingung dengan pertanyaan Frans.
“bagaimana bisa kau sampai menjadi rebutan dua wanita cantik itu?!” tanya Frans dengan pelan.
“apa kau terlalu banyak minum?!” tanya Rizki dengan menyiapkan minuman.
Frans yang mendengar hal itu pun menjadi tertawa dengan tingkah Rizki yang ternyata salah tingkah dengan pertanyaannya.
Rizki dan Frans pun membawa minuman itu kembali ke ruang tengah.
Dimana Dina dan Alice tidak berbicara satu sama lain.
"apa kalian sedang bermusuhan?!" tanya Rizki dengan polos.
"benar kenapa kalian duduk berjauhan seperti itu?!" tanya Frans yang meletakan minuman di meja.
“maaf yah di rumah ini hanya ada minuman seperti ini!” ujar Rizki dengan malu.
“tidak apa ini sudah cukup kok!” jawab Alice dengan ramah.
“itu benar ini sudah cukup!” tambah Dina dengan senyuman.
“apa kalian ingin aku pergi atau?!” ujar Frans dengan menggoda Rizki.
“iyah itu benar!!” ujar Dina dan Alice berbarengan.
Jawaban itu membuat Rizki dan Frans sangat terkejut.
Bagaimana mungkin Frans di usir hanya karena dua wanita ini.
Lagipula Frans pun penasaran dengan pertanyaan Dina dan Alice kepada Rizki.
Terutaman Frans ingin tahu kenapa gadis cantik seperti Dina dan Alice.
Kenapa mereka sangat ingin berdekatan dengan Rizki yang notabenenya adalah keluarga yang kurang mampu dan terkenal karena pecundang di universitas Nozel.