Penguasa Culun

Penguasa Culun
Dian dan Putri


Rizki yang melihat Bryan membawakan hadiah untuknya.


Membuat Rizki sedikit tidak enak hati jika harus menerimanya.


“ini terima hadiah dari ku!” ujar Bagas dengan memberikan hadiah itu.


“aku tidak pantas mendapatkannya!” ucap Rizki yang menolak hadiah dari Bagas.


“kenapa? Apa hadiah dari ku ini kurang?!” tanya Bagas kepada Rizki.


“bukan seperti itu, aku hanya merasa tidak pantas mendapatkannya!” jawab Rizki dengan tegas kepada Bagas.


“tidak perlu memikirkan ini semua!” ujar Bagas dengan cepat.


“aku memberi ini kepadamu, karena aku sudah menganggap mu sebagai keponakan ku!” ujar Bagas dengan tersenyum.


Rizki yang mendengar hal itu pun menjadi tersenyum senang.


Hingga akhirnya Rizki pun bersedia menerima hadiah itu.


Rizki pun memegang hadiah yang diberikan oleh Bagas kepadanya.


Bagas yang melihat hal itu pun menjadi sangat senang.


“saat ini kamu adalah bagian dari keluarga kami!” ujar Bagas kepada Rizki dengan tersenyum.


“itu benar, jangan ragu jika ingin meminta bantuan kepada kami!” tambah Bryan dengan tegas.


Perasaan hangat yang terus datang sejak awal Rizki berada disini.


Hingga hadiah yang di berikan membuat Rizki sedikit emosional.


“baiklah, terimakasih banyak!” ujar Rizki dengan hormat kepada Bagas.


“baiklah paman, aku ingin ijin untuk pulang!” ucap Rizki dengan tersenyum.


“apa kau ingin diantar, Bryan tolong siapkan mobil dan tolong antar Rizki!” perintah Bagas yang tanpa menunggu persetujuan dari Rizki.


“ehh tunggu paman, kau tidak perlu mengantarku!” ujar Rizki dengan bingung.


“sudah tidak apa apa, kau tidak perlu sungkan dengan keluargamu lagi!” ucap Bagas dengan tersenyum.


Rizki yang mendengar ucapan Bagas menjadi sedikit terharu dengan keadaan ini.


Karena sudah lama Rizki tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga.


Dimana setiap orang menjaga satu sama lain dan berbagi satu sama lainnya.


Apalagi Rizki merupakan anak yang sedari kecil sudah di tinggalkan oleh orang tuanya.


Rizki tumbuh hanya bersama dengan kakeknya yang selalu merawatnya dan mengajarinya berbagai macam keahlian dan ilmu pengetahuan.


“baiklah paman, sekali lagi terimakasih atas semua kebaikan paman!” ujar Rizki dengan hormat kepada Bagas.


Rizki pun pulang ke rumah sewanya dengan diantar oleh Bryan.


Menggunakan mobil Ferarri yang di miliki oleh Bagas.


Disepanjang perjalanan Rizki tidak berhenti takjub dengan kemewahan dari Ferarri ini.


Apalagi Bryan memberi penjelasan tentang kemewahan dari mobil Ferarri ini.


Saat tiba di depan rumah sewanya ternyata telah menunggu tiga orang wanita cantik yang melihat semua kejadian tadi.


Rizki yang melihat bahwa di depan rumah sewanya sedang berdiri dengan bingung tiga orang wanita.


Membuat Rizki terkejut, karena hanya dua orang yang mengetahui rumahnya, yaitu Tyson dan Frans.


“sepertinya akan merepotkan!” gumam Rizki pelan.


“kenapa kalian bisa ada di sini?!” tanya Rizki dengan heran.


“tunggu dulu kenapa kau baru turun dari Ferarri itu?!” tanya Putri langsung kepada Rizki.


“itu mobil teman ku, aku tidak sengaja menumpang dengan nya saat jalan pulang!” jawab Rizki dengan asal.


“apa kau pikir kami bodoh!” ujar Dian dengan marah.


“benar, siapa yang ingin mobilnya di tumpangi oleh orang sepertimu?!” hina Putri kepada Rizki.


Dina yang melihat itu pun hanya diam saja.


Karena Dina sudah mengetahui siapa Rizki sebenarnya.


Walaupun Rizki masih menjadi sosok yang membuat semua orang penasaran.


Karena kepribadian sehari harinya yang selalu menjadi orang culun.


Membuat banyak orang menganggap bahwa Rizki bukan lah sosok yang harus mereka hargai.


Namun semua itu berbeda di hadapan Dina.


Dan berbeda dengan teman satu kelasnya yang masih menghargai Rizki.


Kecuali dua orang yang selalu menganggap rendah Rizki, yaitu Dian dan Putri.


Putri saat ini datang untuk mengajak Rizki.


Sekaligus ingin berniat mempermalukannya di depan teman temannya yang lain.


Namun karena kedatangan Rizki yang turun dari Ferarri membuat tempramen Putri dan Dian semakin parah terhadap Rizki.


“sudah lah aku tidak ingin ikut!” ujar Rizki dengan malas.


Dina pun merasa bersalah dengan tanggapan Rizki atas ucapan sahabat sahabatnya.


“sudah lah, bukan kah kita kesini hanya ingin mengajak Rizki makan malam!” ucap Dina menenangkan kedua sahabatnya.


“lagi pula aku sangat lelah dan perlu istirahat!” ujar Rizki yang mulai membuka gerbang rumahnya.


“apa kau malu karena tidak akan sanggup untuk membayar semua makanan mu?!” ledek Putri kepada Rizki.


“itu benar, jadi kau tidak ingin ikut kami!” tambah Dian dengan mengejek.


“Rizki mari ikut, aku yang akan mentraktir semua makanan mu!” ujar Dina dengan tersenyum.


“Dina apa yang kau lakukan?!” ujar Putri tidak setuju.


“apa yang di lakukan oleh si culun ini kepada mu?!” tanya Dian yang merasa heran.


“tidak terimakasih, aku hanya ingin istirahat karena besok kita ada ujian!” tolak Rizki dengan halus.


“terimakasih atas kebaikan mu Dina!” tambah Rizki yang masuk kedalam rumah.