Penguasa Culun

Penguasa Culun
Perjudian yang Mengundang Maut


Pria bertopeng itu keluar dengan langkah gontai seolah merasakan kelelahan yang sangat kuat.


"Teman, aku berhasil membunuhnya!" Ujar Pria bertopeng itu dengan tersenyum.


Rizki yang melihat itu segera berlari dan menahan Pria bertopeng itu agar tidak terjatuh.


"Bagaimana bisa temanku menjadi babak belur seperti ini!" Ujar Rizki dengan tersenyum.


Pria bertopeng itu berjalan dengan di bantu oleh Rizki.


"Aku tidak seperti mu yang memiliki fisik tidak masuk akal!" Ujar Pria bertopeng itu dengan tertawa.


"Sepertinya luka mu masih belum cukup parah!" Ujar Rizki yang berpura pura ingin memukul.


"Aku minta maaf!!" Ujar Pria bertopeng itu yang mencoba melindungi kepalanya.


"Kenapa kau minta maaf, aku hanya ingin mengecek keadaan kepalamu!" Ujar Rizki yang tertawa geli.


Pria bertopeng itu hanya mendengus kesal karena telah di permainkan oleh Rizki.


"Dasar sialan, jika aku bisa melebihi kemampuannya akan ku pukul dia nanti!" Gumam Pria Bertopeng itu dalam hati.


Rizki yang melihat itu hanya tertawa dengan gembira.


***


Sementara di Kota Nozel, Luis Braga dan Bagas masih saja berseteru tanpa memulai pertikaian.


Bagas terlihat seperti mengulur ngulur waktu dan Luis Braga terkesan menunggu apa yang akan Bagas lakukan.


Meskipun dia tahu, jika mereka bertarung maka mereka akan menang dengan mudah.


Namun Luis Braga sadar jika Bagas bukanlah orang bodoh yang datang tanpa persiapan apa apa.


Terlebih jumlah mereka kalah jauh di bandingkan dengan Bagas dan anak buahnya.


"Apa yang kita tunggu Tuan?!" Tanya Gordon yang terlihat tidak sabar.


"Sabar, aku merasa ada yang tidak benar disini?!" Ujar Luis Braga dengan tenang.


"Apa yang sebenarnya dia rencanakan, aku belum mengetahuinya!" Ujar Luis Braga kepada Gordon.


"Tidak adanya pria bertopeng dan pemuda itu bukan kah ini sangat aneh?!" Tanya Luis Braga kepada Gordon.


Gordon yang mendengar itu pun terdiam seolah menyadari jika apa yang dikatakan oleh Tuannya adalah benar.


Karena ini akan menjadi bencana besar jika Keluarga Saputra bertarung tanpa petarung terbaiknya.


Pemuda itu adalah sosok yang paling di waspadai oleh mereka semua.


Selain karena telah membuat dirinya koma selama beberapa minggu !


Pemuda itu juga berhasil membunuh Larrson dan membuat Thalita menjadi tidak waras.


Bahkan Victor dan Yuan di temukan mati, bersamaan dengan tewasnya Roman Braga alias Bryan.


Banyak orang yang mengira jika Keluarga Saputra akan menjadi sangat lemah karena kematian Bryan.


Namun justru mereka lah yang membunuh Bryan karena telah berkhianat kepada mereka.


Sekarang, seorang seperti Luis Braga saja harus berhati hati dalam bertarung melawan Keluarga Saputra.


Ketidak hadiran satu pemuda itu benar benar mengubah pandangan beberapa orang kepada Keluarga Saputra.


"Tuan, Kita ikuti saja semua permainan mereka!" Ujar Gordon kepada Luis Braga.


Luis Braga yang mendengar itu pun sedikit mengangguk tanda setuju.


Bagas tersenyum melihat semua ekpsresi Luis Braga dan koleganya.


"Seperti dugaan Rizki, ternyata kehadiran keponakan ku benar benar di nanti oleh mereka!" Gumam Bagas dengan tersenyum.


"Aku tidak tahu apa yang telah Rizki lakukan hingga membuat mereka waspada karena keberadaan keponakan ku!" Gumam Bagas dalam hatinya.


***


Sementara itu, Tuan Ardiansyah sudah sampai di perbatasan Kota Nozel.


Supirnya berkendara sangat cepat seolah olah dia juga merasakan ketakutan.


Namun yang tidak Tuan Ardiansyah sadari adalah, supir nya saat ini bukan lah supir pribadi nya.


Tapi dia adalah Jhon, salah satu pemimpin kawanan Singa yang di miliki oleh Keluarga Saputra.


"Tuan, sebentar lagi kita akan memasuki pusat kota Nozel!" Ujar Jhon dengan tenang.


"Akhirnya aku bisa terbebas dari mereka semua, sekarang kita harus menuju kediaman keluarga Saputra!" Ujar Tuan Ardiansyah dengan cepat.


"Baik Tuan!" Ujar Jhon yang langsungĀ  menancap gas mobil itu.


Tidak lama setelah itu, mobil Tuan Ardiansyah pun telah tiba di depan Rumah keluarga Saputra.


Tuan Ardiansyah tampak terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


Bagas sedang menjamu Luis Braga bersama Gordon dan Silverus dengan sangat baik.


Seolah olah mereka telah lama tidak bertemu dan terpisah cukup jauh.


Tuan Ardiansyah awalnya tidak percaya dengan perkataan Rizki.


Karena, Luis Braga tidak mungkin mengkhianati keluarganya sendiri.


Keluarga Braga dan Keluarga Saputra adalah musuh abadi yang di wariskan secara turun temurun.


Namun, apa yang terjadi dengan permusuhan itu?


Luis Braga tertawa melihat Bagas dan mereka bertukar anggur tanpa ada beban di hati mereka.


"Sialan kau Luis Braga!" Ujar Tuan Ardiansyah dengan sangat marah.


Aura yang di keluarkannya benar benar berbeda sangat jauh dari awal saat dia merasa di tekan oleh Rizki.


Jhon pun sedikit mulai menelan ludah karena tidak menyangka jika Tuan Ardiansyah memiliki aura semenakutkan ini.


"Aura ini, seperti milik Master Rey!" Ujar Jhon yang sedikit ketakutan.


Dia merasakan hawa dingin yang menusuk di tubuh bagian belakangnya.


Tuan Ardiansyah segera keluar dari mobil dan bergerak dengan sangat cepat.


Dia berniat menyerang langsung kearah Luis Braga.


Aura yang di keluarkan benar benar mengejutkan semua orang yang ada di halaman depan Keluarga Saputra.


"Apa yang di lakukan si tua bodoh itu disini!" Ujar Luis Braga dalam hatinya.