
Frans pun sangat terpaksa harus keluar dari rumah sewa Rizki dan duduk di depan teras rumah itu.
Dengan secangkir teh dan makanan ringan Frans duduk dengan malas di teras rumah sewa Rizki.
“arghh kenapa hari ini sial sekali?!” gumam Frans dengan kesal.
“lagian bagaimana bisa Rizki di perebutkan oleh dua wanita secantik Dina dan Alice!” tambah Frans dengan heran.
Frans berpikir kenapa dia harus ikut terlibat dengan permasalahan seperti ini.
Sedangkan Rizki enak enakan didalam bersama dua gadis cantik.
Sedang serius memikirkan tentang Rizki bersama Dina dan Alice.
Tiba tiba datang sebuah mobil BMW berwarna merah dengan sorot lampu yang mengarah langsung kerumah sewa Rizki.
Dari pintu depan keluar dua orang pria dengan penampilan layaknya seorang penjaga yag langsung menatap kearah Frans.
Meskipun seperti tatapan yang biasa saja.
Namun entah kenapa Frans merasakan ketakutan dengan tatapan itu.
Mereka seperti bukan penjaga biasa karena perawakan dan tatapannya yang berbeda dari penjaga lainnya.
“ada apa lagi ini?!” gumam Frans dalam hatinya.
Tidak lama keluar satu orang pria dengan penampilan elegan dari dalam mobil di bagian belakang.
“jadi ini rumah si pecundang itu?!” tanya Edgar Flick dengan angkuh.
“apa yang kau lakukan Edgar?!” tanya Frans dengan marah.
“itu bukan urusan mu!” ujar Edgar dengan marah.
“dimana Alice wanita rendahan itu?!” tanya Edgar dengan berteriak.
Edgar pun berjalan dengan kedua pengawalnya dengan santai masuk kedalam rumah sewa Rizki.
Frans yang melihat hal itu pun buru buru menghalangi Edgar.
“Alice tidak ada disini!” ucap Frans yang menghalangi Edgar untuk masuk.
Melihat Frans yang menghalangi membuat Edgar tersenyum mengejek.
“aku akan tahu sendiri saat aku masuk kedalam!” ujar Edgar yang tetap memaksa masuk.
Namun karena Frans menghalanginya dengan gigih membuat kesabaran Edgar habis.
Yang dengan spontan menampar wajah Frans dengan keras.
“apa kau sudah gila?!!” tanya Edgar dengan berteriak.
"apa yang kau dapatkan dengan menghentikan kami?!" teriak Edgar dengan keras.
"kau hanya membuang buang tenaga demi orang yang tidak berguna!!" teriak Edgar yang semakin marah.
Edgar pun kembali berjalan masuk tapi lagi lagi Frans datang untuk menghalangi mereka masuk kedalam rumah Rizki.
Frans hanya mengkhawatirkan Rizki karena ini rumah sewa bukan lah rumah miliknya pribadi.
Jika ada masalah maka Rizki harus angkat kaki dari rumah ini.
Itu akan membuat pendidikannya terhambat.
Atau kemungkinan terburuknya beasiswa yang diterima oleh Rizki bisa saja di cabut oleh dermawan dari kota Grozz.
"aku tidak ingin keluarga ku bermasalah dengan keluarga Wicaksono!" ujar Edgar dengan tegas.
Meskipun keluarga Wicaksono bukan lah keluarga yang kuat.
Namun tetap saja banyak orang yang mengatakan bahwa mereka adalah keluarga pertama.
Yang bisa duduk bersama dengan tiga keluarga kuat dari selatan.
Itulah yang menyebabkan banyak yang menghormati bahkan menghindari masalah dengan keluarga Wicaksono.
Pengawal itu pun bergerak dan memukul bagian tengkuk Frans.
Pukulan itu seketika membuat Frans kehilangan kesadarannya.
“saatnya kita masuk!” ujar Edgar dengan angkuh.
Merela pun kembali berjalan masuk kedalam rumah sewa Rizki.
Namun saat berada di dalam Edgar merasa sangat marah dengan apa yang dilihatnya.
Ruangan itu kosong dan bersih seperti tidak pernah ada tamu.
“CULUN!!” teriak Edgar dengan sangat keras.
“cepat hancurkan rumah ini!” perintah Edgar kepada pengawalnya.
“tunggu!” ujar Rizki yang keluar dari belakang rumahnya dengan membawa secangkir teh.
“siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk?!” tanya Rizki yang berpura pura heran.
“apa kalian teman Frans?!” tanya Rizki lebih lanjut.
Edgar yang melihat itu menjadi sangat marah karena telah di permainkan dengan sangat buruk oleh Alice.
Bagaimana bisa Alice benar benar tidak berada di rumah si Culun ini.
Sedangkan dia mendengar sendiri bahwa Alice mengajak Frans untuk pergi kerumah Rizki.
"Dimana Alice?!" tanya Edgar dengan pelan.
"Alice? Memangnya Alice mau kerumah ini?!" tanya Rizki yang bingung.
Mendengar jawaban itu membuat Edgar menjadi sangat marah.
"apa kau sedang berpura pura?!" teriak Edgar yang mulai kehilangan kesabaran.
Rizki yang melihat itu menjadi sangat takut.
"aku benar tidak mengetahuinya!" ujar Rizki dengan gemetar.
"tadi hanya Frans yang datang kerumah ku!" tambah Rizki yang ketakutan.
Edgar yang mendengar penjelasan dari Rizki.
Berjalan dengan pelan dan manampar wajah Rizki dengan keras.
"apa kau ingin membodohi aku?!!" teriak Edgar yang sangat marah.
Rizki yang mendapat tamparan itu langsung terjatuh.
"aku benar tidak tahu semua yang kau maksudkan tuan!" ujar Rizki yang menjelaskan dengan gemetar.
"Pukuli dia sampai mengakui semuanya!!" teriak Edgar yang emosi.